Bibit Pohon Meretas Senyum di Gunung Tangis

0
138

Bukan tanpa cerita jika Gunung Tangis menjadi nama dusun yang terletak di Desa Rek Kerrek, Kecamatan Palengaan, Kabupaten Pamekasan. Dengan topografinya yang berbukit-bukit, Dusun Gunung Tangis selalu punya cerita yang menguras air mata saat kekeringan di musim kemarau.

Tanahnya berkapur dan berbatu. Kondisi yang membuat warganya tak punya banyak pilihan mata pencaharian demi mencapai kesejahteraan. Budidaya palawija dan tembakau hanya bisa dilakukan di musim penghujan. Setelah itu, warga pun lebih banyak menjadi tukang batu.

Namun, seperti umumnya masyarakat Madura, warga Dusun Gunung Tangis juga pantang menyerah. Kondisi alam yang ekstrem tak membuat mereka diam dan meratapi keadaan. Sebaliknya, kondisi itu menjadi pemicu semangat untuk terus survive dan memperbaiki kehidupan. Dan, harapan itu timbul pada bibit-bibit pohon yang mereka tanam.

Menurut Ketua Kelompok Tani Jaya Abadi, Hayyan, kondisi alam tempat tinggal masyarakat Gunung Tangis membuat warganya menyadari penghijauan adalah solusi. Sayangnya, tak mudah mendapat bibit yang berkualitas di sana. Kalaupun ada, harus ditebus sekitar Rp2.500 per batang. Sementara kebutuhan bibit bisa mencapai puluhan bahkan ratusan batang.

“Harga bibit yang mahal membuat penghijauan terhambat. Daripada harus membeli bibit, warga kami lebih memilih untuk menggunakan uangnya untuk keperluan pokok yang mendesak,” jelas Hayyan saat ditemui, medio Juni lalu.

Untungnya, pada tahun 2013, Hayyan dan 40 anggotanya mendapat bantuan Kebun Bibit Rakyat (KBR). Bantuan KBR disalurkan melalui Balai Pengelolan Daerah Aliran Sungai Brantas bersama Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan.

KBR adalah program penyediaan bibit berkualitas secara gratis dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK). Dalam KBR, setiap kelompok tani memperoleh bantuan sebesar Rp50 juta. Dana tersebut secara swakelola harus dimanfaatkan untuk membuat pembibitan dan selanjutnya ditanam di lahan-lahan milik masyarakat.

Menurut Hayyan, kelompoknya ditargetkan untuk membuat 40.000 batang bibit dalam program KBR. Bibit yang diproduksi adalah tanaman unggulan lokal dan sesuai dengan keinginan masyarakat. “Kami membibitkan mahoni, akasia auri, dan sirsak,” kata dia.

Berdasarkan rencana, bibit yang diproduksi adalah 25.000 batang mahoni, 13.000 batang akasia auri, dan 2.000 batang sirsak. Kelompok Tani Jaya Abadi berhasil memproduksi hingga 43.605 batang bibit atau 1009,01% dari target awal. Agar bibit yang dihasilkannya berkualitas tinggi, kelompok Tani Jaya Abadi menggunakan benih bersertifikat yang dikeluarkan oleh Balai Pebernihan Tanaman Hutan Jawa-Madura.

Hayyan menuturkan, bibit yang dihasilkan dibagikan secara cuma-cuma kepada masyarakat yang tersebar di tiga desa. Yaitu Desa Rek Kerrek, Desa Rombuh, dan Desa Akkor. Bibit yang dibagikan ditanam dengan luas setara 100 hektare (ha).

Hayyan dan kelompoknya terhitung beruntung, karena kembali mendapat bantuan berupa insentif penanaman. Insentif berikan sebagai wujud penghargaan kepada masyarakat yang mau terlihat dalam gerakan menanam. Insentif diberikan dalam bentuk pupuk dan biaya pemeliharaan lanjutan. Harapannya, bibit yang tertanam bisa tumbuh baik dan bisa dinikmati hasilnya suatu saat kelak. “Berdasarkan hasil evaluasi, sebanyak 35.000 batang atau 87,5% bibit yang kami tanam berhasil hidup,” kata Hayyan.

Teduhg dan nilai ekonomi

Hayyan memang tak asal klaim. Dia menunjukan beberapa lokasi yang menjadi penanaman. Di sana tumbuh mahoni dengan tinggi lebih dari dua meter. Sementara tanaman jenis akasia auri yang memang termasuk jenis cepat tumbuh, tingginya bisa lebih dari enam meter. Diameter batang pun besar, sekitar sepaha orang dewasa. Suksesnya pelaksanaan KBR membuat Kelompok Tani Jaya Abadi menjadi pemenang tingkat nasional dalam lomba KBR tahun 2015.

Hayyan berharap dengan semakin banyak pohon ditanam, dusunnya bakal semakin teduh. Tak hanya itu, pohon yang ditanam diharapkan bisa menyimpan air sehingga menyudahi cerita kekeringan di musim kemarau.

Tak cuma itu, pohon yang ditanam juga punya potensi nilai ekonomi yang tinggi. Setelah 7-8 tahun, pohon yang ditanam bisa dijual ke industri kayu pertukangan atau furnitur seharga Rp800.000-Rp900.000 per meter kubik. “Setelah pohon dipanen tentu saja akan kami tanam lagi dengan jumlah bibit lebih banyak,” katanya.

Hayyan menuturkan, pengalaman menerima bantuan KBR sangat berguna bagi dia dan kelompoknya. Kini Hayyan bisa memproduksi bibit berkualitas secara swadaya, jadi tak perlu membeli bibit lagi jika ingin menanam pohon. AI

KBR, Pilar Kesuksesan Gerakan Menanam

Sekretaris Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Pamekasan, Agus S Santoso menuturkan, cukup mudah untuk mengajak masyarakat Pamekasan terlibat dalam gerakan penghijauan dan penanaman lahan kritis. Pasalnya, masyarakat Pamekasan memiliki kesadaran yang tinggi tentang pentingnya tutupan vegetasi pohon. “Menjadi bagian dari pulau kecil, alam Pamekasan cukup panas. Pohon yang ditanam membuat Pamekasan kini lebih sejuk dan menjaga kontinyuitas pasokan air,” katanya.

Karena kesadaran yang tinggi itu, maka program KBR yang ditawarkan pemerintah pusat selalu diminati. Sebagai rincian, Pamekasan mendapat program 13 unit KBR pada tahun 2010, kemudian 42 unit KBR tahun 2011, 45 unit KBR tahun 2012, sebanyak 48 unit KBR tahun 2013, dan 12 unit KBR tahun 2014. “Lebih dari 50% bibit yang diproduksi berhasil tumbuh dengan baik,” kata Agus.

Menurut Agus, yang mulai harus dipikirkan ke depan adalah pemanfaatan hasil panen pohon yang ditanam. “Jika pohon hasil tanaman memiliki nilai ekonomi yang baik, masyarakat akan semakin bersemangat menanam,” katanya.

Sementara Direktur Bina Perbenihan Tanaman Hutan Kementerian LHK, Mintarjo menjelaskan, KBR adalah salah satu pilar suksesnya gerakan menanam dan rehabilitasi lahan kritis. “Program KBR kami teruskan dengan perbaikan-perbaikan dalam pelaksanannya,” katanya.

Sebagai gambaran, sejak mulai diluncurkan tahun 2010, sudah lebih dari 42.000 KBR yang terbangun. Program KBR tidak sekadar ditujukan untuk penyediaan bibit penghijauan, tapi juga dalam rangka pemberdayaan masyarakat.

Untuk bisa mendapat bantuan KBR, kelompok tani yang terdiri dari minimal 15 orang harus punya lokasi sasaran penanaman seluas 25-100 ha dan berada pada areal sasaran rehabilitasi hutan dan lahan. Lokasi penanaman harus dilengkapi koordinat untuk pemantauan satelit.

Mereka kemudian bisa mengajukan usulan kepada Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS) yang ditembuskan kepada Dinas Kehutanan setempat. Jika lolos dari verifikasi, maka bantuan KBR akan dikucurkan secara bertahap, berdasarkan perkembangan pembibitan.

Mintarjo menekankan, program KBR mampu menyediakan bibit berkualitas di desa-desa. Selain itu, KBR mendukung lingkungan desa menjadi lebih hijau. AI