Monday - July 26th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Stok Dijamin Aman
Post Info Monday, July 26th, 2010 11:30 by agroindonesia Print Print this page

Pemerintah optimis gejolak kekurangan beras di dalam negeri tidak akan terjadi. Begitu juga dengan kemungkinan terjadinya kenaikan harga yang drastis terhadap komoditas tersebut.

Kalau soal beras, pemerintah optimis karena kita memiliki stok beras yang mencukupi, ujar Menteri Perdagangan Mari Elka Pangestu, pekan lalu.

Mari mengakui, dalam beberapa pekan belakangan ini harga beras di pasar mengalami kenaikan. Hal itu dikarenakan curah hujan yang masih cukup tinggi di sejumlah sentra produksi sehingga kualitas gabah menurun karena tidak bisa kering.

Gabah dengan kadar air tinggi, paparnya, akan menyebabkan meningkatnya biaya penggilingan dan pengeringan yang akhirnya berimbas pada kenaikan harga jual.

Sejak dua bulan terakhir ini, harga beras terus mengalami kenaikan. Data dari pengelola Pasar Induk Beras Cipinang (PIC) menunjukkan kenaikan harga beras terus terjadi setiap pekannya. Kenaikan harga jual itu terjadi di semua jenis beras, baik untuk kualitas atas, medium maupun beras kualitas rendah.

Untuk beras kelas medium, yang paling banyak dikonsumsi masyarakat, kenaikan harga jualnya sudah mencapai Rp1.000/kg jika dibandingkan dengan posisi harga jualnya pada dua bulan lalu.

Data pengelola PIC menyebutkan, harga beras kelas medium untuk jenis IR-64 III pada akhir pekan lalu mencapai Rp5.600/kg. Posisi harga itu menunjukkan adanya kenaikan sebesar Rp200 dibandingkan harga jualnya di pekan sebelumnya.

Menurut ketua Koperasi Pedagang Pasar Induk Cipinang (KOPPIC), H. Kosim, kenaikan harga tidak bisa dielakkan lagi karena berbagai hambatan.Kondisi alam yang tidak beres menjadi penyebab utama kenaikan harga beras tak terelakkan lagi, paparnya kepada Agro Indonesia, akhir pekan lalu.

Menurut Kosim, akibat kondisi alam yang tak beres, banyak sentra produksi yang tak mampu menghasilkan beras dengan volume dan kualitas yang baik. “Banyak padi yang dihasilkan kurang bagus dan volumenya juga berkurang, ucapnya.

Dia mencontohkan, akibat kondisi alam yang kurang baik, beras yang dihasilkan petani kebanyakan memiliki kadar air yang cukup tinggi sehingga menurunkan kualitas beras tersebut.

Selain itu, banyak juga sentra produksi yang hasil panennya tidak sebanyak yang diperkirakan sebelumnya kaena adanya kegagalan budidaya atau serangan hama wereng.Kondisi itu tentu saja memicu kenaikan harga beras di tingkat pedagang dan konsumen,ujarnya.

Selain itu, Kosim juga menyebut tingginya tingkat permintaan beras antarpulau juga ikut memicu terjadinya kenaikan harga jual beras di pasar. Banyak daerah yang meningkatkan permintaan pembelian beras karena daerah-daerah itu juga mengalami penurunan dalam produksi berasnya, tutur Kosim.

Peningkatan transaksi antarpulau itu tercermin dalam rekapitulasi penjualan beras dari Pasar Induk Cipinang selama sepanjang pekan lalu.

Berdasarkan data pengelola PIC, volume beras yang dikeluarkan dari PIC menuju daerah-daerah di luar Pulau Jawa sepanjang pekan lalu mencapai 5.541 ton. Ini artinya terjadi kenaikan penjualan beras ke luar Pulau Jawa sebanyak 25,1% dibandingkan pengeluaran beras dari PIC ke luar Jawa pada pekan lalu yang mencapai 4.157 ton.

Bisa diredam

Sekretaris Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan, Gunaryo, mengakui ada beberapa daerah di Luar Jawa yang mengalami masalah dalam hal pasokan beras, khususnya beras kelas medium.

Misalnya saja wilayah Bengkulu. Wilayah ini sebenarnya cukup banyak menghasilkan beras kelas atas, namun minim dalam produksi beras kelas medium. Padahal, sebagian besar masyarakatnya mengkonsumsi beras kelas medium, paparnya.

Walaupun kenaikan harga beras terus terjadi, namun pemerintah optimis, fluktuasi harga beras di dalam negeri bisa diredam. Rasa optimisme itu didasarkan stok beras di dalam negeri masih cukup besar.

Menurut Mari, berdasarkan data Bulog, stok beras nasional cukup, yaitu 1,8 juta ton di Perum Bulog dengan 500.000 ton siap untuk Operasi Pasar. Sedangkan cadangan beras di PIBC (per 19 Juli) sebanyak 29.000 ton. ”Operasi Pasar dapat dilakukan begitu ada gejolak kenaikan di pasar, tanpa harus menunggu kenaikan di atas 10%, ucapnya.

Selain stok yang cukup, papar Mari, Bulog juga sampai saat ini masih terus melaksanakan program raskin. Untuk program ini, pagu 2010 sebesar 2.728.129 ton, sedangkan rencana pengadaan sampai bulan Juli 2010 adalah 1.643.819 ton. Hingga (18/7) yang telah terealisasi sebanyak 91,24% atau 1.501.932 ton. B Wibowo

Luar Biasa, Beras OP Lebih Mahal!

Operasi Pasar (OP) yang diterapkan Bulog tampaknya menjadi senjata pamungkas bagi pemerintah untuk mengatasi kenaikan harga beras yang kini terjadi di sejumlah daerah.

Namun, faktanya, kegiatan OP untuk saat ini belum memberikan hasil yang memuaskan untuk menekan kenaikan harga jual beras. Kegagalan OP beras itu setidaknya terlihat dari minimnya minat pedagang untuk membeli beras OP yang dilakukan Bulog. Lho, bagaimana bisa terjadi?

“Bagaimana mungkin kami membeli beras OP karena harga beras OP jauh lebih tinggi dibandingkan dengan harga jual beras yang dilakukan pedagang di Cipinang,” ujar Kosim.

Astaga! Menurutnya, harga beras yang diterapkan melalui OP Bulog adalah Rp5.850/kg. Sementara kalangan pedagang beras di Cipinang masih mampu menjual beras kelas yang sama, yakni kelas medium, dengan harga Rp5.600/kg.

“Karena harga jualnya masih di atas harga penjualan pedagang, kegiatan OP kurang diminati pasar,” ucapnya.

Rendahnya harga jual beras pedagang dibandingkan harga beras OP, ungkap Kosim, dikarenakan kebanyakan pedagang beras di Cipinang memiliki stok beras yang cukup besar. Beras tersebut dibeli ketika harganya masih murah.

“Dengan kondisi sekarang ini, kalangan pedagang besar yang memiliki stok, mampu meraih keuntungan yang cukup besar karena mereka dulunya membeli dengan harga cukup murah dan menjualnya dengan harga lebih mahal,” paparnya.

Masih Berlanjut

Kosim memperkirakan kenaikan harga beras masih berpeluang terjadi dalam beberapa waktu ke depan mengingat stok beras di pedagang sudah mulai menyusut.

“Jika stoknya sudah habis, tentunya pedagang akan membeli beras dengan harga yang terjadi sekarang ini. Jika harganya naik, pastinya pedagang juga akan menaikkan harga jualnya karena mereka bertindak mengikuti kondisi pasar,” katanya.

Jika melihat kondisi sejumlah sentra produsen beras di wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur, Kosim memeprkirakan pasokan beras akan mengalami hambatan.

“Banyak sentra produsen yang memerlukan waktu beberapa bulan lagi untuk bisa melakukan panen. Kalaupun ada yang panen, hanya bersifat sporadis. Tidak ada sentra produsen yang mengalami panen raya,” jelasnya.

Seretnya pasokan beras itu sudah terlihat dengan bergesernya panen musim gadu. Biasanya, bulan Agustus nanti petani padi akan melakukan panen gadu. Namun, jika melihat tanaman padi yang terdapat di sepanjang Pantura, panen kemungkinan besar baru bisa dilakukan paling cepat bulan September nanti.

“Hal itu dikarenakan banyak padi yang masih hijau di sentra-sentra produsen beras di sepanjang Pantura. Kemungkinan diperlukan beberapa bulan lagi untuk bisa dipanen,” tutur Kosim. B Wibowo

Leave a Reply