Meningkatkan Kesejahteraan Petani

1
2262

Sebagai negara agraris, sektor pertanian masih menjadi penyerap tenaga kerja terbesar di Indonesia. Hal ini terlihat dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan kalau sekitar 34% tenaga kerja di Indonesia bekerja di sektor ini lalu diikuti oleh sektor perdagangan dan jasa sebanyak 22%, usaha sosial 16% dan sektor industri sebanyak 13%.

Walaupun masih besar, namun, persentase jumlah tenaga kerja yang ada di sektor pertanian mengalami penurunan dari tahun ke tahun. Pasalnya, dalam beberapa tahun lalu, sektor pertanian mampu menyerap 40% tenaga kerja.

Menurut Wakil Presiden Jusuf Kalla, penyebab utama merosotnya jumlah tenaga kerja di sektor pertanian adalah terlalu kecilnya pendapatan dari pekerjaan sebagai petani. Berdasarkan indeks pertanian, rata-rata penghasilan per bulan petani di Indonesia hanya Rp 1 juta per bulan, jauh di bawah rata-rata buruh industri yang gajinya mencapai sekitar Rp 3 juta   per bulan untuk UMR di kawasan Jabodetabek.

Rendahnya pendapatan petani di Indonesia ini juga terkait erat dengan kepemilikan lahan petani. Rata-rata petani di Indonesia hanya memiliki lahan seluas 0,3 hektar (ha). Lahan yang kecil itu pun dikerjakan oleh lebih dari 1 orang.

Dengan rendahnya pendapatan di sektor pertanian, perpindahan profesi dari sektor pertanian ke sektor lainnya, terutama ke sektor industri tidak bisa terhindarkan lagi. Rakyat tentu memilih bekerja di sektor yang memberikan penghasilan besar.

Perpindahan profesi ini tentu saja akan menyulitkan pemerintah dalam memenuhi target-target yang telah ditetapkan di sektor pangan. Misalnya saja target swasembada beras, swasembada jagung dan kedela. Kondisi itu juga akan menyulitkan pemerintah untuk mengikis ketergantungan impor dalam pemenuhan bahan pangan lainnya.

Merosotnya persentase tenaga kerja di sektor eprtanian harus segera ditanggapi serius oleh pemerintah. Diperlukan berbagai kebijakan yang bisa mendorong peningkatan pendapatan petani.

Memang pemerintah saat ini sudah memperlihatkan sejumlah upaya guna mendorong peningkatan produksi dan pendapatan petani. Misalnya saja Kementerian Pertanian (Kementan) yang gencar melakukan program pembagian alat dan mesin pertanian (alsintan) secara gratis kepada para kelompok petani di dalam negeri. Alsintan yang dibagikan antara lain seperti traktor, combine harvester, pompa air, hingga pengering padi.

Dengan adanya pemberian alsintan itu, pendapatan buruh tani akan meningkat yang berasal dari efisiensi biaya dan waktu tanam hingga panen. Dengan penggunaan alsintan modern, diharapkan ada penurunan losses hingga 10% serta memangkas biaya produksi hingga 40%.

Namun, kebijakan pemberian alsintan juga harus diikuti dengan upaya perbaikan di sektor pasca panen. Petani sering kali tidak mendapatkan harga jual yang baik di saat panen tiba. Karena itu, pemerintah harus mampu menjamin hasil panen petani bisa terserap dengan baik dan dengan harga yang menguntungkan. Peningkatan kesejahteraan petani akan menjadi daya tarik bagi masyarakat untuk terjun ke sektor itu.

1 COMMENT

Comments are closed.