Wednesday - April 18th, 2012
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Pemerintah Ditantang Turun ke Lapangan
Post Info Wednesday, April 18th, 2012 14:11 by agroindonesia Print Print this page

Dampak kebijakan pemerintah yang mengurangi impor daging sapi tahun ini mulai dirasakan berbagai lapisan masyarakat. Industri bakso kini mulai kesulitan mendapatkan pasokan daging, gudang importir yang bisanya penuh dengan daging kini hanya terisi dua ton. Hal ini tentunya membuat harga daging di pasar terus melonjak naik.

Kondisi tersebut riil terjadi di lapangan saat ini. Jika tidak percaya, cobalah berkunjung ke pabrik Bakso yang ada dikawasan Pusat Industri Kecil (PIK) Cakung atau datang ke gudang importir daging yang ada di Pulo Gadung, Jakarta.

Meskipun situasi genting sudah dialami pedagang maupun importir, bahkan masyarakat yang biasa mengkonsumsi daging sudah berteriak-teriak, namun para pengambil kebijakan sepertinya tidak perduli dengan situasi tersebut.

Pemerintah dianggap tidak percaya dengan laporan para importir maupun asosiasi. Bahkan, Kementerian Pertanian merasa yakin pasokan daging dari sumber lokal masih mampu mengatasi masalah kekurangan daging.

“Pemerintah terutama Kementerian Pertanian sepertinya kurang percaya dengan laporan kami. Ya, kalau tidak percaya silakan turun ke lapangan. Biar pejabat itu tahu bahwa memang kondisi sekarang sulit kesulitan daging. Kemarin kami tawarkan menteri untuk tinjau lapangan ke pasar atau ke gudang dengan maksud agar pejabat melihat langsung yang terjadi di lapangan,” kata Wakil Sekjen Asosiasi Distributor Daging Indonesia (ADDI), Afan Anugroho kepada Agro Indonesia.

Dia menyebutkan, Jumat (13/4) pekan lalu, Komite Daging Indonesia melakukan kunjungan ke pabrik bakso di PIK, gudang dan pasar. Dalam kunjungan tersebut, beberapa industri bakso mengeluhkan kesulitan mendapatkan bahan baku daging. Akibatnya, pabrik mengurangi jam kerja dan produksi pun berkurang.

Sebagai contoh, kata Afan, pabrik bakso Sari Rasa di  kawasan PIK sudah mengurangi karyawannya. Selain itu, produksi baksonya turun sekitar 50%. “Pabrik bakso Sari Rasa ini sebelumnya mampu memproduksi 4.000 butir bakso/hari, tapi kini turun menjadi 1.500 butir sampai 2.000 butir/hari. Pengurangan produksi ini terjadi karena tidak ada bahan baku daging. Kalau pun ada daging, harganya cukup mahal,” kata Afan.

Di lokasi ini juga Komite Daging Indonesia menemukan beberapa industri bakso mulai tidak berproduksi karena tidak ada bahan baku daging. “Sudah banyak pabrik bakso yang gulung tikar. Ini kenyataan riil di lapangan,” tambah Afan.

Menurut Afan, industri bakso yang masih bertahan itu karena terpaksa mengurangi campuran daging dan memperbanyak tepung. Ini artinya, kualitas bakso berkurang. Jenis daging pun mereka ubah dengan daging kualitas rendah.

Sementara ketika mengunjungi gudang yang biasanya dijadikan tempat penampungan daging di Jalan Palad No. 2, Pulo Gadung, Afan menyebutkan gudang banyak yang  kosong. “Paling-paling isinya 2-3 ton. Padahal, kapasitasnya mampu menampung 50 ton. Bahkan tidak sedikit kami lihat gudang daging yang kosong,” katanya.

Harga naik

Di pasar, lanjutnya, harga daging terus naik. Jenis daging tetelan minggu lalu harga hanya Rp53.000/kg, sekarang naik menjadi Rp57.000/kg, daging jenis knuckle (paha belakang) sebelumnya Rp75.000/kg, kini naik menjadi Rp80.000/kg. Daging jenis blade (paha depan)  sebelumnya Rp60.000/kg kini sudah mencapai Rp65.000/kg. Harga jantung kini sudah mencapai Rp40.000/kg, padahal minggu lalu hanya Rp33.000/kg. “Semua jenis daging sekarang ini naik,” katanya.

Afan mengakui, dalam situasi seperti sekarang ini sangat sulit bagi distributor daging untuk bertahan. Tidak mengherankan, pada saat ini Afan terpaksa mengurangi karyawan.  “Perusahaan saya di Bandung — PT Bumi Nusa Sari — telah mem-PHK sebanyak 25 orang karyawan. Sedangkan yang di Jakarta, PT Berkat Cahaya Sakti, mem-PHK sebanyak 40 orang. Teman-teman yang lain juga sudah melakukan hal yang sama,” katanya.

Ketua ADDI, Suharjito membenarkan beberapa anggota asosiasi sekarang ini banyak yang mengurangi tenaga kerja. Pengurangi ini untuk menekan biaya operasional perusahaan, sehingga dalam beberapa minggu ke depan perusahaan bisa bertahan.

“Kami berharap kondisi seperti ini dapat segera pulih bilamana pemerintah mengubah kebijakan, misalnya mengevaluasi kuota impor daging. Masalahnya, sampai sekarang pemerintah belum melakukan evaluasi kuota impor daging,” tegasnya.

Pemerintah, lanjut Harjito, lebih yakin dan percaya bahwa daging sapi dapat dipasok dari dalam negeri di mana stok sapi potong baik eks impor maupun lokal cukup tersedia. “Pemerintah selalu mengatakan stok sapi potong di dalam negeri tersedia cukup, tapi nyatanya kami tidak menemukan sapi itu. Kalaupun ada lokasinya jauh,” katanya.

Afan menambahkan, pihaknya bersama dengan Asosiasi Industri Pengolahan Daging Indonesia (Nampa) sudah turun ke daerah-daerah namun tetap tidak mendapatkan sapi yang siap potong. “Jawa Timur yang katanya banyak sapi, justru kami tidak mendapatkan seekor pun. Lagian kami sebenarnya membutuhkan daging sapi, bukan sapi-nya yang kami butuhkan. Jadi, tolong lah beri kami daging sapi,” tegasnya.

Lebih lanjut dia mengatakan, masalah daging yang diberikan itu berasal dari sapi lokal atau impor, sama sekali tidak dipersoalkan. “Kalau daging tersedia, entah itu dari impor atau lokal, bagi kami yang penting pasok ke pasar lancar. Sekarang kalau barang tidak tersedia, maka pasokan ke pasar tidak berjalan dan harga akan terus bergejolak,” katanya.

Stok cukup

Sementara itu, Wakil Ketua Asosiasi Pengusaha Protein Hewani Indonesia (Apphi) Marina Ratna menilai pemerintah tidak fair dalam hal menentukan kebijakan impor daging sapi dan sapi bakalan. “Pemerintah selalu mengatakan impor sapi bakalan memberi nilai tambah bagi peternak karena sapi bakalan terlebih dahulu digemukan dengan pola kemitraan,” katanya.

Karena itu pula pemerintah sepertinya lebih mendorong impor sapi bakalan ketimbang menambah impor daging. Padahal, kata Marina, impor daging juga memberi kontribusi terhadap lapangan kerja dan menciptakan wirausaha baru. “Dengan adanya impor daging, berapa banyak tenaga kerja yang diserap para distributor daging. Kami juga menciptakan lapangan kerja dan memberi peluang usaha bagi masyarakat,” katanya.

Meskipun importir dan distributor daging sudah menjerit, namun pemerintah sepertinya tidak mendengar aspirasi pelaku usaha tersebut. Pemerintah justru menilai pasokan sapi lokal masih dapat mencukupi kebutuhan di dalam negeri.

Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian Syukur Iwantoro mengatakan, sapi lokal masih dapat dioptimalkan untuk memenuhi kebutuhan di dalam negeri, sehingga tidak perlu ada tambahan kuota impor. “Stok sapi potong baik  eks impor maupun lokal, masih  tersedia dan cukup untuk memenuhi kebutuhan daging sampai akhir bulan Mei,” katanya kepada Agro Indonesia.

Menurut dia, stok sapi yang siap dipotong saat ini tersedia sekitar 126.000 ekor yang tersebar di seluruh Indonesia, terutama Pulau Jawa. Jumlah ini belum termasuh stok daging yang ada di gudang importir sekitar 2.100 ton dan importor daging semester I yang belum terealisasi sekitar 6.000-7000 ton. Dengan demikian tidak perlu lagi ada penambahan kuota.

Data Ditjen Peternakan dan Kesehatan Hewan mencatat, populasi sapi potong yang bisa dipotong pada tahun ini sebanyak 2,7 juta ekor, sapi perah 22.000 ekor, dan 348.000 ekor kerbau, sehingga terdapat stok potensial sebanyak 3 juta ekor.

Populasi sapi dan kerbau tersebut tersebar, sehingga stok potensial itu dikurangi sebesar 20% menjadi 2,4 juta ekor atau  setara dengan 399.000 ton daging. Dari stok potensial sapi ini terdapat di Jawa sebanyak 40,8%, Sumatera 20,7%, Nusa Tenggara Timut dan Bali 18,2%, Sulawesi 15,4%, Kalimantan 3,3% dan sisanya di Papua dan Maluku.

Sementara itu, konsumsi daging sapi per kapita per tahun untuk 2012 sebesar 1,87 kg, tingkat pertumbuhan penduduk diasumsikan 1,5%/tahun, pertumbuhan ekonomi 6,7%, dan elastitisas permintaan sapi 1,2 sebagai koreksi Hari Besar Keagamaan, sedangkan jumlah penduduk Indonesia 242 juta orang, sehingga total konsumsi atau permintaan daging 2012 sebanyak 484.000 ton.

Oleh karena itu, defisit daging sapi tahun ini 85.000 ton yang akan diimpor dalam bentuk daging sapi beku 34.000 ton dan sapi bakalan 283.000 ekor sapi setara dengan 51.000 ton.

Direktur Eksekutif Asosiasi Perusahaan Importir Daging Indonesia (Aspidi) Thomas Sembiring mengatakan, importir menghadapi kesulitan untuk menyerap sapi lokal. “Harga sapi lokal tinggi, belum lagi ongkos angkut dari Surabaya ke Jakarta, biaya operasional mencari sapi ke daerah, apalagi ada distribusi penjualan sapi dari blantik ke blantik,” ujarnya.

Harga daging sapi lokal hidup Rp28.000/kg lebih mahal dibandingkan dengan sapi impor. “Jumlah sapi lokal juga tidak mencukupi, karena lokasi terpencar-pencar,” katanya.

Aspidi meminta pemerintah mengevaluasi pasokan dan permintaan daging tahun ini. Menurutnya, importir sudah meminta pemerintah mengevaluasi pasokan daging, tetapi sampai saat ini pemerintah belum merespon permintaan itu. Jamalzen