Tuesday, December 27th, 2011 12:26 by
agroindonesia
Print this pageLobi pedagang gula benar-benar ampuh. Meski produksi gula kristal putih (GKP) tahun 2011 meleset dari target dan tahun 2012 sudah menjelang, namun keputusan impor GKP sampai kini tak kunjung keluar. Apalagi, kalangan petani yang digerakkan Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) mendadak meluruk Jakarta. Akibatnya, konsumen harus tetap rela membayar harga gula yang tinggi.
Produksi gula tebu tahun 2011 dipastikan tak mencapai target 2,7 juta ton. Bahkan, taksasi terakhir Dewan Gula Indonesia (DGI) hanya menyebut angka produksi total 2,23 juta ton. Dengan taksasi sebesar itu, Direktur Tanaman Semusim, Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian, Agus Hasanuddin Rahman mengatakan, akan ada carry over produksi di awal tahun sekitar 736.000 ton.
Jumlah itu akan bertambah karena sejumlah pabrik gula di Sumatera akan memproduksi sekitar 86.000 ton. Dengan kata lain, akan tersedia pasok 822.000 ton GKP. Dengan tingkat konsumsi langsung 220.000 ton/bulan, maka stok itu cukup sampai akhir April 2012 dan setelah itu barang kosong sampai Mei yang baru memasuki musim giling.
Hitungan di atas kertas itu yang membuat pemerintah gamang antara impor atau tidak impor. Padahal, kekurangan itu, jika tidak ditutup, bisa menjadi bara pemicu spekulasi yang membuat terbang harga gula. Hal itu sudah dibuktikan dalam 1-2 tahun terakhir, di mana harga gula di tingkat konsumen tak pernah turun di bawah Rp10.000/kg, bahkan di saat panen sekalipun. Harga ini jauh di atas HPP pemerintah yang sudah beberapa kali diangkat dan terakhir sebesar Rp7.000/kg.
Yang menarik, APTRI punya keyakinan tak perlu impor. Bahkan, mereka punya hitungan luar biasa, yang menunjukkan hancurnya pengawasan aparat. APTRI mensinyalir ada 820.000 gula ilegal, di mana 320.000 ton hasil selundupan dan 500.000 hasil rembesan gula rafinasi. Dengan jumlah itu dan carry over produksi 2011, jelas gula konsumsi mencukupi.
Benarkah? Ini yang perlu diverifikasi pemerintah. Namun, yang luput dari perhatian adalah kekuatan lobi pedagang gula. Ketua DPP APTRI Soemitro Samadikoen tidak membantah aksi unjuk rasa ke Jakarta membawa kepentingan pedagang gula. Bahkan, sumber Agro Indonesia membenarkan aksi itu didorong oleh “ancaman” pedagang tak akan membeli gula petani pada musim giling 2012. Jika benar, maka pemerintah bias ke produsen dan pedagang tapi melupakan konsumen yang justru lebih besar. AI