Pelan tapi pasti. Begitulah kenaikan harga beras yang terjadi akhir-akhir ini. Kenaikan harga pangan pokok ini memang berbeda dengan lonjakan yang terjadi pada komoditi cabai yang sangat drastis. Kenaikan harga beras sejak awal Juli hingga minggu ketiga Juli sudah hampir Rp200/kg.
Berdasarkan pantauan Kementerian Perdagangan, perkembangan harga beras kualitas medium sejak awal Juli di Pulau Jawa sebagai sentra produksi padi telah naik 4,35%. Sedangkan di luar Pulau Jawa naik cukup siginifikan. Contohnya di Manokwari naik 10,91%, Bengkulu 10,22%, sedangkan daerah lain kenaikkannya masih di bawah 10%.
Wakil Menteri Pertanian, Bayu Krisnamurthi mengakui, harga beras ada indikasi terjadi kenaikan meski sangat kecil. Terlihat pada minggu pertama Juli rata-rata naik sebesar Rp100/kg dari Rp6.835/kg menjadi Rp7.937/kg. Kenaikan itu berlanjut pada minggu kedua naik lagi Rp100/kg menjadi Rp8.054/kg. “Meski kecil kita akan amati pergerakan harga beras,” katanya.
Meski harga terus merambat naik, Bayu menjamin pasokan beras masih cukup untuk memenuhi kebutuhan masyarakat. Salah satu yang menjadi barometer perdagangan beras adalah Pasar Induk Cipinang (PIC), Jakarta Timur. Hingga kini pasokan beras ke PIC masih normal dan cukup besar.
“Pada Minggu lalu mencapai 3.500 ton/hari. Padahal lazimnya hanya 2.000-3.000 ton/hari,” kata mantan Deputi Menko Perekonomian bidang Kelautan dan Pertanian ini.
Lancarnya pasokan ke PIC itu karena kondisi panen padi di sentra produksi beras di Pulau Jawa. Data Direktorat Jenderal Tanaman Pangan, pada Maret 2010 luas panen padi di 13 propinsi sentra produksi seluas 2,44 juta hektare (ha). Pada April seluas 1,89 juta ha, Mei 970.000 ha dan Juni 972.000 ha.
Bayu menduga, kenaikan beras pada Juli ini kemungkinan karena pada Mei-Juni berkurang, setelah puncaknya pada Maret-April. Namun Bayu yakin kenaikan harga tersebut akan tertahan pada Agustus, karena pada Juli akan ada panen seluas 1,28 juta ha dan Agustus 1,33 juta ha. “Kita perkirakan Juli-Agustus harga beras akan stabil lagi, meski kita tetap harus cermati kenaikan harga tersebut,” katanya.
Sementara itu Menteri Pertanian, Suswono juga menyatakan, jika dilihat dari permintaan dan penawaran, maka kondisinya masih normal. Kenaikan harga beras menurut Suswono, karena faktor psikologis menjelang Puasa dan Lebaran. Kondisi ini kemudian dimanfaatkan pedagang untuk mengambil keuntungan.
“Momen menjelang puasa dan lebaran inilah yang diambil pedagang untuk menaikkan harga beras. Tapi dengan cadangan beras pemerintah yang ada di Bulog, masyarakat tidak perlu khawatir tidak ada pasokan,” katanya.
Gelar Operasi Pasar
Guna menahan laju kenaikan harga beras, Bayu yang juga Ketua Tim Stabilisasi Bahan Pokok mengatakan, pemerintah sudah memerintahkan Perum Bulog menggelar operasi pasar (OP) beras di sejumlah daerah yang mengalami lonjakan harga beras. Dengan modal stok cadangan beras pemerintah (CBP) sebanyak 500.000 ton, pemerintah yakin bisa menahan laju kenaikan harga.
Kebijakan OP kali ini terbilang lebih mudah ketimbang sebelumnya. Bahkan, kebijakan tersebut sudah dua kali berubah. Pada awalnya kebijakan OP bisa dilakukan ketika harga beras naik 25% dan bertahan selama satu minggu. Kemudian pada awal 2010, pemerintah mengubah kebijakan lagi, OP bisa digelar ketika harga naik 15% dalam sebulan terakhir.
Belajar dari pengalaman naiknya harga beras yang pelan-pelan tapi pasti, pemerintah kembali merevisi kebijakan OP. Kali ini pemerintah memberikan kebebasan kepada Perum Bulog untuk melakukan OP jika melihat ada indikasi lonjakan harga beras.
“Jika tetap menggunakan mekanisme kenaikan harga rata-rata, maka pemerintah tidak akan bisa menggelar OP karena tidak akan pernah ketemu,” kata Bayu. Jadi, lanjut Bayu, sekarang ini Bulog bisa langsung inisiatif OP tanpa menunggu instruksi pemerintah atau permintaan Pemerintah Daerah.
Sesuai ketentuan Kementerian Perdagangan, harga penjualan beras di gudang Bulog sebesar Rp5.630/kg di Pulau Jawa dan Rp5.730/kg di luar Pulau Jawa. Sedangkan harga jual beras Bulog di tingkat eceran sebesar Rp400/kg hingga Rp500/kg di bawah harga beras di lokasi OP.
Sementara itu Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog, Sutono mengatakan, sesuai dengan hasil rapat di Menko Perekonomian, OP dilakukan dengan tidak menunggu harga naik hingga 10%. Jika di pasar ada kecenderungan harga merangkak naik terus-menerus, Bulog bisa langsung dan proaktif melakukan OP.
Menurut Sutono, OP tidak melalui grosir atau pedagang besar, tapi langsung ke konsumen maupun pedagang pengecer di pasar tradisional. Bahkan, untuk mencegah beras OP diborong pedagang, Bulog hanya menetapkan paling banyak lima karung.
Sutono mengatakan, OP beras dilakukan untuk menstabilkan harga terutama menjelang puasa, terutama di daerah yang harga berasnya mulai merangkak naik, terutama di luar Pulau Jawa seperti Papua, NTT dan Maluku. “OP juga dilakukan di wilayah yang mulai menunjukkan peningkatan harga beras,” ujarnya.
Sedangkan di Pulau Jawa digelar di Jawa Timur, yaitu Surabaya dan Malang, Jawa Barat (Cibitung dan Bandung) dan DKI Jakarta. Untuk DKI Jakarta, telah dilakukan sejak 20 Juli lalu di 12 pasar yaitu, Pasar Sumur Batu, Anyer Bahari, Sukapura, Pasar Minggu, Kabayoran Lama, Manggarai/Pasar Rumput, Kalideres, Jembatan Lima, Grogol, Kramatjati, Klender dan PIC.
“Di pasar beras kita jual dengan harga Rp5.850/kg atau selisih Rp220/kg dari harga gudang. Selisih harga itu dari hasil hitungan untuk biaya transportasi dan angkut,” kata Sutono. Julian
Operasi Pasar (OP) beras ternyata tak selamanya efektif menurunkan harga komoditi pangan pokok tersebut. Perum Bulog sebagai pelaksana OP pun mengakui, fungsi OP bukan untuk menurunkan harga, tapi sebatas mengganduli atau menahan laju lonjakan harga.
Direktur Pelayanan Publik Perum Bulog, Sutono mengatakan, dengan hanya satu jenis beras OP, yakni IR64 kualitas III (kualitas medium), sulit bagi Bulog untuk mencegah lonjakan harga beras, terutama di luar kualitas tersebut. Apalagi, beras yang dijual di pasar DKI Jakarta mencapai 17 jenis. Bahkan, Badan Pusat Statistik (BPS) menetapkan sembilan jenis beras sebagai acuan inflasi.
“Bagaimana pengaruhnya jika beras yang dijual Bulog hanya satu jenis yaitu IR64 kualitas III? Apalagi kemudian yang naik cukup tinggi beras jenis premium. Jawabannya, kecil pengaruhnya. Jadi, fungsi OP hanya untuk mengganduli harga,” ujarnya.
Menurut Sutono, OP bisa efektif jika beras yang dijual ke pasar tidak satu jenis, tapi berbagai jenis (multikualitas). Artinya, Bulog harus mempunyai stok beras multikualitas juga agar OP bisa berbagai jenis. Dengan demikian, fungsi OP untuk mengerem harga beras efektif.
Sutono mengakui, pelaksanaan OP pada Juli tidak umum terjadi selama 10 tahun terakhir karena pada bulan tersebut terjadi panen. Kenaikan harga saat ini lebih karena faktor psikologis di luar mekanisme pasar. Misalnya pengaruh kenaikan tarif dasar listrik, maraknya serangan hama penyakit terutama wereng batang cokelat, serta kemungkinan adanya pihak yang memanfaatkan situasi.
Untuk saat ini, Sutono menganggap yang paling efektif menahan laju naiknya harga beras adalah menggelontorkan beras untuk rakyat miskin (raskin). Hitung-hitungannya, setiap bulan penyaluran beras raskin sebanyak 265.000 ton.
Bahkan, katanya, akan lebih efektif lagi mempengaruhi harga pasar adalah jika Bulog bisa menyalurkan raskin alokasi dua bulan dalam satu bulan. Misalnya, alokasi September dibagikan pada Agustus. Dengan demikian dalam satu bulan akan ada sekitar 530.000 ton beras masuk ke konsumen.
“Ini akan efektif menekan permintaan beras di pasar. Masyarakat miskin yang harusnya beli beras ke pasar jadi tidak beli,” tutur mantan Kepala Divre Jawa Timur ini.
Bulog sudah mempersiapkan rencana penyaluran raskin untuk kebutuhan dua bulan sekaligus. Pada awal Agustus atau menjelang puasa disalurkan raskin alokasi Agustus. Kemudian alokasi raskin September disalurkan pada akhir Agustus atau menjelang lebaran. “Dari pengalaman sebelumnya harga kritis sekitar 10 hari menjelang puasa dan 10 hari menjelang lebaran,” kata Sutono.
Untuk raskin, saat ini beras yang dikelola Bulog sebanyak 1,74 juta ton atau cukup memenuhi kebutuhan 6,65 bulan penyaluran raskin. Realisasi penyaluran per Juli 2010 sudah 53% atau sebesar 1,5 juta ton dari total sebanyak 2.728.129 ton. Julian