Importir Sapi Permainkan Harga

0
105

Kebijakan pemerintah menstabilkan harga daging sapi di dalam negeri serta mengatur ketentuan impor-ekspor hewan dan produk hewan terbukti gagal total. Yang terjadi, pemerintah malah terdesak dan akan mengubah harga patokan baru dengan alasan sudah tidak cocok lagi. Importir pun di atas angin.

Terjadinya kartel yang mengatur harga daging sapi dalam negeri tetap tinggi nampaknya sulit dipungkiri. Bayangkan, hampir setahun Kementerian Perdagangan merilis dua kebijakan penting, harga daging tak pernah bisa diturunkan. Sampai kini, harga daging di pasar masih mencapai Rp100.000/kg dan trennya bisa melejit karena Lebaran menjelang. Harga ini jauh dari harga patokan yang diinginkan pemerintah sebesar Rp76.000/kg yang dimuat dalam Permendag No.46/M-DAG/KEP/8/2013 tentang ketentuan impor dan ekspor hewan dan produk hewan.

Sialnya, untuk mencapai harga patokan, pemerintah tidak memberikan rambu pengaman. Semuanya dilepas ke pasar mengikuti hukum penawaran dan permintaan. Rambu pembatas — kalau mau disebut begitu, meski faktanya tetap bukan pengenaan kuota —  yang ditetapkan lewat SK Mendag No.699/M-DAG/KEP/7/2013 tentang stabilisasi harga daging sapi hanya berlaku sampai Desember 2013. Dengan kata lain, selama harga tak pernah menyentuh harga referensi, impor tetap dibuka.

Akibatnya telak. Importir sapi bakalan dan siap potong (feedlotter) mempermainkan harga. Tudingan itu disuarakan langsung Wakil Menteri Pertanian Rusman Heriawan. “Semua feedlotter menahan (sapi) karena ingin memperolah harga yang baik. Mereka tidak akan melepas karena momentumnya Lebaran dan puasa ini,” tegas Rusman. Padahal, jika saja mereka melepas pasok sapi ke pasar, harga daging dipastikan turun.

Asosiasi Produsen Daging dan Feedlot Indonesia (Apfindo) nampaknya menolak tuduhan itu. Sayangnya, Direktur Eksekutif Apfindo, Joni Liano tak mengangkat panggilan ataupun menjawab pesan singkat Agro Indonesia. Hanya saja, seorang importir mengungkapkan bahwa dalam pertemuan antara pengusaha dengan menteri perdagangan pekan lalu, Apfindo menuding importir daging memasukkan jeroan (offal) jenis paru, babat dan kikil (kulit) yang terlarang (kecuali jantung dan hati). Padahal, jenis jeroan itu merupakan pasar peternak lokal. Akibatnya, kerugian itu dikompensasi dengan menaikkan harga jual daging.

Yang menarik, kisruh berbau kartel ini malah mendapat dukungan dari Kementerian Perdagangan. Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi melihat kebijakan harga patokan Rp76.000/kg yang dibuat pendahulunya — yang tak pernah tercapai — sudah pantas direvisi. “Saya sudah memberikan warning kepada Menko Perekonomian dan Menteri Pertanian agar menetapkan harga patokan yang baru,” ujar Lutfi di Jakarta, akhir pekan lalu. Menurut dia, harga patokan yang pantas setelah menghitung depresiasi rupiah terhadap dolar AS adalah Rp85.000/kg. Jika benar, Anda bisa lihat siapa yang diuntungkan kan? AI