Monday - August 30th, 2010
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Negeri Ramah Komoditas Impor
Post Info Monday, August 30th, 2010 14:46 by agroindonesia Print Print this page

Sifat ramah benar-benar begitu melekat pada bangsa Indonesia, baik itu penduduknya maupun pemerintahnya. Saking ramahnya, sampai-sampai sifat itu justru menjadi bumerang bagi bangsa ini. Hal ini tercermin dari lonjakan impor sejumlah komoditas yang dampaknya mengancam kelanjutan industri di dalam negeri.

Akibat ramahnya iklim Indonesia terhadap barang dari luar negeri, sejumlah komoditas asal mancanegara dengan mudah masuk ke negeri ini. Apalagi sejak diterapkannya perjanjian perdagangan bebas Asean dan Cina (ACFTA).

Berdasarkan data Asosiasi Pengusaha Indonesia (APINDO) dalam semester I tahun 2010 ini, setidaknya ada lima komoditas yang mengalami lonjakan impor sangat signifikan jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Laju lonjakan impor untuk komoditas makanan dan minuman, elektronika, tekstil dan produks tekstil serta jamu telah melonjak lebih dari 50%.

Bahkan untuk produk biskuit, kenaikan volume impornya sangat drastis. Pada Januari 2010 nilai impor produk tersebut baru sebesar 113.265 dolar AS . Namun pada bulan Juni, nilai impor biskuit mencapai 1,313 juta dolar AS atau naik sekitar 1.060%.

Secara umum, lonjakan impor komoditas makanan dan minuman selama semester I tahun ini mencapai 70% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu.

Lonjakan impor yang cukup besar ini seharusnya tidak perlu terjadi. pasalnya, pemerintah sudah memiliki aturan yang jelas untuk mancegah masuknya komoditas asing secara masif.

Untuk membatasi masuknya impor secara berlebihan, pemerintah melalui Menteri Perdagangan telah menetapkan pembatasan pelabuhan impor untuk produk makanan dan minuman.

Lewat Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM), pemerintah juga sudah memasang jaring untuk mencegah masuknya komoditas makanan dan minuman yang tidak sesuai dengan kaidah kesehatan.

Selain itu, ada instansi bea dan cukai yang menjadi garda terdepan dalam menyeleksi dan mengawasi masuknya komoditas makanan dan minuman serta komoditas lainnya ke negeri ini.

Jika melihat kebijakan yang diterapkan, sebenarnya, lonjakan impor komoditas asing ke negeri ini dapat dicermati sejak awal sehingga bisa segera dilakukan tindakan-tindakan yang diperlukan.

Namun kenyataannya, segala kebijakan dan aturan yang diterapkan pemerintah tidak ada artinya.Komoditas asing ternyata dapat melenggang tanpa adanya hambatan yang berarti. Sistem peringat dini (early warning system) tak bekerja sama sekali.

Kondisi menunjukkan kalau pemerintah belum bisa menerapkan kebijakan-kebijakan atau aturan yang telah dibuatnya. Kebijakan atau aturan yang dibuat itu seperti hanyalah macam kertas saja, yang begitu galak ketika di kertas, namun melempen dalam pelaksanaanya.

Tentunya kegagalan pemerintah dalam menerapkan kebijakan atau aturan dalam mengawasi lonjakan impor sejumlah komoditas itu tak lepas juga dari kinerja pejabat atau pelaksana dari kebijakan tersebut serta msyarakat negeri ini sendiri yang lebih gandrung dengan komoditas asing.

Leave a Reply