Pasok Banyak Mengapa Harga Tinggi?

0
95

Untuk mengantisipasi lonjakan harga daging sapi pada saat Ramadhan dan menjelang lebaran, Perum Bulog kembali mendapatkan tugas dari pemerintah untuk ikut menstabilkan harga daging sapi yang saat ini mulai mengalami kenaikan.

Keterlibatan Perum Bulog untuk menstabilkan harga daging ditandai dengan dikeluarkannya izin impor 1.000 ton daging potongan sekunder (secondary cut) dan jeroan sapi oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) yang ditujukan kepada Perum Bulog.

“Atas perintah Pak Menteri (Perdagangan), kita berikan izin impor 1.000 ton secondary cut untuk Bulog‎,” kata Dirjen Perdagangan Luar Negeri, Kementerian Perdagangan (Kemendag), Partogi Pangaribuan, pekan lalu.
Menurutnya, pemberian izin impor daging beku kepada Perum Bulog hanya berlaku sementara. Izin impor kepada Bulog dikeluarkan awal Juni ini dan berlaku hingga 31 Agustus 2015. “Izinnya keluar minggu lalu sampai 31 Agustus 2015. Jadi, memang sementara,” ujarnya.

Harga daging sapi secara nasional pada awal bulan Ramadhan telah menunjukkan kenaikan. Data Kementerian Perdagangan menyebutkan, pada tanggal 18 Juni 2015 tercatat stok sapi mencapai 228.000 ekor. Adapun harga rata-rata daging sapi per 18 Juni terlihat naik sekitar 4,02% dibandingkan harga per 11 Juni menjadi Rp107.940/kg.
Partogi menjelaskan, pemberian izin impor daging jenis secondary cut kepada Perum Bulog dapat dilakukan karena hal itu terdapat dalam aturan Menteri Pertanian Nomor 2 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 41 tahun 2015, di mana dalam kondisi tertentu untuk puasa, lebaran dan natalan, BUMN bisa ditugaskan untuk mengimpor daging sapi.

“Ini kan penugasan dan tidak setiap saat dilakukan. Kalau importir umum sifatnya dagang dan tidak memikirkan hal yang lain. Kita harus jaga peternak sapi,” ujar Partogi.

Dia mengatakan, dengan cara ini, Kemendag berharap dapat membantu masyarakat di dalam negeri memberikan daging murah yang dijual di pasar tradisional sepanjang bulan Ramadhan dan menghadapi Lebaran.

Untuk itu, Partogi juga mengingatkan agar Perum Bulog tidak menjual harga daging sapi miliknya dengan level cukup tinggi yang akan memberatkan masyarakat.
Kesanggupan Bulog

Penugasan pemerintah untuk menstabilkan harga daging sapi langsung disanggupi Perum Bulog dengan menggelar operasi pasar (OP) dengan menjual daging sapi ke pasar-pasar tradisional di wilayah Jakarta dan sekitarnya pada pekan ini.

“Insya Allah, mulai pekan depan kami akan coba masuk ke pasar dan retail untuk daging, yang mungkin bisa mengurangi beban saudara-saudara kita yang ingin berpuasa dengan memasak daging,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, akhir pekan lalu.

Djarot mengungkapkan, untuk tahap awal Bulog akan menggelontorkan daging sapi segar (non-frozen) lokal sebanyak 200 ton di wilayah Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi, dengan rata-rata volume 15 ton/hari. “Nantinya, area operasi juga akan diperluas ke daerah lain seperti Bandung dan Surabaya,” paparnya.

Setelah stok tersebut habis, pada tahap kedua Bulog akan menggelontorkan 300 ton daging sapi lokal tambahan. “Bahkan, kalau ini kurang, kami sudah siapkan impor untuk 1.000 ton,” ujarnya.

Pola yang diterapkan Perum Bulog dalam mentasbilkan harga daging sapi selama bulan Ramadhan dan menghadapi Lebaran ini jauh berbeda dengan yang diterapkan lembaga ini dua tahun sebelumnya.

Pada tahun 2013, Bulog juga ditugaskan untuk menstabilkan harga daging sapi di dalam negeri yang pada saat bulan Ramadhan dan menjelang Lebaran — yang kala itu sudah mengalami kenaikan cukup lumayan.

Sebanyak 3.000 ton daging sapi beku pun didatangkan Bulog dari Australia. Namun, dalam penyalurannya di pasaran, Perum Bulog mengalami ksulitan untuk bersaing dengan pedagang daging sapi lainya.

Karena jaringan pemasaran yang lemah, yang hanya mengandalkan pedagang daging di pasar-pasar, walaupun harga jualnya lebih murah dari daging yang dijual di pasar-pasar. Harga daging sapi beku Bulog kala itu hanya Rp75.000/kg. Sedangkan harga daging sapi segar di pasar tradisional mencapai Rp100.000/kg.

Namun, kenyataannya daging hasil impor milik Bulog tersebut ditolak oleh sejumlah pedagang karena susah menjualnya atau tidak selaku daging sapi umumnya yang dijual secara segar. Selain itu, kualitas daging sapi yang terbilang buruk menjadi alasan penolakan tersebut.

Akibatnya, hingga awal 2014, Perum Bulog masih memiliki sekitar 200 ton daging sapi beku yang diimpornya dari Australia tersebut.

Belajar dari pengalaman masa lalu itu, Perum Bulog tampaknya sudah menggunakan pola baru. Misalnya saja daging yang dilepas ke pasaran untuk tahap pertama dan kedua adalah daging sapi segar yang diperoleh dari feedloter di dalam negeri.

Selain itu, Bulog juga akan terjun langsung ke pasar-pasar tradisional dalam memasarkan daging sapi segarnya itu. Dengan pola baru ini, Djarot yakin penugasan yang diberikan pemerintah untuk lembaga yang dipimpinnya dapat berjalan dengan baik. “Insya Allah kami akan berhasil,” ucap Djarot. B Wibowo