Monday, August 30th, 2010 15:11 by
agroindonesia
Print this pageKisruh pengelolaan Kebun Binatang Surabaya terus ditengahi oleh Kementerian Kehutanan. Setelah membekukan izin pengelola lama, Kemenhut kini membuka peluang masuknya investor baru untuk mengubah KBS menjadi kebun binatang modern.
Dirjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam Kementerian Kehutanan Darori menegaskan bahwa KBS harus diselamatkan. Untuk itu, pekan depan, dirinya akan melawat ke Surabaya untuk bertemu dengan Gubernur Jatim Soekarwo dan Walikota Surabaya Bambang DH dan membicarakan empat agenda penting terkait keberlangsungan KBS sesuai dengan Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan No.53 tahun 2006 tentang perlindungan hutan dan konservasi alam.
Keempat agenda tersebut adalah menyelamatkan satwa, meningkatkan fasilitas KBS, membuat kesepakatan dengan Gubernur Jatim dan Walikota Surabaya untuk tidak memindahkan KBS serta mencari investor dari pihak ketiga untuk membangun dan mengelola KBS secara profesional.
“Kami mendorong mengharapkan KBS menjadi kebun binatang modern dengan keterlibatan pihak ketiga dalam mengelolanya,” ungkap Darori.
Darori menyatakan banyak contoh keberhasilan pihak ketiga dalam memelihara dan membesarkan wisata satwa. Diantaranya adalah Taman Safari, Kebun Binatang Prigen dan kebun binatang di area Wisata Bahari Lamongan (WBL).
Dia menyatakan keterlibatan pihak ketiga dalam mengelola KBS bisa memberikan inovasi pelayanan, fasilitas serta penambahan-penambahan produk hiburan yang layak jual kepada masyarakat.
“Kami membuka peluang investasi ke pihak ketiga secara transparan ke publik. Setiap pihak ketiga yang berminat harus memublikasikan berapa besaran rekening koran yang dimiliki selama beberapa bulan terakhir serta program pembangunan KBS ke depan. Ya kalau mereka tidak punya uang yang cukup serta tidak memiliki program yang menarik serta SDM yang profesional di bidang pemeliharaan satwa, ya gak usah ikut,” paparnya.
Sejak lama
Kisruh pengelolaan KBS memang hanya menjadikan satwa langka dan dilindungi sebagai korban. Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan, mengungkapkan banyaknya korban satwa yang bergelimpangan. “Sejak 2008 juga banyak hewan yang mati, apalagi sampai Februari 2010 tambahan 26 ekor mati. Padahal sebelumya pengelola berjanji melakukan langkah perbaikan segera,” kata Menhut.
Diketahui ada 26 hewan yang mati selama pengelolaan manajemen baru oleh Perkumpulan Taman Flora dan Satwa Surabaya (PTFSS). Rinciannya 21 aves, 2 reptil, satu cheetah, satu harimau, dan satu singa. Sedangkan hewan yang mati ketika manajamen lama PTFSS sebanyak 689 ekor, dengan rincian 153 mamalia, 193 aves, 113 reptil, dan 230 ikan.
Itu sebabnya Kemenhut bertindak cepat dan mencabut izin pengelolaan KBS. Untuk sementara KBS diambil alih oleh Kementerian Kehutanan dan tim yang terdiri atas Pemprov Jatim, Pemkot Surabaya, Balai Besar Jatim, Persatuan Kebun Binatang Surabaya, serta Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam.
Darori memaparkan, izin KBS dicabut sejak 22 Februari 2010. Hal ini karena konflik internal di dalam tubuh pengurus pengelola tidak kunjung usai. Konflik muncul sejak 2006 lalu, namun hingga Februari 2010 belum juga berakhir.
Darori juga menyatakan, pihaknya telah mencoba untuk memfasilitasi penyelesaian konflik KBS. “Sesuai dengan kesepakatan pertemuan yang telah dilakukan di Tretes pada 7 Juni 2009 antara pihak-pihak yang berkonflik, maka terhitung sejak 22 Februari, izin dicabut dan pengelolaan diambil alih oleh tim,” jelas Darori.
Renovasi Kandang
Sementara itu Ketua Tim Manajemen Sementara KBS Tony Sumampau mengungkapkan dibutuhkan dana Rp80 miliar-Rp100 miliar untuk merevitalisasi KBS. Dia juga menyatakan dibutuhkan investor yang sepenuhnya mencintai konservasi untuk mengembalikan kejayaan KBS.
Besarnya dana yang dibutuhkan tersebut utamanya untuk memperbaiki kandang yang sebelumnya tak memenuhi syarat. Perbaikan seluruh bangunan yang ada tersebut sudah masuk dalam kategori sangat mendesak. Pasalnya, selama 20 tahun sebagian besar kandang tidak pernah direnovasi.
Dengan kondisi tersebut, tak ayal banyak binatang yang tidak dapat hidup layak.
“Apalagi, di depan kandang satwa berdiri lapak pedagang kaki lima. Akibatnya, para satwa sering makan makanan sisa dari buangan para PKL. Karena makanan tidak terkontrol tersebut mengakibatkan satwa sakit,” katanya.
Dana tersebut, lanjutnya memang tidak hanya digunakan untuk renovasi kandang saja. Melainkan juga untuk membangun instalasi pengolah limbah. Untuk itulah, jajaran manajemen KBS masih menunggu adanya minat investor merubah wajah kebun binatang itu menjadi semakin lebih baik lagi.
Jajaran manajemen KBS juga mengharapkan, investor tidak akan merelokasi tempat rekreasi yang cukup murah itu. Sedangkan untuk merelokasi PKL ke lokasi khusus, dibutuhkan dana tidak sedikit. Manajemen harus memberikan ganti rugi dan menyiapkan bangunan baru.
“Sementara ini, dana yang dibutuhkan belum ada. Karena itu kami mengusulkan ada investor untuk mendanai renovasi kandang. Namun dengan catatan investor dalam negeri saja tidak memindahkan KBS dari lokasi sekarang,” katanya.
KBS juga butuh dana untuk pembangunan instalasi pengolahan limbah (IPL). Sampai saat ini, KBS tidak punya IPL. “Kami juga perlu membangun sistem penyediaan air bersih. Sampai sekarang air dari KBS diambil dari Kali Mas yang diragukan kualitasnya. Bagaimana satwa mau sehat kalau makanan tidak terkontrol dan minum air yang kualitasnya diragukan,” katanya. AI
Konflik kepengurusan sepertinya memang sudah menjadi kutukan untuk Kebun Binatang Surabaya. Bahkan di awal pendiriannya, konflik sudah terjadi.
KBS sejatinya adalah salah satu kebun binatang yang populer di Indonesia, yang berlokasi di jalan Setail No. 1 Surabaya. KBS pernah menjadi yang terlengkap dan terbesar se-Asia Tenggara. Di dalamnya terdapat lebih dari 351 spesies satwa yang berbeda yang terdiri lebih dari 2.806 binatang. Termasuk didalamnya satwa langka Indonesia maupun dunia.
Kebun Binatang Surabaya (KBS) pertama kali didirikan berdasar SK Gubernur Jenderal Belanda tanggal 31 Agustus 1916 No. 40, dengan nama “Soerabaiasche Planten-en Dierentuin” (Kebun Botani dan Binatang Surabaya) atas jasa seorang jurnalis bernama H.F.K. Kommer yang memiliki hobi mengumpulkan binatang. Dari segi finansial H.F.K Kommer mendapat bantuan dari beberapa orang yang mempunyai modal cukup.
Awalnya pada tahun 1916 lokasi KBS berada di Kaliondo. Kemudian pada tanggal 28 September 1917 KBS pindah di jalan Groedo. Dan pada tahun 1920 pindah ke daerah Darmo untuk areal kebun binatang yang baru atas jasa OOST-JAVA STOOMTRAM MAATSCHAPPIJ atau Maskapai Kereta Api yang mengusahakan lokasi seluas 30.500 m2.
Untuk pertama kali pada bulan April 1918, KBS dibuka namun dengan membayar tanda masuk (karcis). Kemudian akibat biaya operasional yang tinggi, maka pada tanggal 21 Juli 1922 kebun botani/KBS mengalami krisis dan akan dibubarkan, tetapi beberapa dari anggotanya tidak setuju. Pada tahun ini pula. Dalam rapat pengurus diputuskan untuk membubarkan KBS, tetapi dicegah oleh pihak Kotamadya Surabaya pada waktu itu.
Pada tanggal 11 Mei 1923, rapat anggota di Simpang Restaurant memutuskan untuk mendirikan Perkumpulan Kebun Binatang yang baru, dan ditunjuk W.A. Hompes untuk menggantikan J.P. Mooyman, salah seorang pendiri KBS dan mengurus segala aktivitas kebun sebagai pimpinan. Bantuan yang besar untuk kelangsungan hidup pada waktu tahun 1927 adalah dari Walikota Dijkerman dan anggota dewan A. van Gennep dapat membujuk DPR Kota Surabaya untuk meraih perhatian terhadap KBS, dengan SK DPR tanggal 3 Juli 1927 dibelilah tanah yang seluas 32.000 m3 sumbangan dari Maskapai Kereta Api (OJS). Tahun 1939 sampai sekarang luas KBS meningkat menjadi 15 hektar dan pada tahun 1940 selesailah pembuatan taman yang luasnya 85.000 m2.
Kini di era modern, konflik kembali terjadi antar pengurus KBS. Kemenhut cq. Ditjen Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam pun turun tangan. Langkah ini diharapkan benar-benar bisa memutus kutukan yang selama ini melekat pada KBS dan mengembalikan kejayaannya. Semoga. AI