Friday - June 18th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Cheetam Bangun Industri Garam di NTT
Post Info Friday, June 18th, 2010 06:49 by agroindonesia Print Print this page

Pasokan garam industri dari produsen garam nasional akan mengalami peningkatan. Pasalnya, pemerintah telah menggandeng investor asal Australia untuk menanamkan investasinya di sektor industri garam dalam negeri.

Adapun investor asal Australia yang akan terjun ke sektor industri garam itu adaah Cheetam Salt Ltd. Perusahaan ini akan menggandeng Pemda NTT untuk menggarap lahan garam di Kabupaten Nagekeo Nusa Tenggara Timur (NTT) seluas 2.100 hektar.

”Masuknya investor adari Australia ini akan menambah produksi garam lokal akan ada sistem plasma inti,” kata Menteri Perindustrian MS Hidayat di sela penandatanganan MoU antara Cheetam Salt dengan Bupati Nagakeo di Kemenperin, Kamis (17/6).

Menurut Menperin, jika kerjasama ini sudah direalisasikan maka akan ada tambahan produksi garam nasional sebesar 250.000 ton per tahun. Diharapkan akan terserap 2000 tenaga kerja dari realisasi kerjasama ini.

Selain itu, pihak Cheetam juga akan memberikan pembinaan teknologi garam kepada petani rakyat. Nantinya produksi garam di NTT tersebut akan diolah di pabrik garam Cheetam di Cilegon.

Sementara itu CEO Cheetam Salt Andrew Speed mengatakan pihaknya saat ini sudah berinvestasi pabrik pengolahan garam di Cilegon sebesar 3 juta dollar Australia. Mengenai kemungkinan pembangunan pabrik di NTT, Andrew mengatakan pihaknya masih memfokuskan pada realisasi kerjasama menggarap 2100 hektar lahan garam di NTT.

“Kita masih perlu lakukan studi kelayakan selama 12 bulan,” katanya.

Sedangkan Bupati Nagakeo Johanes Samping Aoh mengatakan lahan yang disiapkan pemda merupakan lahan rakyat. Lahan seluas 2100 hektar itu akan menjadi sentra produksi garam.

“Pemda tugasnya melakukan pendekatan agar tanah milik masyarakat bisa diguanakan,” kata Johanes.

Berdasarkan data Kemenperin, produksi garam Indonesia rata-rata pertahun hanya mencapai 1,1-1,4 juta ton sementara kebutuhan garam lebih besar yaitu 2,985 juta ton artinya Indonesia masih banyak mengimpor garam. Bahkan pada tahun 2015 diperkirakan kebutuhan garam dalam negeri mencapai 5 juta ton karena didorong oleh peningkatan permintaan garam industri dan rumah tangga. Buyung

Leave a Reply