Hancurnya Hortikultura Nasional

0
278

Kebijakan pemerintah mengalihkan pintu masuk impor hortikultura ke dekat sentra produksi mulai menelan korban. Petani apel Malang babak belur dihantam apel China. Apalagi, rekomendasi impor apel semester I tahun ini saja melonjak tajam. Jadi, jangan heran setelah apel mungkin petani hortikultura lainnya menyusul tumbang.

Keputusan pemerintah membatasi pintu masuk impor hortikultura (produk buah, sayur dan umbi lapis) lewat Permentan No. 15 dan 16 tahun 2012 ternyata bukan membawa berkah, tapi malah musibah. Maklum, impor buah dari Tanjung Priok, yang selama ini mendominasi  impor hortikultura, ditutup dan dialihkan ke Tanjung Perak, selain di Medan dan Makasar serta Bandara Soekarno-Hatta.

Sepintas, kebijakan itu memang positif. ,Maklum dari semula tujuh pintu dipangkas menjadi empat pintu. Namun, seperti ditulis tabloid ini pada edisi 389/2012, beleid baru tersebut menyimpan bahaya. Pasalnya, arus deras di Jakarta dialihkan ke Surabaya yang dekat dengan sentra produksi hortikultura. Hanya dalam kurun waktu dua tahun, bahaya itu terbukti. Ratusan petani apel Malang meluruk ke Kementerian Perdagangan, Jakarta memprotes hancurnya harga apel, Senin (24/2).

Apalagi, pada saat yang sama rekomendasi impor bukannya turun malah melesat naik. Sekjen Asosiasi Hortikultura Nasional (AHN) Ramdansyah yang memimpin aksi demo ratusan petani apel Malang menyebut Kemendag telah menerbitkan rekomendasi impor hortikultura semester I/2014 sebanyak 775.798 ton dan rekomendasi impor apel mencapai 200.483 ton. “Volume impor apel paling besar dibanding komoditas lainnya,” katanya.

Ini bukan protes pertama. Tahun lalu dia sudah melaporkan hal itu kepada Menteri Pertanian Suswono. Namun, Kementan malah menyebut penentuan impor kewenangan Menteri Perdagangan (Mendag). Tidak heran, sikap saling lempar tanggung jawab itu disebut Ketua Dewan Hortikultura Nasional (DHN) Benny Kusbini sebagai cermin ketidakseriusan pemerintah. “Pemerintah sekarang ini memang geblek. Tidak ada blue print yang jelas dan konkret untuk pertanian. Apalagi komoditas hortikultura,” tegasnya.

Kusbini pun memperingatkan pemerintah bahwa hancurnya petani apel Malang akan disusul oleh komoditi lain. “Ke depan, mungkin akan demo juga petani cabe, petani bawang merah, kentang, tomat, petani padi dan petani lainnya,” katanya. Pertanyaannya, mengapa pemerintah tak meniru Jepang atau Amerika yang menerapkan satu pintu pelabuhan? AI