Wednesday, June 9th, 2010 08:11 by
agroindonesia
Print this page
Pemerintah perlu mendorong pengembangan industri hilir dari komoditas pertanian dan perkebunan guna menghindari adanya dominasi buyer terhadap komoditas hulu Indonesia.
“Pengembangan industri hilir di komoditas pertanian dan perkebunan harus digiatkan. Kita memiliki bahan baku banyak, seperti kelapa sawit,” kata Guru Besar Ilmu Ekonomi Pertanian Unila, Bustanul Arifin, dalam diskusi yang digelar Forum Wartawan Industri (Forwin), di Jakarta, Selasa (8/6).
Menurutnya, Indonesia perlu mencontoh Malaysia yang berhasil mengembangkan industri hilir pada komoditas karet. Negara jiran itu benar-benar memanfaatkan keunggulannya sebagai produsen terbesar karet dunia dengan menjadi pemasok utama di dunia untuk produk hilir dari komoditas itu, yakni sarung tangan operasi..
Bustanul mengatakan, Indonesia juga bisa mengikuti jejak Malaysia dengan mengoptimalkan penggunaan bahan baku kelapa sawit untuk memproduksi komoditas hilir dari kelapa sawit.
Dengan produksi kelapa sawit sekitar 20 juta ton per tahun, ungkapnya, Indonesia berpeluang besar untuk menjadi negara produsen utama komoditas-komoditas hilir dari kelapa sawit.
“Mungkin diperlukan waktu 10 hingga 15 tahun untuk mencapainya,” ujarnya.
Dijelaskan Bustanul, semua itu berpulang kepada sikap pemimpin di negeri ini untuk melakukan aksi politik, ekonomi untuk mereposisi produk hilir kelapa sawit.
“Jika tidak, hingga 20 tahun mendatang, kita hanya akan berkutat pada masalah-masalah yang saat ini dialami oleh pengusaha perkebunan kelapa sawit,” katanya.
Bustanul menyatakan, langkah awal yang dapat dilakukan pemerintah untuk mensinergikan komoditas hulu dan komoditas hilir pada komoditas kelapa sawit adalah dengan membuat standar nasional.
“Kita perlu membuat ISPO sebagai standar kegiatan usaha pada komoditas sawit di dalam negeri,” ujarnya. Buyung