Tuesday - July 13th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Produksi Gula Terancam
Post Info Tuesday, July 13th, 2010 11:16 by agroindonesia Print Print this page

Upaya pemerintah menggapai swasembada gula ternyata tak semudah membalikkan telapak tangan. Jalan terjal kini menghadang peningkatan produksi gula. Salah satu penghadang utama peningkatan produksi gula tahun ini adalah anomali iklim.

Jika merunut program pemerintah untuk meningkatkan produksi gula nasional, maka selama periode 2003-2008 menunjukkan nilai positif. Secara nasional terjadi peningkatkan produksi sangat siginifikan dengan persentase kenaikan rata-rata 13,44% pertahun. Artinya produksi gula yang pada 2003 hanya 1,62 juta ton naik menjadi 2,7 juta ton pada 2008.

Namun pada tahun lalu, produksi gula gagal mencapai target sebanyak 2,7 juta ton karena hanya menembus angka 2,62 juta ton. Tahun ini pemerintah kembali meningkatkan sasaran produksi sebanyak 2,9 juta ton. Tapi kondisi iklim yang tak bersahabat membuat produksi si pemanis diprediksi tak mampu mencapai sasaran lagi.

Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi mengakui, perubahan iklim kini kian cepat. Misalnya, pada awal tahun 2010, Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) memperkirakan terjadi El Nino. Namun hasil pemantauan BMKG dan beberapa lembaga pemantau iklim internasional justru kini yang terjadi adalah La Nina basah. “Dengan iklim kemarau basah beberapa produksi pertanian bisa terganggu,” katanya.

Salah satu komoditi pertanian yang terpengaruh cukup besar adalah produksi gula. Musim hujan di sentra produksi tebu menurut Bayu, membuat tanaman yang harusnya sudah masuk masa panen terpaksa tertunda. Hal ini membuat rendemen (kadar nira) tebu menjadi turun.

Karena itu guna mengantisipasi agar produksi gula tidak turun jauh, pemerintah meminta industri gula mendorong peningkatan rendemen di pabrik. “Yang bisa kita lakukan adalah meningkatkan efisiensi pabrik gula dengan mengejar rendemen dari sudut pengolahan. Jadi tidak lagi dari sisi tanaman karena akan sulit,” tuturnya.

Retaksasi produksi gula

Direktur Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Agus Hasanuddin juga mengakui, curah hujan yang cukup tinggi bisa membuat produksi gula turun. Sebab kadar gula pada tanaman tebu turun karena kurang mendapat sinar matahari.

Guna memastikan produksi gula tahun ini, kata Agus, Dewan Gula Indonesia (DGI) rencananya akan mengadakan pertemuan pada pertengahan Juli mendatang untuk menghitung kembali taksasi (retaksasi) produksi. Sebelumnya, pada Desember 2009 di Lampung, DGI menetapkan taksasi produksi sebanyak 2,72 juta ton. “Kita berharap musim hujan tidak membuat produksi turun terlalu banyak. Dalam rapat nanti kita akan lihat secara riil di pabrik gula,” katanya.

Tenaga ahli Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Colosewoko juga tak menyangkal jika musim hujan yang masih mengguyur sejumlah sentra produksi tebu membuat waktu giling pabrik gula (PG) di Jawa mundur. Kondisi itu bisa berpengaruh terhadap produksi gula.

Hal itu terlihat dari produksi gula hingga akhir Juni lalu yang baru sekitar 300.000 ton. Dari jumlah tersebut ternyata pasokan gula lebih banyak berasal dari PG di Lampung yang mencapai 200.000 ton. ”Terlihat bagaimana produksi gula di Jawa masih relatif sedikit,” ujar Colo kepada Agro Indonesia.

Jika hujan masih terus berlanjut hingga akhir Juli, maka pengaruhnya terhadap produksi gula akan sangat besar. Sebab, rendeman tebu akan turun. ”Kalau hujan terus-menerus, produksi gula bisa turun hingga 10%. Tapi kalau Juli ini sudah berhenti, kemungkinan hanya turun 5% saja,” paparnya.

Senada dengan Agus, Colo juga mengakui, DGI akan menghitung kembali taksasi gula pada 23 Juli mendatang. Biasanya DGI membuat taksasi pada Desember dan Maret. Kemudian pada pertengahan musim giling, yakni Agustus, DGI mengadakan evaluasi terhadap produksi PG.

Namun, dengan kondisi iklim yang masih ada hujan dan dikhawatirkan mempengaruhi produksi, DGI akan melakukan retaksasi. Tujuannya bukan hanya ingin mengetahui kondisi produksi pada awal musim giling, tapi juga pemerintah bisa menghitung kemungkinan impor gula.

Sebelum pemerintah memutuskan volume impor, pada pertengahan musim giling 2010, yakni September mendatang, akan dilakukan evaluasi kondisi giling gula. ”Dengan demikian, pada Oktober sudah ada keputusan. Apakah akan dilakukan impor gula atau tidak. Jika keputusannya impor, maka produsen gula bisa bersiap melakukan tender impor,” tutur Colosewoko.

Kekhawatiran terhadap produksi gula juga diungkapkan Sekretaris Perusahaan PT Perkebunan Nusantara (PTPN) XI, Adig Suwandi. Kalangan PG dan petani tebu, kata Adig, kini merasakan dampak anomali iklim. Hujan berkepanjangan sampai Juni berdampak kurang menguntungkan terhadap pembentukan gula melalui aktivitas fotosintesis dan tertundanya kemasakan tebu.

“Tidak mengherankan kalau tebu tertebang sekarang sulit mencapai kadar gula atau rendemen ideal minimal 7%, bahkan untuk mencapai 6% saja sangat jarang ditemukan,” ujarnya.

Bahkan, tambah Adig, penundaan awal masa giling oleh PG di Jawa dari minggu pertama sampai minggu keempat Mei pun belum mampu menolong keadaan. “Inilah yang dikhawatirkan banyak pihak potensial mempengaruhi produksi gula nasional, sehingga target 2,9 juta pun terancam,” tegasnya.

Perubahan iklim global memang tak dapat dihindari. Kini yang dapat dilakukan pelaku usaha tebu hanyalah mengurangi dampak yang ditimbulkan melalui adaptasi dan mitigasi. Dalam jangka panjang, pelepasan varietas tahan perubahan iklim merupakan salah satu solusi, diikuti praktik budidaya terbaik.

Agus mengungkapkan, sebagai antisipasi perubahan iklim yang kian sulit diprediksi, pemerintah akan bekerjasama dengan Pusat Penelitian Perkebunan Gula Indonesia (P3GI) guna mencari tanaman tebu yang tahan air. “Saat ini yang ada adalah tanaman tebu yang tahan kekeringan,” katanya. Julian

Proyeksi Kebutuhan Gula

No

Jenis gula

2009

2010

2011

2012

2013

2014

1

GKP*)

2.700.000

2.749.410

2.799.724

2.850.959

2.903.132

2.956.259

2

GKR**)

2.150.000

2.247.500

2.370.375

2.488.894

2.613.338

2.744.005

Jumlah

4.850.000

5.006.910

5.170.099

5.339.853

5.516.470

5.700.264

3

Raw sugar

a. IGR

b. Lainnya***)

2.365.000

300.000

2.483.250

300.000

2.607.413

300.000

2.737.783

0

2.874.672

0

3.018.406

0

Sumber: Ditjen Tanaman Pangan

Keterangan:

*) Pertumbuhan kebutuhan Gula Kristal Putih (GKP) untuk konsumsi langsung diasumsikan setara dengan pertumbuhan penduduk 1,23%/tahun dan peningkatan daya beli 0,6%/tahun

**) Pertumbuhan kebutuhan Gula Kristal Rafinasi (GKR) untuk industri diasumsikan tumbuh 5%/tahun

***) kebutuhan industri lainnya (MSG, suplemen pakan ternak, gula cair, dll) diperkirakan turun dengan meningkatnya produksi tetes tebu/molasess.

Taksasi Desember Luas Areal, Jumlah Tebu dan Produksi Hablur

Perusahaan (PG)

Luas areal (ha)

Hablur (ton)

1

2

3

4

5

6

7

8

9

10

PTPN II

PTPN VII

PTPN IX

PTPN X

PTPN XI

PTPN XIV

PG Rajawali I

PG Rajawali II

PT Madu Baru

PT PG Candi

8.371,1

28.684,5

32.913,0

64.281,6

68.307,9

12.153,5

30.498,0

24.023

6.968,5

4.942,9

30.085

156.950

169.683

431.764

415.257

35.725

210.268

155.071

39.667

33.838

Jumlah

281.144,0

1.678.309

1

2

3

4

5

6

7

8

PT Kebon Baru

PT IGN

PT Pakis Baru

PT GMP

PT Sugar Grup

- PT Gula Putih M.

- PT Sweet Indolampung

- PT Indolampung P.

PT PG Gorontalo

PT Pemuka Sakti Manis

PT Laju Perdana Indah

28.638,5

1.534,3

4.500,0

28.375

-

22.500

21.000

18.500

6.879

9.000

8.000

148.010

7.878

23.490

220.000

-

173.126

167.471

138.410

32.994

55.598

57.800

Jumlah

148.926,8

1.024.777,8

Total Indonesia

430.070

2.703.087,1

Sumber: Dewan Gula Indonesia

Kajian Irjen Kementan

Rendemen PG Masih Bermasalah

Perhitungan rendemen dalam produksi gula, khususnya di pabrik, kerap menimbulkan konflik antara pabrik gula (PG) dengan petani. Dari hasil kajian Inspektorat Jenderal (Itjen) Kementerian Pertanian, peningkatan produksi gula di Indonesia ternyata lebih banyak akibat peningkatan luas areal ketimbang rendemen.

Inspektur III Itjen Kementerian Pertanian, Logam Purba mengatakan, dari hasil evaluasi program akselerasi peningkatan produksi gula 2003-2009, terlihat dari rendemen rata-rata nasional yang berfluktuatif antara 7,10%-8,10%. Kondisi ini tidak ada kenaikan yang signifikan.

Berdasarkan hasil evaluasi nilai rendemen rata-rata pada periode 2003-2009 berfluktuatif dari 6,99%-7,23%. Sementara berdasarkan data Dewan Gula Indonesia (DGI), nilai rendemen secara nasional berada pada kisaran 7,14%-8,10%. Nilai rendemen tertinggi berada pada PG di Lampung dengan rata-rata 8,54% dan Jawa Barat 7,40%. Sedangkan rendemen yang masih di bawah 7% berada di Sumatera Utara sebesar 5,94%, Sulawesi Selatan 6,40%, Gorontalo 6,58% dan Jawa Tengah 6,92%

“Ini mengindikasikan bahwa metode penetapan rendemen belum mendukung program akselerasi peningkatan produksi gula. Sebab, penghitungannya hanya berdasarkan rata-rata setiap periode giling, bukan terhadap kualitas tebu yang digiling,” tutur Logam.

Banyak alasan terkait rendahnya rendemen tersebut. Misalnya, kata Logam, pihak PG mengaku kondisi mesin pabrik sudah tua dan kualitas tebu rendah. Di lain pihak, petani menganggap PG tidak transparan dalam mengukur rendemen. Hal itu terlihat dari hasil rendemen yang tidak meningkat dari waktu ke waktu.

Padahal, petani sudah melakukan teknik budidaya sesuai rekomendasi PG. Petani juga menilai, manajemen giling yang diterapkan PG kurang fair, seperti adanya rendemen rundingan dan kerusakan mesin yang biasa terjadi pada puncak musim giling.

Terhadap kasus ini, Logam mengaku belum ada solusi tepat yang dapat diterapkan secara konsisten, sehingga petani mendapatkan rendemen yang berkeadilan. Padahal, dengan rendemen yang baik, maka tingkat efisiensi pabrik gula semakin tinggi. “Karena itu, permasalahan rendemen ini dapat menjadi kendala dalam pencapaian target swasembada gula,” ujarnya.

Karena itu, kata Logam, untuk mengatasi persoalan rendemen ini perlu adanya perbaikan kinerja pabrik gula. Karena itu pengukuran dan penetapan rendemen harus menguntungkan kedua belah pihak dan dilakukan secara transparan dan adil. Dengan begitu menjadi pendorong perbaikan di on-farm, khususnya kinerja petani.

“Dalam rangka Program Swasembada Gula tahap kedua, gerakan peningkatan rendemen gula harus menjadi strategi untuk peningkatan produksi gula, melalui analisis rendemen individual,” katanya.

Kajian Irjen juga terungkap di Jawa Timur pada tahun 2008 menunjukkan 31 PG existing hanya mampu menggiling tebu sebanyak 14,72 juta ton (160 hari giling). Tapi di lain pihak, produksi tebu mencapai 16,01 juta ton sehingga terdapat tebu yang tidak maksimal tergiling sebanyak 1,29 juta ton setara dengan 8.000 TCD (ton cane perday).

Di Indonesia kini terdapat 61 PG. Perinciannya 51 PG adalah perusahaan plat merah alias BUMN dan 10 lainnya swasta. Total areal tebu sekitar 436.504 ha. Dari jumlah itu, 275.811 ha (63,19%) adalah milik BUMN, sisanya 160.693 ha (36,81%) milik swasta. Julian

2 Responses to “ Produksi Gula Terancam ”

  1. Maulana

    Banyak info bermanfaat. Thanks.

  2. Denny

    Maaf, mau tanya, untuk data taksasi desember luas areal, jumlah tebu, dan produksi hablur, yang bersumber dari Dewan Gula Indonesia, itu data tahun berapa ya?

    Terima Kasih,
    Salam
    Denny