Pelemahan Nilai Tukar Rupiah

0
521

Nilai tukar rupiah terhadap mata uang dollar AS pada akhir pekan lalu menembus level 13.000. Posisi itu merupakan yang terendah sejak 1998, ketika krisis ekonomi masih mendera Indonesia. 

Melemahnya nilai tukar rupiah dilaporkan tidak hanya dipengaruhi oleh sentiment lokal saja, tetapi perkembangan yang terjadi di internasional ikut memicu penurunan nilai tukar mata uang Indonesia ini.

Ekspektasi akan kembali turunnya BI rate seiring dengan dimulainya tren penurunan suku bunga di beberapa negara memberikan sentimen negatif bagi pergerakan laju rupiah.

Melihat besarnya tekanan internasional, khususnya dari kebijakan yang diambil The Fed, diperkirakan posisi nilai tukar rupiah masih berpotensi untuk melemah lagi di waktu ke depan.

Apalagi sikap dari pemerintah yang terlihat ‘tenang’ seakan tak ada langkah apapun untuk mengintervensi pasar, dilaporkan kalangan pelaku pasar  turut mendorong pelemahan rupiah.

Menanggapi pelemahan yang terjadi, Bank Indonesia memang tetap berkeyakinan bahwa gejolak yang terjadi pada rupiah untuk tahun ini ada di kisaran 3-5 %. Itu, dari asumsi yang ditetapkan pemerintah sebesar sebesar 12.500 per dolar AS.

Senada dengan BI, Menteri Keuangan, Bambang Brodjonegoro dengan tegas menyatakan, enggan mengomentari tentang pelemahan rupiah. Dia hanya meminta, semua pihak tetap tenang dan jangan memberikan komentar yang membuat pasar menjadi panik hingga akhirnya mengganggu stabilitas ekonomi Indonesia.

Sikap tenang dan tidak panik memang diperlukan dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah. Sikap panik yang akan menjurus kepada aksi rush bisa berakibat lebih buruk lagi terhadap nilai tukar rupiah.

Namun, kita juga perlu mewasdapai perkembangan nilai tukar rupiah. Pasalnya, melemahnya nilai tukar rupiah juga memiliki sisi buruk bagi kehidupan masyarakat.

Memang benar kata sejumlah petinggi di negeri ini kalau pelemahan nilai tukar rupiah akan berdampak positif bagi kegiatan ekspor. Harga komoditas ekspor Indonesia di pasar luar negeri akan menjadi lebih murah sehingga mampau bersaing dengan produk dari negara lain.

Namun, kita juga perlu ingat kalau pelemahan nilai tukar rupiah bisa berdampak buruk bagi harga dan pasokan komoditas yang memiliki kandungan impor cukup tinggi di dalam negeri.

Jujur saja, masih banyak komoditas, mulai dari komoditas pangan hingga komoditas non pangan yang bahan bakunya atau masih dalam bentuk utuh yang tergantung impor.

Untuk komoditas pangan seperti jagung, kedelai dan daging sapi, hingga saat ini kita belum mampu memenuhi kebutuhan nasional dari pasokan produksi di dalam negeri.

Jika nilai tukar dolar melonjak, maka harga pembelian komoditas tersebut dari negara asal tentunya akan mengalami kenaikan pula. Buntutnya, harga jual komoditas tersebut di dalam negeri akan melonjak pula.

Karena itu, dalam menghadapi pelemahan nilai tukar rupiah, masyarakat tidak boleh bersikap panik, apalagi melakukan rush. Namun, di satu sisi, pemerintah dan BI juga tidak boleh terlalu pede dengan kondisi yang terjadi. Jangan sampai krisis ekonomi yang dipicu oleh pelemahan nilai tukar rupiah kembali menghantam Indonesia.