Stok Gula Menumpuk

0
210

Di penghujung musim giling 2014, produksi gula kristal putih (GKP) mendadak menumpuk. Padahal, perkiraan rendemen meleset dan malah menurun, yang berimbas pada turunnya taksasi produksi gula. Setidaknya, sampai masuk musim giling Mei 2015, gula konsumsi surplus sekitar 260.000 ton. Ada apa?

Kabar melimpahnya produksi gula kristal putih (GKP), yakni gula konsumsi, benar-benar mengejutkan. Pasalnya, selama musim giling tebu yang dimulai Mei sampai menjelang usai Oktober ini, berita yang muncul adalah turunnya rendemen tebu. Dirjen Perkebunan Gamal Nasir membenarkan bahwa rendemen tebu hanya 7%-7,9% dari perkiraan 8,03%. Hal ini berimbas turunnya taksasi produksi gula konsumsi yang sempat ditaksir 2,96 juta ton pada Maret tinggal 2,57 juta ton. “Produksi gula tahun ini diperkirakan hanya sekitar 2,5 juta ton karena rendemen tebu hanya sekitar 7%,” ujar Gamal.

Berdasarkan perhitungan Dewan Gula Indonesia (DGI), konsumsi GKP tahun 2014 sebesar 2,84 juta ton. Gula itu mayoritas diserap oleh rumah tangga sebesar 1,67 juta ton serta industri rumah tangga, hotel, restoran besar dan kecil sekitar 1,16 juta ton. Dengan kata lain, harusnya bukan surplus, tapi malah minus alias defisit sekitar 300.000 ton.

Namun, fakta yang terjadi, kini gula konsumsi itu malah menumpuk di gudang-gudang pabrik gula (PG). Hal itu terjadi karena jatuhnya harga lelang jauh di bawah harga patokan petani (HPP) Rp8.500/kg. Harga lelang hanya ditawar Rp8.100/kg. Padahal, musim giling masih berjalan. Di Jawa Timur, setidaknya ada stok 700.000 ton gula yang belum terserap. “Permintaan untuk wilayah Indonesia Timur berkurang karena kalah dengan gula rafinasi,” ujar  Kepala Dinas Perkebunan Jatim, Moch Samsul Arifien, pekan lalu.

Gula rafinasi ini memang biang keladinya. Direktur Eksekutif Asosiasi Gula Indonesia (AGI), Tito Pranolo bahkan menyebut semuanya berawal dari kebijakan pemerintah yang terus memberikan izin pabrik gula rafinasi. “Sampai kini sudah 11 pabrik rafinasi dengan kapasitas sekitar 5 juta ton,” ujar Tito. Sialnya, izin impor raw sugar untuk rafinasi kerap melampaui kebutuhan. Tahun lalu, dari kebutuhan 2,4 juta ton malah diberi izin 3 juta ton, sehingga ada kelebihan setara gula sekitar 540.000 ton.

Kondisi ini yang membuat gula konsumsi terus tertekan. Bayangkan, data DGI menunjukkan ketersediaan gula sampai Desember mencapai 2,32 juta ton. Sementara konsumsi langsung Oktober-Desember 2014 sebanyak 697.419 ton, plus penambahan konsumsi 330.000 ton, hingga total kebutuhan sampai akhir 2014 tercatat 1.027.419 ton. Dengan kata lain, terjadi kelebihan sekitar 1,29 juta ton. Jika ditambah produksi sekitar 70.000 ton sampai Mei 2015, maka ada pasok gula 1,36 juta ton. Pasok ini melampaui permintaan yang ditaksir 1,1 juta ton sampai Mei 2015 alias surplus sekitar 260.000 ton.

Jadi, jangan heran jika harga gula jatuh. Jika tidak dibenahi, di mana impor raw sugar dilepas sesuai kapasitas, bukan kebutuhan, maka harga terus akan jatuh dan berimbas kepada minat petani menanam tebu. AI