Wednesday, May 19th, 2010 16:11 by
agroindonesia
Print this pageKementerian Pertanian mengajukan anggaran Rp40 miliar ke Kementerian Keuangan untuk membantu petani yang lahan padinya terkena serangan wereng batang cokelat (WBC). Dana itu untuk mengganti kehilangan pendapatan petani dalam satu kali tanam. Bantuan itu di luar bantuan pupuk dan benih.
“Kita sudah ajukan dana sebesar Rp40 miliar ke Menteri Keuangan untuk membantu petani yang terserang hama,” kata Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi saat Workshop Nasional Wereng Batang Cokelat di Jakarta, Rabu (19/5).
Bayu mengakui, meski secara nasional luasan serangan WBC masih kecil, tapi bagi petani sangat merugikan. Sebab, mereka kehilangan pendapatan satu kali tanam. “Serangan wereng yang ada meski kecil, tapi bagi petani yang terkena sangat merugikan. Apalagi luasan wilayah yang terserang sudah lebih besar dibandingkan beberapa tahun terakhir,” katanya.
Data Ditjen Tanaman Pangan hingga 14 Mei luas serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) pada tanaman padi selama musim hujan (Oktober-Maret) mencapai 188.282 ha dan yang puso 1.075 ha. Serangan terluas berada di Jawa Barat, Jawa Timur dan Jawa Tengah.
Hama WBC telah menyerang tanaman padi seluas 20.989 ha (128 ha puso), tikus 61.316 ha (puso 821 ha), hama kresek 30.787 ha dan penggerek batang seluas 54.171 ha (puso 33 ha). Dibandingkan periode 2008/2009, luas serangan hama masih lebih rendah. “Jika dibandingkan dengan total areal pertanaman padi yang mencapai 7-8 juta hektar memang tidak ada apa-apanya. Tapi tetap harus kita waspadai,” kata Bayu.
Bayu memprediksi ada empat faktor yang menyebabkan serangan wereng patut diwaspadai. Pertama, adanya perubahan iklim yang membuat perbedaan suhu siang dan malam tinggi mendorong perkembangan wereng dengan cepat. “Faktor iklim berpengaruh besar dalam maraknya wereng dan terjadi outbreak hama,” katanya.
Kedua, akibat iklim kini penanaman padi menjadi tidak serempak seperti dulu. Kalau dicermati, maka kondisi ini memang bagus untuk stabilisasi harga karena produksi padi ada setiap saat. Sebaliknya dari sisi budidaya tanaman justru membuat siklus wereng berkelanjutan.
Ketiga, pemerintah tengah mempelajari dugaan beberapa varietas padi hibrida yang tidak tahan wereng. Saat ini memang belum diketahui jenis padi hibrida apa yang terserang wereng. Karena itu pemerintah akan mengatur dan mengevaluasi lagi hibrida yang diintroduksi dari luar negeri.
Faktor keempat, petani sepertinya lupa dalam menangani hama wereng. Sebab, hama ini sudah jarang muncul dalam 10 tahun terakhir. Ada juga dugaan petani menggunakan pestisida yang tidak mampu mencegah wereng.
Bayu menegaskan, serangan hama wereng yang terjadi kali ini dikuatirkan membawa virus kerdil hampa dan kerdil rumput. Virus tersebut dampaknya sangat parah terhadap tanaman padi karena membuat padi kering, layu dan seperti terbakar.
“Ini harus kita antisipasi karena Indonesia punya pengalaman serangan wereng cukup besar. Karena itu kita harus waspada, jangan anggap enteng dan harus serius. Padamkan api mumpung masih kecil,” tegasnya. Julian