Pemerintah diperkirakan bakal membuka keran impor gula tambahan menyusul anomali cuaca akibat perubahan iklim yang berbuntut mundurnya musim giling dan anjloknya rendemen tebu petani. Tanda-tanda itu mulai terbaca ketika Dewan Gula Indonesia (DGI) segera menghitung ulang perkiraan produksi (retaksasi) gula konsumsi pekan depan.
Dari informasi yang ada, sampai akhir Juni 2010 produksi gula hasil giling baru — yang biasanya dimulai sejak Mei — baru tercatat 300.000 ton. Dari jumlah itu, pabrik-pabrik gula (PG) di Jawa yang banyak melibatkan tebu milik petani hanya menyumbang 100.000 ton, sementara sisa 200.000 ton datang dari PG di Lampung.
Mundurnya musim giling akibat curah hujan di atas normal pada musim kemarau ini jelas mengkhawatirkan. Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) juga sudah meramal anomali tersebut akan berlangsung hingga November 2010 akibat fenomena La Nina. Rendemen tebu pun jadi taruhan, yang akan berbuntut rontoknya produksi gula. Kondisi ini sudah mulai terbukti ketika petani menuntut PG-PG menaikkan angka rendemen.
Tenaga ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Celosewoko mengaku produksi gula akan turun hingga 10% jika hujan masih berlangsung sampai Juli ini. Mengacu angka itu, berarti produksi gula PTPN IX, X, XI serta RNI yang berkebun tebu dan bermitra dengan petani di Jawa diperkirakan akan turun sekitar 144.000 ton.
Perkiraan rontoknya produksi gula ini yang harus segera diwaspadai. Apalagi, Agustus sudah masuk Ramadhan. Jangan biarkan pedagang dan spekulan bermain akibat ketidaksiapan pemerintah. AI