Sikap pemerintah Indonesia masih mendua dalam pengembangan bioteknologi. Di satu sisi, pemerintah mengijinkan impor produk makanan hasil bioteknologi. Tapi di sisi lain, pemerintah justru belum membuka pengembangan bioteknologi secara luas. Demikian pengakuan Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi saat membuka kongres Asosiasi Benih Indonesia (Asbenindo) di Jakarta, Selasa (18/5).
“Sampai kini kita belum bersikap, bioteknologi mau diapakan? Kita masih mendua, pemerintah membolehkan impor produk benih dan hasilnya. Tapi ketika ada yang ingin mengembangkan transgenik banyak yang protes,” kata Bayu.
Namun demikian, Bayu juga mengakui, dalam pengembangan bioteknologi harus hati-hati. Misalnya, ketika pemerintah mengijikan pengembangan teknologi hibrida untuk tanaman padi. Di satu sisi memang mampu meningkatkan produksi, tapi kini justru menimbulkan masalah.
Contohnya, kini ada dugaan serangan hama wereng di sejumlah sentra produksi padi karena penanaman padi hibrida yang tidak tahan hama. Padahal selama 10 tahun terakhir tidak pernah ada serangan hama tersebut. “Ini tantangan utama kita untuk meningkatkan produksi,” ujarnya.
Sementara itu Ketua Umum Asbenindo, Elda D Adiningrat mengatakan, industri benih harus siap menerima bioteknologi. Apalagi pengembangan benih tidak bisa lepas dari teknologi. “Kendalanya saat ini adalah persoalan kesiapan, baik aparat pemerintah dan pelaku usaha. Pemerintah juga harus membuat aturan pengembangan bioteknologi,” katanya.
Produk bioteknologi yang sudah banyak berkembang adalah untuk benih hortikultura, terutama tanaman hias. Sebab benih tanaman hias tidak banyak terkait dengan produk pangan yang banyak dikuatirkan banyak pihak.
Sedangkan benih bioteknologi untuk komoditi pangan yang sudah berkembang di dunia adalah jagung dan kedelai. Namun di Indonesia Elda mengakui, masih terjadi tarik ulur. Akibatnya bioteknologi untuk tanaman pangan belum banyak berkembang dan masih tahap penelitian.
Pada kesempatan itu, Bayu mengatakan, peran peningkatan produksi tidak lepas dari penggunaan benih unggul. Misalnya, pada tahun 2007 penggunaan benih unggul padi masih 39% dan produksi padi hanya sekitar 53 juta ton gabah kering giling (GG). Tapi pada 2009 penggunaan benih unggul naik menjadi 62,8%, produksi padi meningkat hingga 63 juta ton GKG.
Begitu juga produksi jagung. Pada 2007 penggunaan benih unggul masih 35%, produksinya sebanyak 11-12 juta ton. Tapi ketika penggunaan benih unggul naik 65,43%, produksi jagung pun melonjak hingga 17,6 juta ton. “Jadi peningkatan produksi itu lebih banyak karena faktor benih unggul,” tegas Mantan Deputi bidang Kelautan dan Pertanian Menko Perekonomian. Julian
pupuk organik : Pada saat ini, pemahaman produk pertanian telah berkembang dari pemahaman mengenai peningkatan kuantitas untuk mencukupi kebutuhan pangan kepada pemahaman peningkatan kualitas dan keamanan pangan.