Kartel Impor Sapi

0
224

Pemerintah benar-benar tak berdaya menstabilkan harga daging sapi. Setelah diguncang importir daging, kini giliran para pengusaha penggemukan sapi (feedlotter) yang memainkan pasar. Hampir setahun sejak munculnya kebijakan stabilisasi dari Kementerian Perdagangan, yang terjadi justru lahirnya kartel untuk menahan harga daging tetap tinggi.

Tingginya harga daging yang tidak juga turun mencapai harga referensi pemerintah, yakni Rp76.000/kg, memang keterlaluan. Padahal, pemerintah sudah membebaskan impor hewan dan produk hewan dengan mengacu pada harga referensi tersebut sesuai Permendag No.46/M-DAG/KEP/8/2013 tentang ketentuan impor dan ekspor hewan dan produk hewan.

Kalaupun ada pembatasan, sesuai dengan keputusan Mendag No.699/M-DAG/KEP/7/2013 tentang stabilisasi harga daging sapi, tetap saja bukan pengenaan kuota. Berapa banyak sapi yang bisa diimpor pengusaha tergantung pada pertimbangan kapasitas kandang, gudang penyimpan, kapasitas pemotongan serta bukti kesiapan pengadaan dan pengiriman sapi siap potong.

Syarat itu memang terkait dengan tiga entitas bisnis, yakni industri pemotongan hewan, feedlotter terintegrasi serta rumah pemotongan hewan (RPH). Nah, menurut data Kemendag, ketiga pelaku bisnis ini sampai 31 Maret 2014 (kuartal I) telah mengimpor 15.834 ekor sapi siap potong dari total Surat Persetujuan Impor (SPI) sebesar 26.360 ekor. Sedangkan sapi bakalan mencapai 112.045 ekor dari SPI yang diterbitkan sebanyak 130.245 ekor.

Data pengusaha lain lagi. Menurut Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo), Joni Liano, sampai minggu kedua April 2014, dari SPI kuartal I sebanyak 147.000 ekor, yang terealisasi sudah 97%. “Sekitar 23.000 ekor sapi siap potong dan sisanya sapi bakalan,” katanya.

Dengan jumlah sapi siap potong yang masuk, plus bakalan yang ada, ternyata harga daging di pasar becek tetap nangkring jauh di atas harga referensi. Tak pelak, Menteri Pertanian Suswono pun mempertanyakan efektivitas beleid koleganya di perdagangan. Dulu, saat masih sistem kuota, Kementan selalu disalahkan. Kini, saat tinggal urus kesehatan hewan, daging juga tetap tinggi. Jadi? “Ada kemungkinan kartel,” tegasnya.

Ini jelas tudingan berat. Namun, tudingan itu diamini Ketua Asosiasi Pedagang Daging Indonesia (APDI), Asnawi. Pasalnya, pihak yang mengimpor sapi siap potong ternyata hanya feedlotter terintegrasi, yang tak langsung memotong sapinya, tapi menjualnya ke RPH. Belum lagi ada aturan tak tertulis soal pembelian yang tak bisa bebas. “Kami memandang syarat dan ketentuan yang ada membuktikan telah terjadi kartel,” tegasnya.

Gayung pun bersambut. Komisioner KPPU, Munrohim Misanam juga menduga ada permainan dan melakukan penyelidikan. “KPPU menduga ada permainan sehingga harga jual daging sapi di pasar dalam negeri tetap bertahan tinggi,” jelasnya. AI