Monday - July 26th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Blunder Harga OP Beras
Post Info Monday, July 26th, 2010 11:28 by agroindonesia Print Print this page

Anomali cuaca yang membuat sejumlah komoditi pangan “mengamuk” nampaknya membuat pemerintah “panik”. Apalagi, Ramadhan sudah menjelang dan inflasi pun perlu ditahan. Namun, kepanikan itu malah menimbulkan blunder memalukan ketika Perum Bulog menggelar operasi pasar (OP) beras dengan harga jual lebih tinggi dari harga pasar!

Mungkin ini sejarah paling konyol yang pernah dilakukan Bulog sejak dibentuk sebagai lembaga stabilisator pangan pokok di awal Orde Baru. Gencarnya pemberitaan tentang melambungnya harga cabai serta serangan wereng coklat membuat pemerintah tidak berpikir jernih. Buntutnya, harga beras pun dinilai sudah “berbahaya”.

Menurut Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi, tren kenaikan harga beras sudah terjadi, meski sangat kecil. Dia menyebut minggu pertama Juli harga rata-rata naik sebesar Rp100/kg dari Rp6.835/kg menjadi Rp7.937/kg. Kenaikan itu berlanjut pada minggu kedua naik lagi Rp100/kg menjadi Rp8.054/kg.

Luar biasa, memang. Persoalannya, beras kelas apa yang dijadikan patokan wakil mentan itu? Premium atau medium? Jika mengacu pada beras milik pemerintah di Bulog, harusnya kualitas medium, yakni IR-64 III. Di sinilah blunder itu terjadi. Pasalnya, pemerintah menetapkan harga beras OP Bulog itu Rp5.850/kg.

Ketika OP digelar sejak 20 Juli di Pasar Induk Cipinang (PIC), pedagang tertawa. Harap maklum, untuk kualitas yang sama, pedagang malah melepas Rp5.600/kg. Alih-alih menggandoli harga, yang ada pemerintah malah ingin menaikkan harga! Bagaimana pemerintah bisa salah hitung atau menyamakan kualitas premium dengan medium? AI

Leave a Reply