Bulog pun Mulai Impor

0
42

Lampu hijau yang diberikan pemerintah untuk kegiatan impor beras, mulai dimanfaatkan oleh Perum Bulog. Untuk menjaga stok beras sebanyak 2 juta ton, seperti yang diinginkan pemerintah, Bulog telah merealisasikan kegiatan impornya. Untuk tahap pertama, impor beras yang dilakukan lembaga tersebut pada bulan Juli-Agustus mencapai 50.000 ton.

“Kegiatan impor itu merupakan bagian dari penugasan yang diberikan pemerintah kepada Bulog untuk menjaga stok sebanyak 2 juta ton,” ujar Dirut Bulog, Sutarto Alimoeso.

Menurutnya, kegiatan impor beras terpaksa dilakukan karena stok beras stok Bulog belum mencapai 2 juta ton. Selain itu, laporan Badan Pusat Statistik (BPS) mengenai potensi penurunan produksi beras sebesar 1,98% dibanding tahun lalu serta penurunan target produksi padi oleh Kementerian Pertanian, menjadi pertimbangan Bulog untuk merealisasikan impor beras.

Berdasarkan data Bulog per 18 Juli,  stok beras yang dimiliki Bulog baru mencapai 1,9 juta ton yang terdiri dari 1,89 juta ton stok beras Bulog dan pengadaan komersial 18.000 ton. Kondisi ini jauh berbeda bila dibandingkan tahun 2012 dan 2013, di mana posisi stok sudah di atas 2 juta ton.

Sutarto mengungkapkan, beras yang dimpor Bulog untuk tahap pertama ini berasal dari Vietnam. Negara tersebut dipilih karena harganya lebih kompetitif dari Thailand dan Myanmar serta kualitasnya juga lebih baik.

Sutarto menjelaskan, kondisi politik Thailand yang sedang bergejolak menyulitkan pihaknya mengimpor beras dari negeri tersebut. “Kemudian Thailand sendiri belum terbuka karena masalah politik dalam negerinya,” ujarnya.

Selain Thailand, Bulog juga sebenarnya memiliki opsi lain untuk mengimpor beras, yakni Myanmar. Namun, sayangnya, harga beras yang ditawarkan Myanmar lebih mahal dibandingkan Vietnam. “Beras asal Vietnam juga lebih murah dari beras asal dalam negeri,” ucapnya.

Selain harga yang lebih murah, kualitas beras impor dari Vietnam juga lebih bagus,  yaitu broken (butir patah) 15% dan 5%. “Beras yang diimpor itu adalah beras jenis premium dan medium sesuai permintaan pemerintah. Namun, dari sisi volume, yang lebih banyak adalah jenis medium,” ungkapnya.

Menurut Sutarto, pihaknya mengimpor beras eks Vietnam dengan biaya Rp300 miliar  (Rp6.000/kg). Beras itu nantinya akan dimasukan ke dalam gudang-gudang Bulog di seluruh Indonesia. Beras-beras tersebut akan dijadikan stok cadangan beras pemerintah yang dipatok harus mencapai 2 juta ton per tahunnya.

Dia juga yakin, impor beras yang dilakukan Bulog ini tidak akan merusak harga beras lokal meski dilakukan pada bulan Juli saat masih musim panen padi. Pasalnya, Bulog akan menyerap beras petani saat harga beras di dalam negeri jatuh hingga di bawah Harga Patokan Petani (HPP) yang ditetapkan pemerintah.

“Tidak akan mengganggu. Bagaimana mau mengganggu kalau mereka (petani) jual beras kita beli. Begitu harga di petani kurang dari HPP, kita beli sesuai HPP,” tuturnya, seraya menolak memberikan angka pasti mengenai volume beras yang diizinkan pemerintah untuk diimpor oleh Bulog pada tahun 2014 ini.

Sebelumnya, sumber Agro Indonesia menyebutkan pemerintah Indonesia sebenarnya sudah memiliki kontrak pembelian beras dengan negara produsen beras seperti Thailand dan Vietnam sebanyak 500.000 ton.

Beras impor itu bisa didatangkan kapan saja pada tahun 2014 ini. Namun, harga pembeliannya adalah median dari harga sewaktu kontrak dilakukan dengan harga beras di pasaran ketikan komoditas itu diangkut ke Indonesia.

Belum pasti

Walaupun pemerintah sudah memberi lampu hijau untuk impor beras, namun Sutarto menegaskan bahwa pihaknya tidak akan sembarang memutuskan untuk kembali melakukan impor.

Menurutnya, impor beras yang dilakukan Bulog akan didasarkan pada kondisi di dalam negeri. “Artinya, bila jumlah impor beras yang dilakukan di tahap pertama sudah memenuhi kebutuhan, maka impor tahap selanjutnya tidak akan dilakukan,” ujarnya.

Untuk itu, Bulog saat ini masih terus berusaha meningkatkan pengadaan berasnya melalui penyerapan beras dari petani di dalam negeri.

Walaupun pemerintah telah memberikan lampu hijau kepada Bulog untuk melakukan impor sejak dua bulan lalu, namun Bulog juga meminta pemerintah melakukan sejumlah perbaikan dalam pengambilan kebijakan.

“Pemerintah hendaknya tidak memperlakukan Bulog seperti perusahaan swasta yang harus mengikuti berbagai macam prosedur perizinan untuk melakukan importasi. Izin impor untuk Bulog harus diberikan dengan prosedur yang tidak berbelit, sehingga importasi dapat segera dilakukan,” pinta Sutarto.

Selain itu, dia juga meminta pemerintah memberikan anggaran untuk penugasan stabilisasi harga bahan pangan yang diserahkan kepada Bulog. “Apabila Bulog harus melaksanakan penugasan stabilisasi dengan dana sendiri, fungsi stabilisasi tidak akan berjalan maksimal,” tegasnya.

Lebih rendah

Sementara itu, kinerja Bulog dalam kegiatan pengadaan beras selama semester I tahun 2014 ternyata tidak lebih baik dari kinerja pada periode yang sama pada tahun lalu, bahkan menurun. Sampai dengan tanggal 18 Juli 2014, total pengadaan Perum Bulog selama semester I tahun 2014 mencapai 1.864.378 ton. Jumlah itu lebih rendah dibandingkan pengadaan yang terjadi pada periode yang sama tahun lalu sebanyak 2.423.599 ton.

Menurut Sutarto, rendahnya pengadaan beras oleh Bulog pada semester I tahun 2014 antara lain disebabkan tingginya harga gabah dan beras selama Januari-Juni 2014  yang selalu berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP).

Data Bulog menyebutkan, rata-rata harga gabah kering panen (GKP) di tingkat penggilingan selama Januari-Juni 2014 adalah Rp4.287/kg atau 27,97% di atas HPP. Sedangkan rata-rata harga beras termurah di tingkat konsumen  pada Januari-Juni 2014 adalah  Rp8.983/kg atau 36,11% di atas HPP.

Dengan pengadaan Bulog sebesar itu, ungkap Sutarto, maka stok beras yang dikuasai Bulog per 18 Juli 2014 mencapai 1,902.136 ton. “Stok ini cukup aman bagi kebutuhan penyaluran beras Raskin selama 7,77 bulan,” ucapnya.

Dia juga menegaskan, meskipun stok beras Bulog semester I tahun 2014  lebih rendah dari periode yang sama tahun lalu, namun karena telah dilakukan pemerataan stok di berbagai daerah, maka upaya stabilisasi beras di tingkat konsumen melalui penyaluran Raskin atau antisipasi gejolak harga masih bisa dilakukan dengan baik.

Bulog menilai, selama periode Januari-Juni 2014 harga beras di tingkat konsumen masih stabil. Kondisi stabil itu terutama dipicu oleh kegiatan penyaluran beras Raskin kepada 15,5 juta rumah tangga sasaran (RTS) setiap bulannya sehingga sejumlah RTS tersebut tidak melakukan pembelian di pasar.

Terkait penyaluran Raskin, Sutarto menyatakan, hingga 18 Juli 2014, Bulog telah menyalurkan  Raskin ke rumah tangga sasaran sebanyak 1.886.591 ton atau telah mencapai 67,49% dari pagu Raskin pada tahun ini sebanyak 2,79 juta ton.

Terkait dengan stabilisasi harga beras selama Ramadhan dan menghadapi Idul Fitri, Sutarto menyatakan Bulog telah menjalankan tugasnya untuk melakukan stabilisasi harga beras dan komoditas pangan lainnya.

Kegiatan stabilisasi itu antara lain dilakukan melalu kerja sama dengan pelaku pasar domestik (UKM, Gapoktan, BUMN dan lainnya). “Berbekal izin impor untuk gula, jagung, daging dan beras premium, Perum Bulog mampu menyediakan stok beberpa komoditas penting untuk menjaga  stabilitas harga di tingkat konsumen,” tuturnya. B Wibowo