Peran produk komoditas sayur mayur dan buah-buahan Indonesia di pasar internasional masih rendah dan cenderung mengalami penurunan. Hal ini bisa dilihat dari share produk sayur mayur dan buah-buahan asal Indonesia di Singapura.
Berdasarkan data Kamar Dagang dan Industri (Kadin), share ekspor produk Indonesia ke Singapura terus mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2009, share produk sayur mayur dan buah-buahan Indonesia di Singapura hanya 6%.
Kebutuhan sayur mayur dan buah-buahan di Singapura sebesar 1.300-1.500 ton/hari. Di mana kebutuhan tersebut diisi oleh beberapa negara. Yang terbesar adalah China sebanyak 28%, dan Malaysia 43% sedang Indonesia baru mengisi 6%. Padahal, beberapa tahun sebelumnya, share produk sayur mayor dan buah-buahan Indonesia di pasar Singapura mencapai angka 32%.
Menurunnya share produk sayur mayur dan buah-buahan Indonesia disebabkan banyak hal. Berdasarkan hasi riset Lembaga Penelitian Independen Frost & Sullivan, ada temuan-temuan menarik terkait produk buah dan sayur Indonesia yang tidak kompetitif di pasar Singapura.
Hasil survei yang dilakukan pada tahun 2009 itu menunjukkan adanya tren perusahaan-perusahaan logistik yang kurang berminat mengangkut produk sayur dan buah-buahan karena memiliki risiko tinggi dengan margin yang tipis.
Dari 112 perusahaan yang disurvei, hanya ada 12% yang masih mau mengangkut produk ekspor sayur dan buah-buahan dari Indonesia, selebihnya lebih berminat mengangkut produk-produk furnitur atau produk-produk yang tak memiliki risiko rusak yang tinggi.
Selain itu, masa pengiriman dari Indonesia ke Singapura relatif lama. Misalnya berdasarkan hasil penelitian, pengiriman sayur dan buah dari Jawa Timur ke Singapura melalui kapal memakan waktu 72-90 jam dan lewat udara 18 jam.
Untuk Jawa Tengah melalui kapal 72-84 jam dan melalui udara 12 jam. Jawa Barat masa pengiriman 60-72 jam melalui kapal laut dan 12 jam melalui udara, Kepulauan Riau 36-48 jam melalui kapal dan 9 jam melalui udara, Sumatera Utara 72 jam lewat kapal laut dan 12 jam melalui udara.
Kalahnya sayuran Indonesia oleh negara lain terutama China di pasar Singapura, antara lain juga dikarenakan tax rebate yang diberikan negara China kepada eksportirnya. Tax rebate merupakan pengembalian biaya ekspor sebesar 5% setiap tiga bulan sekali kepada para petani oleh pemerintah China.
Tentunya hasil fakta mengenai penurunan share produk sayur mayur dan buah-buahan Indonesia di Singapura serta hasil survei yang dilakukan sebuah lembaga survei, dapat dijadikan bahan kajian bagi pemerintah dan petani untuk mengintrospeksi diri.
Pemerintah perlu melakukan kajian mengenai kebijakan-kebijakan yang diperlukan untuk memperbaiki share produk sayur mayur dan buah-buahan Indonesia di pasar internasional.
Begitu juga petani, mereka harus mampu meningkakan kualitas produk sayur mayur dan buah-buahan yang dihasilkan, baik dari sisi higienitas maupun kesegarannya.
Jika pemerintah dan petani mampu melakukan sinergi, bukan tidak mungkin produk sayur mayur dan buah-buahan Indonesia akan berjaya di pasar internasional dan menjadi tuan rumah di pasar nasional.