Target Produksi pun Meleset

0
430

Target produksi gabah tahun 2014 sudah direvisi dari 76 juta ton Gabah Kering Giling (GKG) menjadi 73 juta ton GKG, namun target ini juga sulit dicapai mengingat tahun ini akan terjadi kemarau (El Nino).

Selain kemarau, tanaman padi petani juga banyak terserang hama organisme pengganggu tanaman (OPT) seperti wereng coklat yang menyerang sentra produksi tanaman padi. Belum lagi ketersediaan pupuk yang kini mulai dirasakan langka oleh petani dan bisa menganggu produksi gabah.

Semua kondisi tersebut harusnya sudah diantisipasi pemerintah sehingga pengaruh terhadap produksi gabah dapat diminimalisir. Menteri Pertanian Suswono mengatakan, pemerintah berupaya melakukan antisipasi El Nino dengan membuat embung dan memanfaatkan embung yang sudah ada. “El Nino menyebabkan kekeringan. Kita minta petani untuk memperbanyak pembuatan embung untuk mengaliri areal persawahan,” katanya.

Suswono mengatakan, meskipun El Nino yang menghantam Indonesia diprediksi lemah, namun ia mewanti-wanti agar petani melakukan optimalisasi irigasi yang mengairi sawah-sawah petani. “Untuk petani, diharapkan membangun embung sebanyak-banyaknya,” katanya, usai penutupan acara Penas di Malang pada Kamis (12/6/2014)

Embung adalah salah satu teknik pemanenan air (water harvesting) sehingga dapat berfungsi untuk mengatasi kekeringan Dengan teknologi sederhana ini, diharapkan petani mampu mengantisipasi dampak-dampak yang diakibatkan oleh perubahan iklim sehingga tetap produktif.

“Embung ini adalah teknologi sederhana yang bisa silakukan oleh setiap petani. Jadi, menghadapi El Nino ini, kalau tersier kita sudah serukan pada semua petani. Semetara untuk primer sama sekunder kita serahkan pada Kementerian Pekerjaan Umum,” tegasnya.

Suswono menambahkan, dengan optimalisasi embung dan irigasi teknis di musim kemarau, maka akan membantu stabilitasi produksi. Pemerintah juga menyediakan dana sebesar Rp2 triliun jika terjadi gangguan pada stabilitas pangan baik akibat cuaca ekstrem maupun gangguan lainnya.

“Kalau El Nino benar terjadi, maka harus ada upaya pompanisasi untuk memanfaatkan air tanah ataupun air sungai yang tentu membutuhkan dana. Karenanya kita siapkan antisispasi,” tukasnya.

Suswono menambahkan, selain membuat embung petani diharapkan bijak memilih komoditas yang akan ditanam. Untuk menghadapi El Nino, palawija dianggap lebih baik dibandingkan menanam komoditas padi.  “Menghadapi El Nino, kita harapkan petani lebih banyak menanam palawija dibandingkan padi,” katanya.

El Nino

Direktur Perlindungan Tanaman Pangan, Erma Budianto mengatakan, kondisi iklim, khususnya El Nino moderat, dapat menjadi penyebab terganggunya produksi padi tahun 2014.

“Kondisi iklim khususnya El Nino yang moderat, OPT, banjir dan kekeringan ini akan berpengaruh cukup signfikan pada pencapaian target produksi padi nasional tahun ini. Kemungkinan, target produksi padi akan meleset,” paparnya pada Agro Indonesia beberapa waktu lalu.

Menurut Erma, perubahan iklim kemarau basah tahun 2013 lalu — yang menyebabkan perubahan pola tanam dari biasanya padi-padi-palawija menjadi padi-padi-padi — menjadi hal yang sangat disukai OPT. Karena itu, dengan petani menanam padi sepanjang tahun, maka makanan OPT akan tersedia selama setahun. Beberapa OPT yang harus diwaspadai adalah tikus, penggerek batang padi, wereng batang coklat, hawar daun bakteri dan Blas.

“Kondisi makanan OPT yang tersedia sepanjang tahun, ditambah curah hujan yang tinggi, membuat populasi serangan OPT naik drastis. Hal ini tentu saja bisa mengancam pertanaman padi pada musim hujan 2013/2014,” jelasnya.

Untuk itu, pemerintah melakukan beberapa upaya antisipasi antara lain dengan melakukan gerakan Spot-stop pada daerah yang berbatasan dengan daerah endemis OPT, melakukan pengamanan pertanaman pasca banjir dan mengalokasikan pestisida di daerah tersebut sesuai rekomendasi POPT.

Erma menjelaskan, areal yang terkena banjir umumnya memiliki kemampuan menahan lengas yang kurang baik, air mudah masuk, tapi juga teratus dengan cepat sehingga arealnya bisa juga mengalami kekeringan.

“Karena itu, kita lakukan sosialisasi menghadapi kekeringan dengan adaptasi pola tanam. Selain itu, kita juga melakukan pembuatan embung dan program pompanisasi untuk mengairi pertanaman yang memerlukan air,” tegasnya.

Data Kementerian Pertanian menyebutkan, pada tahun 2014 (periode Januari-Februari 2014), luas areal padi yang mengalami puso karena serangan OPT, banjir dan kekeringan seluas 116.295 hektare (5,16% dari luas tanam 2.253.361 ha)

Luas puso terbesar pada periode tersebut adalah banjir seluas 114.868 ha yang terjadi di Jawa Barat, Jawa Tengah dan Aceh. Sementara puso karena kekeringan seluas 1.231 ha yang terjadi di Aceh. Sedangkan puso karena OPT seluas 196 ha, terutama terjadi di Jawa Tengah, Banten, Sumatera Utara, dan Sulawesi Tenggara.

Sejauh ini, Erma mengatakan, untuk serangan OPT masih bisa dikendalikan. Pemerintah bahkan telah melakukan pengendalian OPT utama pada tanaman padi seluas 26.329 ha. Selain itu, untuk areal puso juga telah disalurkan bantuan Cadangan Benih Nasional (CBN) sebanyak  875,97 ton pada lahan seluas 35.040 ha.

Harapan Meleset

Sementara itu, Ketua KTNA Winarno Tohir mengatakan, El Nino tahun ini belum begitu nyata tanda-tandanya. Dia berharap ramalan BMKG meleset, mengingat sekarang masih ada hujan, baik di Jakarta maupun di Jawa Timur. Bahkan, di luar Jawa masih ada banjir.

Meskipun El Nino belum terjadi, namun untuk jaga-jaga pemerintah mesti menyediakan stok beras sedikitnya 2 juta ton. Hal ini penting karena awal tahun ini telah terjadi serangan hama dan banjir. Jika El Nino benar terjadi, maka untuk mencukupi cadangan beras, Indonesia mesti impor,” katanya.

Dia mengakui, dampak dari musibah alam ini tentunya akan mempengaruhi pencapaian target produk gabah. Indikasinya, pemerintah telah merevisi target produksi tahun ini. Hal ini bisa ditekan jika Kementerian Pertanian (Kementan) melakukan berbagai gerakan, terutama memberikan bantuan benih kepada petani yang terkena musibah alam (banjir, kekeringan dan serangan OPT).

“Untuk menekan dampak bencana alam terhadap produksi gabah, maka pemerintah harus segera menyalurkan benih kepada petani yang membutuhkannya. Jika hal ini dilakukan, maka dampaknya terhadap produksi sangat kecil,” katanya.

Menurut dia, dengan adanya banjir di awal tahun ini dan prediksi El Nino akan datang, maka target surplus beras sebanyak 10 juta ton yang harus dicapai tahun ini sulit dicapai. Jika sekarang Indonesia sudah mengantongi surplus beras 5,4 juta ton, maka untuk mencapai 10 juta ton, dibutuhkan tambahan produksi sebanyak 4,6 juta ton lagi.

“Kalau untuk menambah angka surplus dari 5,4 juta ton, bisa saja terjadi. Tapi kalau mau mencapai surplus 10 juta ton tahun ini, saya kira sangat berat,” katanya.

Lebih lanjut Winarno mengatakan, dalam kondisi iklim normal saja, target surplus beras tersebut tidak tercapai. Apalagi sekarang, banyak tanaman padi yang terkena banjir. “Berat untuk mencapai surplus 10 juta ton itu,” katanya.

Dia mengatakan, surplus beras yang ada sekarang sebanyak 5,4 juta ton dikumpulkan dalam waktu empat tahun. Nah, kekurangan sebanyak 4,6 juta ton tidak mungkin bisa dilakukan dalam tahun ini. “Kalau bisa menambah dari 5,4 juta ton, itu sudah sangat bagus,” katanya.

Berdasarkan data Kementan, areal tanaman padi periode Oktober 2013-Januari 2014 yang terkena  banjir seluas 236.846 ha dan areal yang puso seluas 40.545 ha dengan perkirakan nilai kerugian Rp2,3 triliun.

Dari areal sawah yang puso tersebut, dengan asumsi produksi 5 ton ha, maka diperkirakan kehilangan produksi sebanyak 202.725 ton gabah kering giling (GKG) atau 125.689 ton setara beras.

Sedangkan dari areal yang terkena, jika diasumsikan yang bisa diselamatkan 50%, maka  ada sekitar 118.423 ha yang potensi hilang produksinya. Bila hal ini benar terjadi, maka kehilangan produksi makin lebih besar lagi.

Jumlah areal tersebut belum termasuk areal tanaman padi yang puso akibat kekeringan dan serangan organisme pengganggu tanaman (OPT).

Dirjen Tanaman Pangan, Kementan, Udhoro Kasih Anggoro ketika ditanya target surplus beras 10 juta ton mengaku masih punya banyak waktu untuk mencapai target tersebut. “Ini masih awal tahun. Jadi, kita punya waktu yang cukup untuk mengejar target dengan melakukan berbagai upaya, terutama tanaman padi yang rusak karena banjir,” katanya.

Dia menyebutkan, dari target 10 juta ton beras yang harus dicapai tahun 2014, sekarang ini sudah tercapai surplus 5,4 juta ton. Beras surplus ini tersebar di masyarakat. Harga beras pun tidak melonjak naik.

Ketika ditanya surplus 5,4 juta ton yang ada sekarang dicapai dalam 4 tahun, Anggoro mengatakan potensi dan peluang untuk memacu produksi beras nasional sangat besar. “Jangan pesimis, potensi dan peluang sangat terbuka. Areal yang rusak karena banjir, masih bisa diperbaiki, sehingga pengaruhnya terhadap produksi sangat kecil,” ungkapnya. E.Y. Wijianti