Tuesday - July 19th, 2011
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Menggugat Angka Produksi Padi
Post Info Tuesday, July 19th, 2011 14:05 by agroindonesia Print Print this page

Badan Pusat Statistik (BPS) baru saja mengumumkan angka ramalan (ARAM) II produksi tanaman pangan. Dari ARAM tersebut, produksi padi mengalami kenaikan, meski jumlahnya tidak terlalu tinggi seperti harapan pemerintah. Namun, berbagai kalangan meragukan peningkatan produksi padi. Apalagi, kondisi harga juga masih tetap tinggi.

Berdasarkan ARAM II, produksi padi tahun ini sebanyak 68,06 juta ton gabah kering giling (GKG). Padahal tahun ini pemerintah berharap produksi padi bisa menembus 70,06 juta ton GKG atau setara 43,93 juta ton beras. Artinya, masih ada defisit dari target sebanyak 2 juta ton GKG.

Dibandingkan dengan produksi padi tahun 2010 (angka tetap/ATAP) sebesar 66,47 juta ton GKG, memang produksi padi tahun ini ada kenaikan 1,59 juta ton GKG atau 2,4%. Kenaikan produksi diperkirakan karena peningkatan luas panen sekitar 313.150 ha (2,36%) dan naiknya produktivitas sebanyak 0,02 kuintal/ha (0,04%).

Kenaikkan produksi tersebut tidak tercermin pada harga pangan pokok bangsa Indonesia ini. Sejak awal tahun hingga usai panen raya, harga gabah dan beras masih cukup tinggi. Harga gabah dan beras makin jauh meninggalkan harga pembelian pemerintah (HPP).

Di tingkat petani dan penggilingan gabah, berdasarkan hasil survei BPS, rata-rata harga gabah kualitas GKP di petani sebesar Rp3.296,71/kg dan di penggilingan Rp3.361,64/kg. Sedangkan rata-rata harga gabah kualitas GKG (gabah kering giling) di petani sebesar Rp3.838,59/kg dan di penggilingan Rp3.930,92/kg.

Sementara data Kementerian Perdagangan, pada 11 Juni lalu harga beras kualitas medium jenis IR64 III masih sekitar Rp5.750/kg, tapi pada 7 Juli sudah mencapai Rp6.200/kg. Untuk jenis IR64 II juga naik dari Rp6.200 menjadi Rp6.650/kg.

Padahal dalam Inpres No.7/2009 tentang Kebijakan Perberasan, HPP GKP di petani sebesar Rp2.640/kg dan dipenggilingan Rp2.685/kg. Sedangkan untuk GKG di penggilingan Rp3.300/kg dan di gudang Bulog Rp3.345/kg dan beras Rp5.060/kg.

Kurang akurat

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan (KTNA), Winarno Tohir mengatakan, ada dua kemungkinan mengapa harga gabah dan beras masih cukup tinggi, meski pemerintah mengklaim produksi naik, sehingga masih ada surplus. Pertama, ada kekeliruan dalam penghitungan angka produksi padi. Kedua, produksi memang benar naik, tapi ada yang menahan stok sehingga harga menjadi naik. “Dua kemungkinan tersebut bisa saja terjadi,” ujarnya.

Namun, dengan sampel penghitungan data produksi hanya 160.000 dan luas lahan sawah mencapai 8 juta ha, Winarno menilai, kurang akurat karena terlalu sedikit. Apalagi, pendataan dilakukan dengan pandangan mata (eyes counting) oleh mantri tani dan mantri statistik. Karena itu, kemungkinan deviasi kesalahan perhitungan menjadi besar. Hal ini akhirnya berdampak pada kebijakan pemerintah terhadap perberasan nasional.

Menurut guru besar ekonomi pertanian IPB, Prof. Hermanto Siregar, akurasi data BPS memang menjadi masalah. Jumlah sampel dan pola survei yang dilakukan perlu dievaluasi terus. “Yang dihitung BPS adalah produktivitas dan luas lahan. Yang pertama dilakukan petugas BPS, tapi yang terakhir oleh dinas pertanian dan ini yang bisa menimbulkan persoalan kredibilitas. Oleh karena itu, ke depan dinas pertanian harus didampingi BPS agar tidak bias,” paparnya.

Masalah ini sangat penting karena menghitung produksi adalah perkalian produktivitas dengan luas lahan. Jika salah satu tidak benar, maka tidak aneh jika angka yang keluar menjadi diragukan akurasinya.

Sementara Winarno juga menyebut faktor lain yang membuatnya ragu terhadap perhitungan angka produksi padi oleh BPS, yakni banyaknya pertanaman padi terserang hama penyakit. Karena masih banyak hujan, sampai Juli masih banyak terjadi serangan hama wereng. Bahkan, dampak dari serangan wereng, tahun ini muncul virus kerdil rumput dan kerdil hampa. “Karena banyak hujan dan serangan hama membuat produktivitas tanaman padi menjadi turun, sehingga bisa menganggu produksi,” katanya kepada Agro Indonesia.

Data Kementerian Pertanian, total serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) sejak Januari-Juni mencapai 433.402 ha dan yang puso sekitar 21.587 ha. Jumlah ini lebih luas dibandingkan tahun 2010 yang hanya 365.136 ha dan puso 4.990 ha. Serangan OPT terluas adalah wereng batang cokelat (WBC) 150.010 ha dan puso 20.345 ha, tikus (96.000 ha, puso 874 ha), hama kresek 85.570 ha dan puso 21 ha dan penggerek batang padi 75.000 ha dan puso 68 ha.

Serangan OPT lain yang kini marak terjadi di sentra padi yakni virus kerdil rumput dan kerdil hampa. Sejak Januari-Juni, serangan kerdil rumput mencapai 10.303 ha dan puso 1.356 ha dan kerdil hampa 5.387 ha dan puso 131 ha.

Sekretaris Koperasi Pasar Induk Cipinang (Koppic), Nellys Soekidi kepada Agro Indonesia juga meragukan data produksi yang telah dirilis BPS. Jika memang produksi padi tahun ini meningkat dan terjadi surplus seharusnya terlihat di lapangan, terutama pasokan dan harga.  “Kalau melihat realita di lapangan, saya tidak percaya angka ramalan BPS. Harusnya pemerintah mengakui saja jika memang produksi padi kurang,” tegasnya.

Menurut Nellys, penyebab rendahnya produksi karena banyak tanaman padi yang gagal panen akibat serangan hama seperti daerah sentra produksi di Jawa. Akibatnya produktivitas tanaman yang harusnya 6 ton/ha menjadi 1 ton/ha. “Terlihat dari penurunan suplai beras dari daerah produsen ke pasar. Kondisi tersebut membuat kalangan pedagang memperebutkan beras, sehingga membuat harga beras juga ikut naik,” katanya.  Julian

Menakar Peluang Pengadaan Bulog

Meski BPS telah merilis produksi padi tahun ini naik 2,4% dari tahun lalu. Tapi kenaikan produksi tersebut berdampak langsung pada pengadaan gabah/beras Perum Bulog.

Dengan kondisi pertanaman padi yang telah melewati musim panen raya dan tinggal menyisakan musim kemarau, ternyata pengadaan Bulog belum sampai separuhnya. Hingga kini volume pengadaan perusahaan pelat merah berlambang matahari itu baru sekitar 1,3 juta ton.

Padahal, sebagai lembaga yang bertugas menjaga stok cadangan beras pemerintah (CBP) dan menyalurkan beras masyarakat miskin (raskin), Bulog tahun ini menargetkan pengadaan sebanyak 3-3,5 juta ton. Kalkulasi pemerintah, pengadaan sebanyak itu baru bisa tercapai dengan pertumbuhan produksi 5%.

Yang jadi pertanyaan sekarang, bagaimana peluang Bulog mengejar target pengadaan dalam negeri? Direktur Utama Perum Bulog, Sutarto Alimoeso mengatakan, kemampuan serapan Bulog akan sangat tergantung produksi padi selama musim tanam gadu. Berdasarkan pengalaman selama ini, jika produksi meningkat di atas 5%, maka Bulog mampu menyerap gabah dan beras di atas 5% dari produksi dalam negeri. “Tapi kalau kenaikan produksi padi hanya sekitar 3%, maka kemampuan penyerap juga akan di bawah 5%,” tegasnya.

Misalnya pada 2008-2009, ketika pertumbuhan produksi padi di atas 5%, pengadaan Bulog bisa di atas 3 juta ton. Sedangkan tahun 2010, saat kenaikan produksi hanya 3,2%, penyerapan Bulog tidak mencapai 2 juta ton. Hal ini terjadi karena hampir 80%-90% beras diperdagangkan terbuka oleh pedagang, sedangkan Bulog hanya menguasai sekitar 10% untuk penyaluran raskin, CBP dan sebagainya.

Dengan demikian, jika produksi padi banyak, maka beras yang dijual bebas pedagang juga banyak, sehingga sisanya yang bisa diserap Bulog juga besar. Kondisi tersebut membuat harga beras akan turun, sehingga Bulog juga mudah menyerap beras di pasar. “Tapi kalau produksi sedikit, harga akan tinggi sehingga sulit untuk penyerapan,” katanya.

Sutarto menjelaskan, untuk meningkatkan pengadaan pihaknya telah memberikan tambahan harga beli pengadaan di atas HPP. Pertama, tambahan pembelian beras yang diberlakukan sejak 23 Maret lalu untuk Divre Jawa, Sulawesi Selatan dan NTB sebesar Rp200/kg, sedangkan untuk luar Jawa lainnya bervarias antara Rp250-450/kg.

Tahap kedua, tambahan harga pembelian diberikan terlebih dahulu bagi Divre potensial di luar Jawa yaitu Rp150-250/kg. Tambahan ini berlaku mulai 29 April 2011. Sedangkan divre di Jawa, Sulses, NTB, Sumsel dan Lampung diberikan tambahan harga Rp140/kg. Selain itu diberikan tambahan harga gabah sebesar Rp130/kg di seluruh wilayah tersebut. “Kebijakan ini berlaku sejak 3 Mei lalu,” katanya.

Bulog juga melakukan pembelian beras kualitas premium dua dengan mengacu Peraturan Menteri Pertanian No.5/2011 tentang Pedoman harga Pembelian Gabah dan Beras di luar kualitas oleh pemerintah. Juga mengacu Inpres No.8/2011 tentang Kebijakan Pengamanan Cadangan Beras yang dikelola Pemerintah dan menghadapi kondisi iklim ekstrim.

“Kondisi harga yang cukup tinggi memang memberikan dampak poisitf bagi petani, tapi di sisi lain sedikit menyulitkan bagi pengadaan Bulog dalam upaya pemupukan stok beras nasional,” tuturnya. Julian

Realisasi Penyerapan Produksi Padi Nasional

Tahun GKG

(ton)

Kenikan produksi (%) Beras

(ton)

ADA beras

(ton)

Pengadaan thd produksi (%)
2005

2006

2007

2008

2009

2010*)

2011 **)

54.151.097

54.454.937

57.157.435

60.325.925

64.398.890

66.411.469

67.307.324

0,12

0,56

4,96

5,45

6,75

3,13

1,35

34.385.947

34.578.885

36.294.971

38.306.962

40.403.864

41.666.556

42.228.615

1.529.718

1.434.127

1.765.987

3.211.257

3.625.522

1.896.252

3.500.000 ***

4,45

4,15

4,87

8,38

8,97

4,55

8,29

Sumber: Perum Bulog

*) produksi berdasarkan ASEM

**) produksi berdasarkan ARAM I BPS