Thursday - October 25th, 2012
Home | Versi Cetak | Suara Anda | Layanan Media | Hubungi Kami
Sekolah Dasar Alam Mampu Jual Bibit Pohon
Post Info Thursday, October 25th, 2012 14:32 by redaksi Print Print this page

*Juara Terbaik III Wana Lestari

Gerakan penghijauan dan konservasi alam, perlahan tapi pasti, mulai menjadi tren dan menumbuhkan kecintaan di masyarakat untuk ikut melestarikan hutan atau menghijaukan alam. Setidaknya, aksi menanam itu sudah digalakkan sejak usia sekolah dasar. Bahkan, menanam sejak usia dini ini diharapkan jadi tradisi yang baik, dan itu dibuktikan oleh Sekolah Dasar (SD) Alam Pacitan, yang telah menggunakan kurikulum belajar dan praktik secara langsung.

Di sekolah ini, anak-anak diajarkan untuk menantiasa mencintai alam dan pembelajaran berbasis alam. Alam oleh sekolah tadi dijadikan media pembelajaran, sehingga anak-anak mempunyai keterkaitan untuk lebih mengenal dan mengingat dan mencintai pentingnya pelestraian hutan dan alam lingkungan serta isinya.

SD Alam Pacitan ini lebih banyak mengajarkan kepada anak didiknya langsung terjun ke alam serta lebih banyak belajar secara langsung dengan obyek yang dipelajarinya. Mereka sudah diajarkan bagaimana cara melakukan pembibitan, penanaman, perawatan tanaman sayur, tanaman buah hingga tanaman keras.

Tujuannya sungguh mulia, yakni agar setiap anak terbiasa menanam dan bertanam tumbuhan. Dan pada gilirannya kelak jika mereka dewasa akan menjadi generasi tangguh mandiri untuk mencintai alam dan hutan untuk melindungi bumi demi kelangsungan hidup umat dan makluk di bumi ini.

Yang menarik, setiap pagi hari sebelum masuk kelas, mereka diajarkan untuk selalu melakukan pengamatan pohon di pekarangan sekolahnya. Harap maklum, setiap murid sekolah diwajibkan memiliki tananam sehingga harus mendapat perawatan dengan baik.

Di sekolah ini juga diterapkan keharusan, bahkan termasuk orangtuanya, untuk menyayangi dan merawat dan menanam pohon. Melalui kewajiban menyayangi pohon untuk kehiduapan akan membuat sekolah menjadi hijau dan sejuk.

Pelajaran khusus

Selain mendapat pelajaran yang sama di sekolah dasar lain, Sekolah Alam ini juga memiliki mata pelajaran khusus yang mempelajari sekitar tanaman dan lingkungan.  Tidak heran jika sekolah ini membangun Green Laboratory. Semenjak kelas 1 dan seterusnya, seminggu sekali dengan 2 jam pelajaran, harus mengikuti pelajaran mengenai penghijauan serta memperkenalkan mengenai tumbuhan-tumbuhan serta tata cara pembibitan, pemupukan dan perawatan tanaman. Bahkan yang sudah kelas 4 diajarkan untuk membuat pupuk organik.

Di sekolah ini juga memiliki laboratorium lapangan hijau. Di lokasi ini setiap murid diajarkan untuk bisa menanam berbagai jenis tanaman seperi sayur, tanaman keras dan buah. Tanaman keras yang dimaksudkan yang biasa dengan lokal seperti sengon, jabon, tanjung, terembesi, jati, gmelina.

Sekolah Dasar Alam yang berlokasi di Jalan Brawijaya, Belakang Kodim 0801, Desa Balong, Kecamatan Sidoharjo, Kabupaten Pacitan, Jawa Timur ini memang memiliki visi menjadikan sekolah terdepan yang menerapkan pembelajaran terintegrasi berbasis alam dan potensi lokal. Sedangkan misinya menyelenggarakan pendidikan yang membangun manusia yang berpengetahuan dan berahlaq dan berbudi pekerti.

Edukasi untuk masyarakat

Kepala Sekolah Alam, Pacitan, Bangun Naruttama menjelaskan, meski sekolah yang dipimpinnya terhitung baru, namun sejak berdiri pada tahun 2008 sudah sangat peduli terhadap lingkungan. Bahkan, ketika pemerintah c.q. Kementerian Kehutanan mencanangkan program “Kecil Menanam Dewasa Memanen (KMDM)”, pihaknya langsung menangkap pesan tersebut. Maklum, program itu sejalan dengan program kegiatan sekolahnya.

Memang, sejak berdiri sekolah ini sudah mengajarkan kepada para siswanya untuk melakukan kegiatan tanam-menanam. Tidak tanggung-tanggung, sekolah ini juga berhasil menggaet Dinas Kehutanan dan Perkebunan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan serta Pemerintah Daerah Pacitan untuk melakukan gebrakan berupa ajakan menanam kepada masyarakat dan sekolah lainnya.

Selain kegiatan menanam, Sekolah Dasar Alam Pacitan ini ternyata juga sudah mampu memproduksi sendiri bibit pohon, seperti sengon, jati, nyamplung, cemara, mangrove, gmelina dan trembesi. Hebatnya, dari kebun bibit sendiri — yang seluruhnya dilakukan oleh murid kelas 1,2,3,4,5 dengan bimbingan guru dan penyuluh kehutanan — mereka bisa menjual hasilnya kepada masyarakat. Lokasinya kebun bibit Sekolah Alam Pacitan School of Exploring ini berada di pekarangan sekolah dan Pancer, Kelurahan Ploso, Kab. Pacitan.

Kegiatan yang dilakukan murid di dalam kebun bibit ini, antara lain penyiraman, pemupukan, penyiangan gulma, pencegahan dan pemberantasan hama dan penyakit tanaman.

Adapun pengaruh positif dari kegiatan yang dilakukan oleh sekolah yang tergolong anyar ini antara lain melakukan kunjungan ke sekolah lain guna mensosialisasikan kegiatan menanam dan memberikan bantuan bibit. Pada tahun 2012 ini sudah 5 sekolah dan masyarakat yang melakukan penanaman.

Dari aktivitas dan visi tersebut, SD alam ini akhirnya memetik hasil manis. Tekad Bangun Naruttama dan guru-guru Sekolah Dasar Alam Pacitan ini menjadi juara terbaik III dan meraih penghargaan bergengsi kehutanan Wana Lestari pada Lomba Penghijauan dan Konservasi Alam tingkat nasional tahun 2012. AI

Kabadan Penyuluhan dan Pengembangan SDM, Tachrir Fathoni

Merangkul Murid Sekolah Dasar

Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan SDM Kehutanan, Dr Tachrir Fathoni mengatakan, pihaknya akan terus melakukan pendekatan dan merangkul anak-anak sekolah dalam menggerakkan program ppenghijauan dan konservasi alam. Kerjasama semacam ini akan dikembangkan dengan harapan akan menjadi penggerak masyarakat dalam bidang pelestarian lingkungan.

Keberadaan penyuluh swadaya masyarakat yang kini sudah bejalan, ujar Tachrir, akan terus dikembangkan tanpa batas. Jika saat ini jumlah penyuluh kehutanan swadaya masyarakat sudah mencapai 10.000 orang yang tersebar di seluruh Indonesia, maka jumlah itu akan terus ditingkatkan lagi.

Selama ini penyuluh kehutanan swadaya masyarakat bukan saja direkrut oleh Perum Perhutani sebagai penguasa hutan di Jawa, tetapi arahnya akan dikembangkan melalui perusahaan swasta, sekolah dan lembaga swasdaya masyarakat yang peduli terhadap lingkungan.

Tachrir sangat menghargai semangat penyuluh pegawai negeri sipil yang tidak pernah mengenal lelah untuk mengajak masyarakat terlibat langsung dalam kegiatan menanam dan merawat pohon atau pelestarian lingkungan.

Karena itu, pihaknya selalu memantau para penyuluh di lapangan dan berjanji untuk menampung seluruh masukan dari penyuluh lapangan demi perbaikan dan kemajuan serta tercapainya sasaran pembangunan kehutanan termasuk program Indonesia menanam.

Menyinggung peran penyuluh kehutanan di luar Jawa, Tachrir mengatakan sudah melakukan pembahasan dengan Dirjen Bina Usaha Kehutanan untuk mensosialisasikan program penyuluhan di perusahaan Izin Usaha Pemanfaatan Hasil Hutan Kayu baik Hutan alam maupun Hutan Tanaman.

Sebenarnya, di dalam organisasi perusahaan pemegang Hak Pengusahaan Hutan (HPH), kata Tachrir,  sudah memiliki tenaga teknis, yakni mereka para insinyur kehutanan yang direkrutnya. Tenaga teknis ini bisa dijadikan sebagai tenaga penyuluh kehutanan swadaya masyarakat karena selama ini peran mereka sebenarnya juga merupakan tenaga yang langsung berhubungan dengan masyarakat di sekitar hutan. AI