Monday - August 30th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami

KBS Disulap jadi Kebun Binatang Modern

Monday, August 30th, 2010 with No Comments »

Kisruh pengelolaan Kebun Binatang Surabaya terus ditengahi oleh Kementerian Kehutanan. Setelah membekukan izin pengelola lama, Kemenhut kini membuka peluang masuknya investor baru untuk mengubah KBS menjadi kebun binatang modern.

Asing Mendikte, Presiden Kebablasan

Monday, August 30th, 2010 with No Comments »

Selain menilai LoI dengan Norwegia merugikan bagi Indonesia karena menghambat pertumbuhan HTI, mantan menteri kehutanan MS Kaban juga melihat secara keseluruhan isi LoI terlalu mendikte kedaulatan Indonesia. Menurut Kaban kedaulatan Indonesia benar-benar dikorbankan dalam LoI dengan Norwegia. Itu terlihat dari pasal-pasal dalam LoI. Misalnya saja, soal syarat dan ketentuan berlaku bagi Norwegia untuk pembayaran kompensasi. [...]

Indonesia Rugi Besar

Monday, August 30th, 2010 with No Comments »

“Indonesia rugi,” cetus mantan menteri kehutanan MS Kaban. Menteri kehutanan, yang saat menjabat dikenal dengan berbagai kegiatan penanaman, mengungkapkan kekecewaannya itu terkait dengan kemungkinan gagalnya Indonesia memenuhi komitmen menyediakan lahan untuk pembangunan hutan tanaman seluas 700.000 hektare (ha) yang dipayungi nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) Indonesia-Korea. Menurut Kaban, pembangunan hutan tanaman dalam payung apapun punya [...]

Tinjau Ulang LoI RI-Norwegia

Monday, August 30th, 2010 with No Comments »

Suara-suara penentangan terhadap kebijakan moratorium pembukaan hutan alam dan lahan gambut, terkait dengan penandatanganan LoI Indonesia-Norwegia, terus menguat. Bahkan, di luar kebiasaan yang terjadi selama ini, mantan menteri kehutanan pun sampai buka suara menolak perjanjian tersebut dan menilai pemerintah sudah “kebablasan”.

Negeri Ramah Komoditas Impor

Monday, August 30th, 2010 with No Comments »

Sifat ramah benar-benar begitu melekat pada bangsa Indonesia, baik itu penduduknya maupun pemerintahnya. Saking ramahnya, sampai-sampai sifat itu justru menjadi bumerang bagi bangsa ini. Hal ini tercermin dari lonjakan impor sejumlah komoditas yang dampaknya mengancam kelanjutan industri di dalam negeri.

Peran Pengusahaan Olah Lahan Pasca LoI RI-Norwegia

Monday, August 23rd, 2010 with No Comments »

Konferensi Internasional di bidang Kehutanan dan Perubahan Iklim tanggal 26-28 Mei 2010 di Oslo, Norwegia, membuat babak baru yang menggembirakan, sekaligus mencemaskan masyarakat.

Dahulukan Rezim Nilai Tambah

Monday, August 23rd, 2010 with No Comments »

Kekurangan pasokan gula di dalam negeri pada awal tahun ini nampaknya akan berulang lagi pada tahun mendatang. Maklum, tahun ini angka produksi gula nasional kembali meleset dari target produksi gula tahun ini. Perkiraan melesetnya target produksi gula 2010 memang sudah diperkirakan pemerintah, menyusul terjadinya perubahan iklim yang cukup ekstrem — yang menganggu budidaya dan panen [...]

Satu Langkah Lagi untuk Bulog

Monday, August 23rd, 2010 with 1 Comment »

Keinginan Perum Bulog bisa memegang kendali komoditi pangan non beras, sedikit demi sedikit mulai terwujud. Meski pelan, tapi sinar perusahaan berlambang matahari ini mulai makin terang. Salah satu yang kini mulai ditangani Bulog adalah pemasaran gula konsumsi. Sebenarnya sinyal Bulog bakal memegang kendali komoditi gula mulai ada saat Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berkunjung ke [...]

Bulog Kendalikan Gula Nasional

Monday, August 23rd, 2010 with No Comments »

Pelan tapi pasti, pemerintah akhirnya mengembalikan Perum Bulog ke khittah-nya sebagai lembaga stabilisator pangan rakyat. Setelah satu dasawarsa lebih mengalami pembonsaian dengan dalih rezim pasar dan antimonopoli oleh IMF, yang berakibat tiap tahun negeri ini digilir krisis harga pangan memalukan, pemerintah akhirnya menugaskan Bulog memegang kendali gula sebagai komoditi pertama di luar beras.

Reforma Agraria Plus

Monday, August 23rd, 2010 with 1 Comment »

Angin segar bagi rakyat kecil di negeri ini. Pemerintah berniat membagikan lahan tanah seluas 6 juta hektare (ha) kepada masyarakat yang membutuhkan. Program ini akan dilincurkan pemerintah setelah Rancangan Peraturan Pemerintah (RPP) Reforma Agraria rampung.