Persaingan “Orang” Jokowi dan Mantan Menko

0
198

Meski bakal ‘berebut’ posisi Ketua umum, namun tak ada aroma persaingan antar tiga calon yang mencuat. Mereka malah saling memuji. Situasi ini memunculkan harapan bahwa suksesi APHI kali ini akan berjalan mulus. Tak cuma itu, APHI pun diharapkan akan semakin solid untuk mendukung kembalinya kejayaan kehutanan Indonesia.

Munas APHI kali ini akan tema “Mewujudkan Bisnis Kehutanan Sebagai Sektor Unggulan Strategis Yang Berwawasan Lingkungan”. Munas akan dihadiri oleh Peserta dan Peninjau yang jumlahnya sekitar 400 orang. Peserta adalah Anggota Biasa dan Anggota Luar Biasa APHI yang izinnya masih berlaku dan terdaftar sebagai anggota APHI selambat-lambatnya tanggal 10 Oktober 2016 yang telah diverifikasi. Sedangkan peninjau dari Dewan Pengurus, Dewan Pengawas, Badan Penasehat dan Komisariat Daerah (KOMDA).

Salah satu agenda penting dari Munas adalah pemilihan Ketua umum. Apalagi, Sugiono, Ketua Umum APHI saat ini sudah memberi sinyal untuk tak lagi mencalonkan diri.

“Kalau mau, maka calon yang mendaftar akan dipersyaratkan berpengalaman sebagai ketua umum. Jadi tidak ada yang bisa mendaftar selain saya,” katanya dengan nada canda, di Jakarta, Kamis (13/10/2016).

Sugiono menuturkan, demi memuluskan suksesi kepemimpinan APHI, maka Munas digelar 1 bulan lebih awal. Seharusnya, masa kepengurusannya baru akan berakhir November mendatang. Penyelenggaran Munas yang lebih awal, kata Sugiono, diharapkan bisa memberi kelapangan waktu bagi pengurus baru untuk menyusun program kerja tahun depan.

Sementara itu, Sekretaris Panitia Pelaksana Munas APHI tahun 2016, Purwadi Suprihanto menuturkan, proses pemilihan Ketua umum APHI akan diatur dalam tata cara yang diputuskan dalam Munas. Meski demikian, panitia pelaksana sudah menyiapkan rancangannya.

Berdasarkan draft tata cara pemilihan Ketua Umum itu, latar belakang calon ketua umum APHI tak dibatasi. Tak mesti harus dari internal anggota. “Calon ketua umum diusulkan  minimal oleh lima anggota APHI. Jadi, apapun latar belakangnya, sepanjang memenuhi persyaratan tersebut, tak masalah,” katanya.

Purwadi menyatakan, pemilihan ketua umum akan mengedepakan musyawarah untuk mufakat. Lewat musyawarah, maka semua pihak akan menjadi pemenang sehingga bisa menjaga soliditas anggota APHI.

Atas dasar itu, maka nantinya semua calon yang mendaftar akan diberi kesempatan untuk melakukan pertemuan. Mereka diberi kesempatan untuk menentukan siapa yang akan menjadi ketua umum.  “Jika tak tercapai kesepakatan, maka proses pemilihan dilanjutan dengan proses voting,” kata Purwadi.

Nantinya, ketua umum  yang terpilih akan menjadi formatur untuk pengurus APHI periode 2016-2021.

Sampai Jumat (14/10/2016), ada tiga nama kandidat yang muncul. Mereka adalah Rahardjo Benyamin, Bambang Supriyambodo, dan yang cukup mengejutkan adalah Indroyono Soesilo. Sejumlah nama lain sempat beredar, seperti mantan Dirjen Bina Produksi Kehutanan Kementerian Kehutanan Hadi S. Pasaribu dan yang tak kalah mengejutkan, eks Komisioner KPK Adnan Pandu Praja. Namun, dua nama terakhir belakangan redup.

Lalu, apa dan siapa tiga kandidat yang akan bersaing, berikut profil singkatnya:

Rahardjo Benyamin

Menjadi yang pertama mendaftar sebagai calon Ketua umum APHI periode 2016-2021. Jojo, demikian panggilan akrabnya, punya pengalaman panjang berkarir di kehutanan. Lulusan Fakultas Kehutanan IPB ini memulai karirnya dengan bekerja di PT Inhutani I. Di BUMN yang kini menjadi anak usaha Perum Perhutani itu, karir Jojo melaju mulus. Hingga sampai tahun 1994 dia diangkat menjadi Direktur Utama  PT Ratah Timber. Di tahun yang sama, Jojo juga diangkat menjadi Direktur Utama PT Roda Mas Timber Kalimantan. Kemudian Jojo juga diangkat menjadi Direktur Utama PT Kemakmuran Berkah Timber

Di bawah kendalinya, perusahaan itu rupanya berkembang pesat. Selain produksinya lancar, perusahan dalam kelompok Roda Mas Timber itu juga mampu memperoleh sertifikat pengelolaan hutan produksi lestari versi FSC. “Jangan serakah. Itu kunci agar mengelola usaha bisa berkelanjutan. Keuntungan yang diperoleh bukan hanya untuk pemegang saham, tapi juga diberikan kepada karyawan dan masyarakat,” katanya.

Keberhasilannya mengelola perusahaan-perusahan tersebut rupanya menggelitik perusahan lain untuk menjadikannya sebagai Direktur Utama. Termasuk PT Civika Wana Lestari dan PT Sarana Tri Rasa Bhakti. Tangan midas Jojo kembali terbukti. Perusahaan-perusahaan dengan modal tak seberapa itu berhasil dibawa hingga mampu berkinerja baik.

Saat ini, Jojo masih tercatat sebagai komisaris dan penasehat senior di sejumlah perusahaan.

Di APHI, Jojo bukan orang baru. Ia pernah menjabat sebagai Ketua APHI Kalimantan Timur pada periode 1981-1985. Beberapa jabatan di APHI juga pernah diembannya kemudian. Pada kepengurusan 2011-2016 saat ini, Jojo menjabat sebagai Wakil Ketua Umum II.

Selain aktif di APHI, pria yang mengembangkan jiwa usaha sejak kuliah dengan berdagang telur dan kambing kurban itu juga aktif di sejumlah organisasi termasuk Persatuan Sarjana Kehutanan Indonesia (Persaki).

Indroyono Soesilo.

Nama mengejutkan yang muncul dalam bursa pemilihan Ketua umum APHI. Maklum, pria kelahiran Bandung, 27 Maret ini pernah mejabat sebagai Menteri Koordinator bidang Maritim, di awal masa pemerintahan Presiden Joko Widodo.

Meski punya nama besar, toh Indroyono menyatakan kesediaannya untuk dicalonkan sebagai Ketua umum APHI. “Jika memang para pemangku pihak menghendaki saya bersedia,” katanya. Kabarnya, dukungan bagi Indroyono selain datang dari perusahaan kecil dan menengah, juga datang dari kelompok raksasa di bisnis kehutanan.

Menyebut Indroyono, yang terbersit adalah citranya di sektor maritim. Lulusan Fakultas Geologi ITB itu memang malang melintang di sektor maritim.  Memulai karirnya di BPPT, karirnya moncer sehingga sempat menduduki jabatan Kepala Sub Direktorat Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam (TISDA) Matra Dirgantara BPPT dari tahun 1995-1997. Ia diberi tugas pokok mengembangkan aplikasi teknologi remote sensing dan GIS BPPT.

Di tahun 1997 itu pula keterlibatannya dengan hutan begitu kentara. Saat itu, kebakaran hutan melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Indroyono pun memimpin tim untuk menjinakkan api yang mengamuk di hutan Sumatera. Berbekal kepakaran di bidang penginderaan jarak jauh, Indroyono dan timnya bergerak untuk melokalisir dan memadamkan api. “Jadi sesungguhnya saya sudah terlibat dengan kehutanan sejak lama,” kata Indroyono.
Karirnya pun terus menanjak. Di tahun 1999, Indroyono mulai berkiprah di Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) dengan mengepalai unit eselon I di bidang riset. Sejumlah prestasi penting pun dicatatnya.

Setelah itu, dia diangkat menjadi Sekretaris Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat (Sesmenko Kesra) Republik Indonesia pada 20 Juni 2008.

Karir internasionalnya mentereng setelah terpilih menjadi Direktur di Badan PBB untuk Pangan dan Pertanian, FAO, pada tahun 2012. Belakangan, Indroyono menerima mandat dari Presiden Joko Widodo untuk menjabat sebagai Menko Maritim, sejak tahun 2014-2015.

Bambang Supriyambodo

Menyebut Bambang Supriyambodo sebagai ‘orang’ Jokowi, mungkin berlebihan. Tapi fakta mengungkapkan, pria kelahiran Klaten 12 Januari 1961 ini memang punya hubungan erat dengan Presiden.

Bambang memulai karirnya dari bawah. Lama berkarir di PT ITCI Kartika Utama, Bambang menapaki karirnya secara bertahap. Salah satu karyanya yang paling kentara adalah proyek pembangunan hutan meranti. Proyek ini membuktikan, meranti bisa dikelola sebagai tegakan hutan tanaman.

Di ITCI Kartika Utama, karir Bambang sempat ke puncak dan menduduki posisi Direktur Komersial di tahun 2007-2008, dan kemudian Direktur Operasi di tahun 2008-2009.

Karir Bambang terus melaju, selepas dari ITCI Kartika Utama. Dia diminta untuk mengendalikan PT Adimitra Lestari, pemegang IUPHHK seluas 52.100 hektare di Kalimantan Timur. Asal tahu saja, perusahaan itu milik kelompok Toba Sejahtera yang saham mayoritasnya, lebih dari 90%, dimiliki oleh Luhut Binsar Pandjaitan.

Berawal dari sini pula hubungan antara Presiden Joko Widodo dan Luhut B Panjaitan bersemi.  Luhut yang tak ingin hasil produk HPH-nya dijual dalam bentuk gelondongan mencari mitra pengusaha furnitur untuk mengolahnya menjadi berbagai produk jadi. Bambang pun memperkenalkan pengusaha mebel asal Solo, yang juga merupakan teman kuliahnya di Fakultas Kehutanan UGM, Joko Widodo.

Maka berdirilah PT Rakabu Sejahtera di tahun 2009. Kelompok Toba Sejahtera memiliki setengah kurang sedikit di pabrik furnitur yang memproduksi berbagai jenis rangka kayu, lantai kayu dan furnitur, untuk tujuan ekspor itu. Sementara saham yang setengah lebih sedikit dimiliki oleh Gibran Rakabuming Raka, anak pertama Presiden Jokowi.

Bambang sendiri enggan mengaitkan munculnya dia dalam bursa Ketua umum APHI dengan Presiden Joko Widodo dan Luhut Pandjaitan. Dia menyatakan kesediaan dirinya dicalonkan karena ingin meneruskan hasil kerja Ketua Umum APHI saat ini, Sugiono. “Pak Sugiono berhasil memimpin APHI. Apa yang sudah dicapai perlu diteruskan agar semakin baik,” kata Bambang.

Dia mengatakan menghormati calon lain di bursa. Itu sebabnya, dia akan mengedepankan musyawarah mufakat untuk penentuan siapa yang berhak menjadi Ketua umum APHI. “Kami di sini bukan menang-menangan. Tidak memperebutkan apa-apa, karena sifatnya sukarela, tanpa bayaran,” katanya.

Bambang menyatakan, APHI ke depan harus bisa mewakili semua perusahaan anggotanya. Perusahaan yang kecil maupun besar harus sama-sama  melindungi dan saling menyokong. Bambang juga menyatakan ingin menghapus dikotomi UGM-IPB yang selama ini kental dirasakan di kalangan rimbawan. Sugiharto