Derita Petani Apel Malang

0
153

Liberalisasi impor produk hortikultura mulai berdampak negatif bagi petani buah lokal. Di Malang, saat ini harga jual buah apel Malang di tingkat petani dihargai Rp6.000/kg untuk kualitas bagus, atau lebih rendah dibandingkan tahun lalu yang masih dihargai Rp9.000/kg.

Neneng Gunawan, salah satu petani apel Malang mengatakan, harga jual apel tersebut tidak menutup biaya produksi dari petani, yakni sekitar Rp6.000-Rp6.500/kg. “Untuk apel dengan ukuran kecil-kecil, harga jualnya bisa hanya Rp2.500/kg,” kata Neneng, pekan lalu.

Anjloknya harga apel Malang tersebut, kata Neneng, disebabkan banjirnya buah apel impor yang harganya jauh lebih murah. Sekadar perbandingan saja, di tingkat eceran harga buah apel Malang dihargai Rp22.000/kg, sementara harga apel impor hanya Rp18.000/kg.

Jika dibandingkan, untuk semester I tahun 2014 ini pengajuan impor hortikultura memang mengalami lonjakan yang cukup signifikan dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Menurut data Kementerian Perdagangan, pada periode Januari-Juni 2014, total pengajuan izin impor produk hortikultura mencapai 817.250 ton, atau melonjak dibandingkan realisasi impor hortikultura diperiode yang sama tahun lalu yang hanya sekitar 289.485 ton.

Sementara itu, untuk importasi buah apel sendiri di semester I tahun ini pengajuannya tercatat mencapai sekitar 200.483 ton, atau melonjak 138% dibandingkan realisasi impor apel periode yang sama tahun lalu yang hanya 83.918 ton.

Neneng menganggap bertani apel saat ini sudah tidak menguntungkan lagi. Tak heran bila para petani apel di daerahnya mulai beralih untuk mengembangkan lahan pertanian lain seperti tebu dan sayuran. Catatan saja, luas areal perkebunan apel Malang tahun ini terhitung hanya sekitar 2.000 hektare (ha) atau menyusut lebih dari 71,5% dibandingkan tahun 1980-an yang masih 7.000 ha

Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) mengklaim lebih dari 20.000 petani apel di Malang Jawa Timur menganggur karena pemerintah terus menggalakkan impor apel. Sekjen Asosiasi Hortikultura Nasional, Ramdansyah mengatakan, pertengahan tahun ini pemerintah mengimpor lebih dari 700.000 ton apel.

“Sekarang impor semester I sekitar 770.000 ton. Padahal, semester lalu hanya 270.000 ton. Harga hari ini Rp2.500/kg. Itu harga yang ditebus, padahal biaya produksi petani untuk 1 kg lebih tinggi lagi. Harga rasional di tingkat petani itu sekitar Rp6.000-Rp7.000,” ujar Ramdansyah pekan lalu.

Dia meminta Kementerian Perdagangan membatasi impor apel. Jika tidak, produksi apel Malang akan berhenti total. Saat ini saja, jumlah pohon apel di Malang Jawa Timur sudah berkurang, dari sebelumnya 4,5 juta pohon, kini hanya tersisa 1,2 juta pohon.

Kelud

Selain lahan yang mulai jenuh sehingga banyak petani apel yang membongkar lahannya,  petani apel di Kota Batu baru-baru ini mengalami kerugian lantaran tanaman mereka rusak akibat terkena guyuran abu vulkanik Gunung Kelud. Bunga tanaman apel layu dan membusuk jika terkena abu vulkanik. Sedangkan buahnya menjadi kerdil jika terpapar abu dari kawah Gunung Kelud.

Para petani terpaksa mengeluarkan dana ekstra untuk membersihkan abu vulkanik yang menempel pada daun, bunga, dan buah tanaman apel mereka. Di sisi lain, harga apel terus merosot Rp5.000-Rp6.000/kg.

“Biaya perawatan untuk menghilangkan abu cukup besar,” kata Wakil Ketua Kelompok Tani Bumi Jaya, Darmanto. Total, 300 ha lahan yang ditanami 300.000 apel terancam rusak dan tidak menghasilkan buah. Tanaman apel yang terimbas letusan Kelud berada di Kecamatan Bumiaji, meliputi Desa Tulungrejo, Punten, Sumbergondo, Bulukerto, Gunungsari, Pandanrejo, Bumiaji, dan Giripurno. “Mohon pemerintah memberikan bantuan  biaya operasional yang cukup. Apalagi apel sudah menjadi andalan dan maskot Kota Batu,” kata Wakil Ketua Kelompok Tani Bumi Jaya, Darmanto.

Populasi tanaman dan produksi buah apel Batu terus merosot dalam beberapa tahun terakhir. Pada 2005, dari 2,6 juta tanaman, hanya 2,2 juta yang produktif. Produksi buah apel sebanyak 1.235 ton memiliki produktivitas hingga 28 kg/tanaman. Lima tahun kemudian, dari 2,5 juta tanaman yang tersisa, hanya 1,9 juta pohon yang produktif. Produktivitas pun menurun menjadi 17 kg/tanaman, dengan hasil produksi 842 ton.

Hasil pengamatan Dinas Pertanian dan Kehutanan Batu, seluas 2.709 ha lahan pertanian di Batu terimbas erupsi Kelud. Seluas 1.856 ha di antaranya merupakan lahan kebun apel. Kepala Dinas Pertanian dan Kehutanan, Sugeng Pramono menjelaskan, lahan pertanian yang rusak tersebar di 12 titik. “Tersebar di Bumiaji, Sumber Rejo, dan Kelurahan Sisir. Kerugian mencapai Rp70 miliar,” kata Sugeng.

Untuk mengembalikan lahan pertanian, pemerintah memberi bantuan bibit pertanian seperti sayur dan palawija. Pemerintah Kota Batu juga akan memberi bantuan dana operasional. Sektor pertanian menjadi andalan utama penduduk Batu. Selain itu, penduduk menggantungkan hidup pada sektor pariwisata.

Akibat abu vulkanik dari letusan gunung Kelud petani apel di kota Batu, Jawa Timur terpuruk. Sementara itu, petani muda yang membudidayakan apel di Poncokusumo, Aditya menyatakan, meski harga apel menurun akibat panen buah musiman seperti rambutan, tetapi petani apel di Poncokusomo masih bernafas lega karena di tingkat petani harga apel masih cukup bagus , yakni pada kisaran Rp20.000-25.000/kg.

Sebelumnya, banyak permasalahan yang dihadapi sekitar 952 petani apel di desa  berpenduduk 6.621 jiwa itu. Misalnya, harga pupuk dan pestisida melambung, penggunaan pestisida dan pupuk kimia berlebihan sehingga menurunkan mutu areal perkebunan, serta fluktuasi harga apel yang memunculkan persaingan tidak sehat antarpetani maupun antar pedagang. Boleh dikatakan, para petani apel di sana nyaris bangkrut.

Akibatnya, ribuan pohon apel tidak terurus. Ada yang dipangkas untuk kayu bakar, dan ada pula yang dipindahtangankan ke petani apel di Nongkojajar, Pasuruan, Jatim. Banyak petani yang beralih menanam sayuran dan bunga potong, tetapi hasilnya tidak seberapa dibandingkan dengan dari apel. Sebagai generasi kedua, banyak anak petani Poncokusumo yang terpanggil mengembalikan kejayaan desa ini. Mereka ini kebanyakan lulusan perguruan tinggi.

Kualitas rendah

Sementara itu, kalangan importir hortikultura menegaskan kualitas buah apel Malang masih kurang bagus daripada kualitas apel impor seperti dari China. Apel dianggap lebih cocok tumbuh di negara-negara subtropis daripada tropis seperti Indonesia.

“Jadi begini, kalau terkait apel ini buah subtropis yang kualitasnya tergantung dari kondisi iklim. Kualitas apel kita tidak akan bisa menyamai negara subtropis, artinya dari segi kualitas apel di negara subtropis jauh lebih unggul,” ungkap Ketua Asosiasi Eksportir-Importir Buah dan Sayuran Segar Indonesia, Khafid Sirotuddin

Sedangkan dilihat dari harga, apel lokal jauh lebih murah dibandingkan apel impor. Contohnya apel impor asal China di tingkat pasar ritel dan tradisional dijual dengan harga Rp30.000-Rp45.000/kg. Sedangkan untuk harga apel Australia, Selandia Baru dan Amerika Serikat berkisar antara Rp45.000-Rp75.000/kg. Apel lokal atau biasa orang sebut Apel Malang di tingkat pasar hanya dijual Rp15.000-Rp16.000/kg.

“Jelas buah impor jauh lebih mahal karena ada biaya pengiriman kan,” imbuhnya.

Dia mengakui bahwa minat masyarakat kepada buah impor jauh lebih tinggi dibandingkan dengan buah lokal. Meskipun harga lebih tinggi, konsumen tidak ragu membeli apel impor karena melihat kualitas dan bentuk fisiknya yang jauh lebih menarik daripada apel lokal.

“Masalah buah impor ini sebenarnya nggak ada, toh totalnya itu hanya 6% dari jumlah kebutuhan buah nasional. Konsumen melihat warnanya, tampilannya dan menarik jadi lebih apa yang dilihat dan mereka mampu membeli,” jelasnya.

Tak bisa menyalahkan

Hal serupa juga dilontarkan pengamat pertanian Bob Budiman. Menurutnya, terhimpitnya produk apel Malang bukan disebabkan karena  masuknya produk apel impor semata karena kedua jenis apel itu sudah memiliki pangsa pasar sendiri-sendiri. “Pasarnya berbeda satu dengan yang lainnya,” katanya.

Bob mengatakan, adanya impor apel juga disebabkan adanya supply dan demand, di mana kebutuhan apel masyarakat di dalam negeri tidak bisa dipenuhi oleh produksi apel di dalam negeri.

Soal harga jual, Bob mengakui apel impor memang terkadang lebih murah dari apel lokal. Hal itu dikarenakan efisiensi yang bisa dilakukan petani apel asing, ditambah dengan fasilitas infrastruktur di negara mereka yang begitu bagus sehingga biaya produksi bisa ditekan.

“Sementara infrastruktur di Indonesia masih belum baik, seperti jalan yang rusak serta pelayanan pelabuhan yang belum maksimal sehigga membuat harga jual ke konsumen menjadi lebih mahal,” paparnya.

Bob menilai terpuruknya produk hortikultura Indonesia lebih disebabkan karena pemerintah Indonesia tidak bisa memberikan pembinaan kepada petani hortikultura di dalam negeri dengan baik.

Menurutnya, ada tiga hal yang perlu dilakukan pemerintah untuk mendorong peningkatan daya saing produk hortikultura Indonesia sehingga bisa bersaing dengan produk impor.

Pertama adalah soal penyuluhan. Petani produk hortikultura harus diberikan penyuluhan yang tepat mengenai cara-cara melakukan budidaya komoditas hortikultura yang baik, yang bisa memberikan hasil panen yang lebih bagus baik dalam hal kuantitas maupun kualitas.

Kedua, penyediaan lahan. Pemerintah perlu menyediakan lahan yang layak bagi kegiatan pertanian hortikultura. Lahan yang tepat untuk budidaya komoditas hortikultura itu perlu dijaga dengan baik agar tidak dikonversi menjadi lahan untuk sektor usaha lainnya.

Ketiga, memberikan bantuan pasca panen, misalnya saja soal penyediaan cold storage,  kemudahan angkutan dan sebagainya. “Hal-hal inilah yang sampai saat ini belum dilakukan pemerintah dengan baik,” ucapnya.

Sementara itu Menteri Perdagangan M. Lutfi terkesan belum menemukan solusi yang tepat untuk mengatasi serbuan produk hortikultura impor, seperti apel impor.

Lutfi mengibaratkan kondisi ini sebagai sebuah kompetisi yang sudah diatur dalam sistem internasional. “Saya merasa bahwa ada suatu permasalahan di dalam kompetisi ini. Kita kan menjadi bagian dari suatu sistem internasional,” ujarnya.

Masuknya apel impor ke pasar Indonesia, ungkap Mendag, bagaikan sebuah pertandingan. Maklum dalam hitungan bulan, Indonesia harus menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

“Pertandingan ini selalu diatur 11 lawan 11 kalau dalam sepakbola. Mana kesebelasan itu tidak dapat menyalahkan satu dengan yang lainnya,” ucap dia seraya mengakui kalau maraknya apel impor akan merugikan petani apel lokal.

Menurut Mendag, cara yang bisa dilakukan untuk mendorong petani apel tetap melakukan budidaya apel adalah dengan meningkatkan harga jual apel lokal di tingkat petani. Lutfi menyadari dengan maraknya peredaran buah apel impor justru merugikan petani Apel Malang.

Dia juga menyadari tidak punya banyak waktu yang bisa dilakukan di masa pemerintahannya untuk menyelesaikan kisruh soal apel impor. Namun, Lutfi  menargetkan tetap akan menciptakan perdagangan yang adil di dalam negeri.

“Akan terjadi perdagangan yang bermanfaat yang penting untuk menciptakan keadilan. Kita ini istilahnya sampai akhir bulan Oktober yang kita lakukan mesti kita lakukan,” ucapnya. Elsa F/Shanty/B Wibowo