Mbah Gontho, Manusia Panjang Umur

0
74

Teka-teki tentang usia Mbah Ghoto alias Sodimejo yang disebut-sebut kini menjadi manusia tertua di dunia, ternyata belum bisa dibuktikan secara ilmiah, meskipun teknologi di bidang kedokteran sudah demikian majunya. Padahal, tak sulit untuk mencari kebenaran umur sang kakek renta yang tinggal di Dukuh Segeran, Kelurahan Ceweng, Kecamatan Sambungmacan, Kabupaten Sragen, Jateng ini.

Maklum, lokasi tempat tinggal Mbah Gontho di Sragen itu tak jauh dari kampus Universitas Sebelas Maret, Solo atau Universitas Gajah Mada, Yogjakarta maupun Universitas Diponegoro, Semarang. Perguruan tinggi negeri tersebut memiliki Fakultas Kedokteran, sehingga jika melakukan penelitian tidak membutuhkan transportasi yang mahal.

Dari kota Sragen, untuk mencapai lokasi tempat tinggal Mbah Gontho hanya cukup ditempuh 30 menit menggunakan kendaraan roda. Jalan menuju ke desa juga sudah mulus. Namun, sampai sekarang ketiga universitas negeri atau perguruan tinggi lain di Indonesia belum ada yang tertarik melakukan penelitian usia sesungguhnya sang kakek yang memiliki 17 cucu, 11 cicit, dan 3 canggah tersebut.

Mbah Gotho, demikian masyarakat desa itu memangil, berusia 146 tahun, di mana sesuai dengan KTP-nya tercatat lahir 31 Desember 1870. Jika benar usianya sepanjang itu, maka boleh jadi Mbah Gontho merupakan manusia terlangka di dunia.

Wajar jika kemudian sebulan terakhir ini nama Mbah Sodimejo menjadi buah bibir masyarakat dan telah menghiasi hampir semua halaman koran, layar televisi dan media sosial. Karena penasaran, minggu lalu kontributor Agro Indonesia, Hariyono Soeroso — yang juga Ketua Alumni Fakultas Kehutanan UGM — menyambangi petani yang kini menjadi manusia panjang usia. Dia berharap, kiranya UGM mengambil inisiatif untuk menjawab berbagai sinyalemen tentang umur petani tua itu.

Yang jelas, Mbah Gontho selalu minum air putih secukupnya, teh hangat dan sesekali masih minum es. Tidur pun di amben beralas kayu atau juga di lantai. Kemampuan berjalan Mbah Gontho memang sudah berkurang jauh. Dia hanya sanggup berjalan 10 meter, namun soal makan masih bisa tiga hari sekali, meski apa adanya. Yang dahsyat, Mbah Gontho masih merokok dan sanggup menghabiskan satu bungkus sehari.

Berikut obrolan Mbak Gontho dengan dialek Jawa yang didampingi cucunya, Suryanto. Sang cucu ini sekaligus menjadi juru penjelas dari apa yang dibicarakan kakeknya.

Bagaimana kesehatan Mbah Gontho, apa sehat-sehat saja? 

Ya. Sehat-sehat saja tak kurang apapun.

Apa sih rahasia menjaga agar umur panjang seperti Mbah Gontho?

Saya tidak punya pantangan apa-apa dalam soal makanan. Minum air putih secukupnya, minum air teh hangat dan sekali-kali juga minum air es. Makan tiga kali sehari dan tidur beralas papan.

Dengan usia seperti sekarang, berapa jauh bisa berjalan dan apa saja kegiatannya?

Saya sudah tidak bisa jalan kaki jauh-jauh, paling 10 meter saja. Lebih banyak duduk dan tidak punya kegiatan lagi, termasuk ke ladang.

Apa sudah ada pihak kesehatan yang mengecek dan kapan terakhir jika ada?

(Dijawab Suryanto) Terakhir ada dokter Pemda yang datang dan mengecek kesehatan Mbah Gontho. Hasilnya bagus. Gula darah 93, asam urat di bawah 7, tensi atas 130.

Kira-kira apa saja yang masih diingat Mbah Gontho ketika kecil?

Itu soal pendirian pabrik gula. Waktu itu saya masih kecil, dan saya ingat betul ketika itu rencana pembangunan pabriknya berada di sebelah selatan rel Kereta Api, tapi entah mengapa lalu dipindahkan di sebelah utara rel KA.

(Berdasarkan catatan sejarah, Pabrik Gula (PG) Mojo di Desa Kedung Banteng Gondang, Sragen, dibangun ketika Belanda berkuasa antara 1880-1883. Kemudian pembangunan jalan KA antara Kota Semarang-Surakarta yang diawali 1864 dan pertama kali dibangun jalan sepur dari Kemijen menuju Desa Tanggung sepanjang 26 km. Keberhasilan pembangunan jalan KA antara Kemijen-Tanggung kemudian dilanjutkan hingga menghubungkan kota Semarang-Surakarta. Pada tahun 1869, Pemerintah Hindia Belanda mendirikan perusahaan kereta api Staats Spoorwegen (SS) dan membangun lintasan-lintasan di Jawa dimulai dari Batavia-Bogor. Pertumbuhan panjang jalan rel antara 1864-1900 tumbuh dengan pesat).

Terus apa lagi yang Mbah Gontho masih ingat?

Ya itu. Ayah (orangtua Mbah Gontho, Red.) merupakan satu dari empat keluarga pertama yang bermukim di Dukuh Segeran. Saya masih kecil dan mulai tinggal di sini sampai sekarang. Tapi kini, Dukuh Segeran sudah ramai sekali.

Masih ada hutan di sekitar wilayah ini?

Sudah nggak ada. Di sebelah barat daerah Sumberlawang, Purwodadi masih ada hutan jati yang lebat sekali dan pohonnya besar-besar. Di sebelah timur daerah Ngawi, juga terdapat hutan jati yang masih lebat. Kalau daerah ini dari dulu menjadi lahan pertanian dan andalannya tanaman tebu.

Berapa sih keluarga Mbah Gontho?

Istri saya empat. Tapi semua sudah meninggal dunia. Isteri pertama, Parinem dan tidak punya anak, meninggal. Lalu nikah lagi dengan Pontiah dan dikaruniai satu anak. Tapi istri kedua pun juga meningggal. Kembali nikah lagi. Istri ketiga Salinem dengan satu anak. Istri ketiga juga meninggal. Terakhir kawin lagi dengan Rayem dan memperoleh 3 anak.

Terus apa lagi Mbah cerita yang masih diingat?

Musim paceklik. Ketika anak-anak dari istri keempat masih kecil-kecil terjadi musim paceklik yang luar biasa. Pengalaman pahit itu tidak pernah terlupakan hingga saat ini. Stok makanan yang berupa suwek (umbi-umbian) kering, gaplek (ubi kayu yang dikeringkan), dan gabah sebagai bahan makanan pokok masyarakat, terkuras habis.

Untuk membeli bahan makanan terpaksa harus menjual apa saja. Karena tak punya apa-apa dan hanya memiliki Timang (sabuk/ikat pinggang tradisional terbuat dari perak-kuningan). Itu terpaksa saya gadaikan. Yang tidak terlupakan karena saat itu kantor pegadaian penuh nasabah. Saking penuhnya saya bikin sandiwara. Saya berbohong kepada  petugas (sekuriti) bahwa saya minta untuk didahulukan. Alasannya, ditunggu masyarakat karena hasil gadai ini akan dibelikan mori (kain kafan orang meninggal).

Cara ini berhasil. Petugas masuk ke dalam kantor, dan tak lama muncul seorang Bule (Belanda). Bule tadi mengumumkan dan minta izin bahwa ini ada orang yang nomor antreannya belakang tapi minta didahulukan. Ternyata para nasabah tidak keberatan dengan alasan membeli mori untuk jenazah.

Berapa nilai Timang tadi, dan setelah berhasil uangnya untuk apa?

Singkat kata, Timang dihargai 5 perak. Uang tadi saya belanjakan gaplek dan mendapat 2 kilogram dengan harga 3 perak, sisanya saya bawa pulang.

Terakhir Mbah. Di usia seperti sekarang apa lagi yang diharapkan?

Yang saya inginkan cuma satu, meninggal dunia. Karena semua cucu-cucu sudah mandiri. (Diceritakan Suryanto bahwa sejak tahun 1992 kakeknya sudah mempersiapkan diri untuk meninggal dunia. Saat itu telah menyiapkan peti mati termasuk kuburannya). AI