Gula Rafinasi Serbu Pasar Umum

0
51

Persoalan merembesnya gula rafinasi ke pasar umum kembali terulang. Apalagi, tahun ini pemerintah malah memberi izin baru tiga industri gula rafinasi. Swasembada gula pun makin sulit karena ratusan ribu ton gula rafinasi ditengarai masuk pasar bebas dan merusak gula petani. Perlu sanksi lebih tegas.

Entah apa yang jadi pertimbangan pemerintah ketika membuka izin baru tiga pabrik gula rafinasi. Apalagi, total kapasitas produksi tiga pabrik baru yang berlokasi di Jakarta, Banten dan Medan itu separuh lebih dari kapasitas delapan pabrik rafinasi yang ada. Jika seluruh delapan pabrik rafinasi yang ada mencapai 3,2 juta ton, maka tiga pabrik baru menambah hampir 2 juta ton hingga total kapasitas produksi 11 pabrik rafinasi nasional mencapai 5,016 juta ton.

Bisa dibayangkan, masuknya tiga pemain baru itu menambah besar idle capacity yang ada. Selama ini, delapan pabrik rafinasi saja tak bisa beroperasi penuh karena mereka hanya dapat izin impor gula mentah (raw sugar) yang akan “dicuci” menjadi gula rafinasi tahun ini sebesar 2,26 juta ton. Namun, begitu tiga pabrik baru masuk, kuota impor bengkak menjadi 3,019 juta ton.

Sialnya, kebutuhan gula rafinasi industri makanan minuman (mamin) yang harus dilayani tak sampai sebesar itu. Menurut Sekjen Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI), Franky Sibarani, kebutuhan industri mamin tahun 2013 hanya 2,5 juta ton. Itupun, katanya, sudah naik 6% dari tahun sebelumnya.

Jadi, jangan heran jika produksi gula yang berlebih itu dituding merembes ke pasar umum alias rumah tangga. Dengan kualitas yang lebih baik, dan harga yang lebh murah, mana sanggup gula lokal bersaing. Asosiasi Petani Tebu Rakyat Indonesia (APTRI) pun meradang. Menurut Ketua APTRI, Soemitro Samadikoen, pihaknya menghitung gula rafinasi yang merembes tahun ini sekitar 900.000 ton. “Akibat rembesan gula rafinasi, sekitar 1,5 juta ton gula kristal putih tidak bisa dipasarkan pada tahun 2013 ini,” tegas Soemitro.

Angka itu memang perlu diklarifikasi dan divalidasi kebenarannya. Namun, sumber Agro Indonesia di Kementerian Perdagangan membenarkan bahwa tahun ini kembali terjadi rembesan gula rafinasi ke pasar umum setelah dilakukan audit. Jika demikian, akankah peristiwa tahun 2011 terulang lagi? Pemerintah cukup memangkas kuota impor raw sugar tiap pelaku rembesan sesuai audit? Kalau begitu, siapa takut? AI