Banjir Pantura Hancurkan Lahan Pertanian

0
394

Banjir tak hanya menerjang kota Jakarta, tapi juga daerah  lainnya di Tanah Air. Bahkan, di beberapa daerah, banjir telah menyapu dan menggenangi ribuan hektare lahan pertanian dan kawasan industri. Di beberapa kecamatan  sepanjang pantai utara (pantura) Kabupaten Subang dan Karawang Jawa Barat, misalnya, ribuan hektare sawah dan ratusan rumah terendam banjir.

Subang dan Karawang selama ini  dikenal sebagai sentra produksi pangan, khususnya beras.  Alhasil,  produksi pangan dari daerah tersebut  tahun ini  bakal  anjlok, baik karena musim tanam mundur maupun akibat hancurnya tanaman yang sudah ada.

Banjir tak cuma menghancurkan lahan pertanian, tapi juga merusak infrastruktur, seperti jalan, jembatan, dan saluran irigasi. Di sepanjang jalur pantura Pamanukan Subang menuju Jakarta, arus lalu lintas dalam enam hari terakhir lumpuh total akibat   rusaknya jalan dan jembatan serta tergenangnya jalan setelah tanggul irigasi dan tanggul sungai jebol. Para pengendara dari dan menuju Jakarta bahkan terpaksa harus menginap selama tiga hari akibat terjebak  banjir.

Banjir  dan hujan deras yang terus mengguyur juga telah menyebabkan jalan di  beberapa daerah  sepanjang pantura Jawa (Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur)  rusak parah, sehingga sangat mengganggu kelancaran arus lalu lintas yang berujung pada lumpuhnya kegiatan distribusi bahan kebutuhan pokok.

Mengingat begitu besarnya kerugian serta dampak yang ditimbulkan dari banjir dan kerusakan , pemerintah perlu segera mengumumkan langkah-langkah penanganannya.

Pemerintah perlu menegaskan tentang apa yang harus dilakukan untuk mengatasi terganggunya produksi pangan di lokasi banjir? Sudah bisa dipastikan kalau banjir yang melanda sentra produksi pangan itu akan mengacaukan kegiatan panen yang berbuntut pada ancaman penurunan produksi yang akan berakibat pada ketidakmampuan pemenuhan kebutuhan  pangan nasional dari pasokan dalam negeri.

Memang, jalan pintas untuk mengatasi kekurangan pasokan pangan adalah dengan melakukan impor. Namun, opsi tersebut tidak lantas membuat nasib petani di dalam negeri dibiarkan begitu saja.

Pemberian bantuan kepada petani agar mereka bisa bangkit lagi untuk menjalankan budidaya tanaman pangan usai musibah banjir adalah hal mutlak. Pemberian benih, pupuk dan bantuan modal menjadi prioritas utama bagi petani.

Tentunya, perbaikan infrastruktur jalan juga memegang peranan penting bagi kelancaran distribusi bahan pangan dari sentra produksi ke daerah yang membutuhkan.

Untuk menerapkan upaya-upaya itu, tentunya pemerintah pusat tidak bisa bergerak sendirian. Begitu pula dengan pemerintah daerah. Kedua pihak harus bergandengan tangan dalam melakukan upaya mengatasi dampak buruk dari musibah banjir tersebut sehingga target produksi pangan yang telah dipatok pemerintah pada tahun 2014 ini bisa tercapai.