Keok di Indonesia Timur

0
416

Sebenarnya ini merupakan kabar baik. Stok gula Kristal putih (GKP) jenis medium menumpuk di gudang-gudang pabrik gula dan pedagang. Dengan banyaknya stok, artinya kebutuhan GKP di dalam negeri bisa dipenuhi dari dalam negeri.

Namun, yang jadi masalah, menumpuknya GKP jenis medium itu telah berimbas pada harga lelang gula petani. Gara-gara stok menumpuk, harga lelang gula petani tidak mampu menyentuh harga patokan petani (HPP) sebesar Rp8.500/kg. Saat ini, harga lelang gula petani di sejumlah pabrik gula hanya mencapai Rp8.100/kg.

Kementerian Perdagangan mengakui stok GKP saat ini banyak menumpuk di gudang-gudang pabrik gula dan volume itu akan bertambah lagi karena musim giling baru akan berakhir awal November nanti.

Menurut penilaian Kemendag, adanya penumpukan stok gula saat ini disebabkan oleh buntut adanya stok tahun 2013 yang di-carry over di tahun 2014 ini. Selain itu, penurunan permintaan gula oleh industri makanan dan minuman (Mamin) sekitar 10% hingga 15%, terhadap produk gula rafinasi dan GKP, ikut mendorong terjadinya penumpukan stok GKP saat ini.

Penumpukan stok GKP banyak terjadi di Jawa Timur, yang memang banyak terdapat pabrik gula. Dari hasil proses giling tebu di Jawa Timur sejak Mei hingga September telah mencapai 700.000 ton. Jumlah yang cukup tinggi tersebut masih menyisakan persoalan, lantaran pasar penjualan yang ditargetkan untuk wilayah Indonesia Timur masih kalah bersaing dengan peredaran gula rafinasi.

“Dari hasil giling tahun ini sudah ada stok 700.000 ton. Permintaan untuk wilayah Indonesia Timur berkurang karena kalah dengan gula rafinasi. Ini persoalan yang masih dicarikan solusinya,” kata Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien, pekan lalu

Jika stok saat ini cukup tinggi, sisa stok gula Jatim tahun giling 2013 juga masih tersisa 30.000 ton. “Kami prioritaskan menghabiskan stok sisa giling 2013 sebanyak 30.000 ton dan kami perkirakan akhir September kemarin stok gula produksi tahun lalu sudah habis terjual,” tuturnya.

Setelah itu, baru pihaknya mencarikan solusi penjualan untuk stok gula tahun ini. Diperkirakannya memasuki bulan Desember hingga Januari stok gula 700.000 ton yang sudah ada bisa mulai terbeli.

Dia menuturkan, untuk mempermudah penjualan gula ke wilayah Indonesia timur, pedagang sudah dipanggil Menteri Perdagangan. Namun, penjulan gula tebu Jatim tetap kalah karena permintaan Indonesia Timur memang telah berkurang akibat pengaruh peredaran gula rafinasi — yang diproduksi PG di Sulawesi — memiliki harga jual lebih murah.

Mengenai harga lelang gula yang masih rendah, hal itu kini juga menjadi persoalan yang mengkhawatirkan. “Kalau harga gula rendah, semua bingung tidak ada yang bisa jawab. Saat ini, lelang Rp8.300/kg atau di bawah HPP Rp8.500/kg. Begitu lelang di bawah HPP, dibatalkan,” tegasnya.

Dengan penolakan harga lelang di bawah HPP, kata dia, petani tidak ingin rugi lebih banyak. “Biaya produksi tebu cukup tinggi dan dengan harga lelang yang rendah, petani dan pabrik gula banyak yang enggan melepas gulanya,” ungkapnya.

Dikurangi

Perlunya pengawasan terhadap impor gula untuk mencegah penumpukan gula di dalam negeri juga dilontarkan mantan Wakil Menteri Perdagangan Bayu Krisnamurthi. Menurutnya, untuk mengatasi penumpukan gula, kebijakan impor gula di tahun mendatang perlu diperketat. “Pemberian impor raw sugar perlu diperketat lagi di tahun depan,” ujar Bayu.

Bayu sendiri mengakui, sepanjang tahun 2013 ini Kemendag telah mengurangi volume impor raw sugar sebanyak 22% dari volume impor tahun sebelumnya. “Diharapkan di tahun 2014-2015, volume impornya, baik raw sugar maupun GKP, harus dikurangi lebih besar lagi,” katanya.

Jika bicara soal impor raw sugar, tentunya hal itu tak lepas dari keberadaan industri gula rafinasi. Ketua Umum Asosiasi Gula Rafinasi Indonesia (AGRI), Wisnu Priyatna menjelaskan bahwa impor raw sugar tidak hanya dilakukan oleh anggota AGRI yang berjumlah 11 perusahaan saja, tetapi juga oleh pihak lain, seperti industri gula yang idle capacity, serta produsen mamin yang mendapatkan hak khusus.

Menurutnya, pada tahun 2014 kuota raw sugar yang diberikan sampai saat ini kepada AGRI sebesar 2,8 juta ton dan apabila dibandingkan dengan kuota pada tahun 2013 sebesar 3,019 juta ton, terjadi  penurunan sebesar 7,25%.

Padahal,  Gabungan Pengusaha Makanan dan Minuman Indonesia (GAPMMI) dalam berbagai kesempatan pertemuan dengan AGRI menyebutkan, kebutuhan bahan baku industri makanan dan minuman skala besar dan menengah pada tahun 2013 sebesar 2,7 juta ton gula rafinasi atau setara 2,9 juta ton raw sugar. Jumlah itu belum termasuk untuk pemenuhan kebutuhan Industri Kecil dan Industri Rumah Tangga (Home Industry).

“Pertumbuhan industri makanan dan minuman saat ini dalam rangka memenuhi kebutuhan pasar domestik dan ekspor sebesar 5% atau setara dengan kebutuhan 3,2 juta ton raw sugar,” katanya.

Wisnu juga membantah menumpuknya stok GKP di gudang-gudang pabrik gula disebabkan membanjirnya gula rafinasi ke pasar umum atau rumah tangga. “Untuk bisa mendapatkan izin impor raw sugar, kami harus membuktikan adanya kontrak pembelian gula rafinasi dari industri makanan dan minuman. Jadi, tidak mudah untuk merealisasikan izin impor raw sugar,” ucapnya.

Bahkan, Wisnu mengatakan AGRI ikut membantu petani gula untuk terhindar dari kerugian melalui  keterlibatan AGRI dalam pemberian dana talangan kepada petani yang sudah dimulai sejak tahun 2008 — di mana saat itu para pedagang tidak ada yang mau memberikan dana talangan sehingga Petani meminta kepada AGRI.

Dijelaskan, pemberian dana talangan ini berlanjut sampai tahun 2012 dan 2013. “Pada tahun 2014, AGRI kembali mendapat penugasan pemerintah untuk membantu memberikan dana talangan karena situasi gula tani musim giling tahun 2014 mengalami harga yang rendah,” paparnya.

Adapun jumlah kuantum dana talangan yang diberikan oleh AGRI sebanyak 250.000 ton dari 19 PG dengan harga Rp8.500/kg. Sampai saat ini AGRI telah memberikan dana talangan sebanyak kurang lebih 200.000 ton senilai Rp1,7 triliun. Dari jumlah, gula yang baru tersalurkan 50.000 ton, sehingga total stok gula tani milik AGRI masih tersisa sebanyak 150.000 ton yang belum tersalurkan.

“Situasi harga saat ini menyebabkan AGRI menanggung kerugian dari penurunan harga dan beban bunga pinjaman bank,” paparnya. B Wibowo/Elsa Fifajanti

Pabrik Rafinasi pun Berhenti Operasi

Menumpuknya gula kristal putih (GKP) di pabrik-pabrik gula di dalam negeri telah menyebabkan beberapa pabrik gula di dalam negeri terpaksa menghentikan kegiatan operasinya. Kondisi ini tidak hanya terjadi pada industri gula kristal putih saja, tetapi juga terjadi pada industri gula rafinasi. Hanya sebabnya berbeda satu sama lain.

Misalnya, karena dianggap tak lagi efisien, PT Rajawali Nusantara Indonesia (RNI) berencana menutup dua pabrik gula (PG) yang dimiliki, yakni PG Karangsuwung dan PG Sindang Laut. Selain tak efisien, luas lahan perkebunan tebu di wilayah kedua PG juga alami penyusutan karena petani berpindah ke komoditas hortikultura.

“Saat ini PG yang sudah pasti akan ditutup tersebut adalah PG Karangsuwung. Kami mempertimbangkan akan menutup dua PG termasuk PG Sindang Laut,” kata Direktur Utama RNI, Ismed Hasan Putro, pekan lalu.

Saat ini RNI memiliki 10 PG yang tersebar di beberapa wilayah seperti di Jawa Timur, Jawa Barat dan Yogyakarta. Beberapa PG tersebut antara lain PG Krebet Baru, PG Rejo Agung Baru, PG Sindang Laut, PG Karangsuwung, PG Tersana Baru, PG Jatitujuh, PG Subang, PT PG Candi Baru.

Bisnis gula RNI kini juga masih mengalami kendala. Seperti perusahaan BUMN lain yang juga bergerak di bidang pergulaan, RNI mengeluhkan peredaran gula rafinasi dipasar konsumsi. Akibatnya, harga lelang gula anjlok dan bahkan tidak laku lagi. Hal itu berdampak pada stok gula yang berada di produsen gula menumpuk di gudang-gudang penyimpanan.

Gula milik RNI, kata dia, kini tercatat sekitar 200.000 ton gula kristal putih (GKP) yang tidak laku dijual. Jumlah tersebut diproyeksi akan terus bertambah seiring dengan musim guling tebu yang diproyeksi akan selesai pada November mendatang.

Akibat kondisi ini, Ismed khawatir pendapatan perusahaan akan terpengaruh. “Pendapatan hancur, 60% pendapatan RNI berasal dari gula. Beruntung RNI memiliki alur bisnis yang lain,” kata Ismed.

Pada tahun ini, lelang gula RNI jauh dari yang diharapkan. Sempat menyentuh Rp8.500/kg sesuai HPP. Namun, harga lelang gula kemudian terus melandai ke harga Rp7.900/kg. Bahkan, beberapa kali lelang sempat dibatalkan lantaran tidak ada yang membeli.

RNI sendiri menargetkan produksi gula sebanyak 160.000 ton. Target ini naik 6,66% ketimbang realisasi produksi gula RNI tahun lalu yang sebesar 150.000 ton. Sementara itu, untuk pendapatannya RNI menargetkan Rp450 miliar.

Kerugian sebetulnya juga dialami pabrik gula rafinasi, bahkan 4 pabrik  diketahui sudah menutup kegiatan operasi di dalam negeri. Menurut Wakil ketua AGRI Bidang Kebijakan, Albert Tobogu, berhentinya kegiatan operasi di 4 pabrik dari 11 anggota AGRI itu disebabkan mereka tidak memiliki lagi kuota impor raw sugar serta persyaratan yang ketat soal kontrak pembelian dengan industri.

“Pembatalan pasokan bahan baku dari pemasok internasional telah mengakibatkan berhentinya operasi produksi sebagian besar pabrik gula rafinasi,” jelasnya.

Data Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyebutkan, dari total kuota impor raw sugar sepanjang 2014 sebesar 2,8 juta ton, hingga awal Oktober yang sudah dikeluarkan izinnya mencapai 2,667 juta ton sehingga kuota impor raw sugar yang tersisa  cuma 133.000 ton. Bisa jadi, sebelum akhir tahun, akan ada lagi pabrik gula rafinasi yang menghentikan operasi karena ketiadaan bahan baku. B Wibowo/Elsa Fifajanti