Produsen Pakan pun Berdalih

0
258

Rekomendasi impor jagung yang diterbitkan Kementerian Pertanian (Kementan) kepada Perum Bulog beberapa waktu lalu telah menimbulkan pertanyaan serius, apakah produksi jagung di dalam negeri tidak mampu memenuhi kebutuhan jagung nasional?

Data dari Asosiasi Produsen Pakan Indonesia (APPI) menyebutkan, produksi pakan ternak tahun 2016 ini  diprediksi mencapai 16,5 juta ton. Untuk dapat memenuhi target tersebut, dibutuhkan sedikitnya 8,3 juta ton jagung dengan kadar air 14%. Jika kebutuhan jagung di luar pakan ternak mencapai sekitar 9 juta ton, maka kebutuhan jagung nasional secara total pada tahun ini mencapai sekitar 17 juta ton.

Jika mengacu pada prediksi yang dibuat Kementerian Pertanian (Kementan) bahwa produksi jagung tahun 2016 bisa mencapai 21, 5 juta ton atau minimal bisa menembus angka 19 juta ton, maka kekurangan pasokan jagung tidak akan terjadi pada saat ini. Yang ada malah surplus!

Namun, bagi produsen pakan ternak, meski produksi jagung di dalam negeri melebihi kebutuhan nasional, bukan berarti kebutuhan jagung bagi industri pakan ternak bisa dipenuhi seluruhnya dari dalam negeri. Menurut Desianto Budi Utmo, Sekjen Gabungan Produsen Makanan Ternak (GPMT) — yang berubah nama menjadi Asosiasi Produsen Pakan Indonesia(APPI) — ada dua kendala yang dihadapi produsen pakan ternak dalam mendapatkan bahan baku berupa jagung dari dalam negeri.

“Kendala pertama adalah sentra tanaman jagung yang berada di remote area atau jauh dari lokasi pabrik pakan ternak,” ujar Desianto kepada Agro Indonesia, akhir pekan lalu. Menurutnya, lokasi sentra jagung dengan pabrik pakan ternak tentunya akan menyulitkan petani untuk menjual hasil panennya kepada industri pengolah jagung.

Kendala kedua, ungkapnya, kualitas atau mutu dari jagung yang dihasilkan petani jagung di dalam negeri tidak mampu memenuhi persyaratan yang ditetapkan oleh industri pengolah jagung. “Tentunya industri pakan ternak tidak menginginkan jagung-jagung yang mutunya di bawah standar,” katanya.

Yang jadi masalah, ungkapnya, ada sejumlah sentra jagung di dalam negeri yang hasil panennya hanya sedikit saja yang memenuhi persyaratan yang ditetapkan industri.

Desianto menjelaskan, ketidakmampuan sejumlah sentra jagung dalam memenuhi persyaratan yang ditentukan industri pakan ternak itu antara lain disebabkan masih minimnya perawatan pasca panen yang dilakukan petani maupun pemerintah.

Dia mencontohkan soal masih minimnya ketersediaan gudang peyimpanan di sentra-sentra jagung usai melakukan panen raya sehimgga jagung yang dihasilkan banyak yang ditolak industri.

Pembelian langsung

Untuk mendapatkan bahan baku jagung yang memenuhi standar yang ditetapkan, produsen pakan ternak kelas menengah-atas saat ini terjun langsung ke lapangan. “Banyak produsen pakan ternak yang kini melakukan pembelian langsung ke kelompok tani untuk mendapatkan jagung yang memenuhi standar yang mereka tetapkan,” paparnya.

Kondisi itu, akhirnya menyulut terjadinya kenaikan harga jagung. Jika pada tahun lalu harga jagung dengan kadar air 15% di tingkat petani mencapai Rp3.100/kg dan jika ditambah ongkos angkut ke pabrik sebesar Rp150/kg hingga harga total menjadi Rp3.250/kg, maka saat ini harga jagung di gudang pabrik mencapai kisaran Rp4.300 hingga Rp4.400/kg.

Kenaikan harga ini tentunya memperlihatkan adanya masalah dalam hal pasokan dan kebutuhan jagung bagi industri pakan ternak di dalam negeri saat ini.

Untuk itu, Desianto menyambut baik kebijakan pemerintah memerintahkan Perum Bulog untuk mengimpor jagung. Jagung yang diimpor Perum Bulog itu nantinya bisa dijadikan stok atau untuk membantu peternak rakyat untuk mendapatkan jagung yang berkualitas.

Desianto mengatakan, dalam kondisi sekarang ini, peternak rakyat menjadi pihak yang mengalami kesulitan untuk mendapatkan jagung yang berkualitas untuk pakan ternaknya.

“Mereka tidak memiliki fasilitas gudang atau cold storage yang memadai untuk menyimpan jagung. Dengan begitu, mereka dikhawatirkan akan mengalami kesulitan mendapatkan jagung yang berkualitas,” ujarnya.

Serap jagnung lokal

Seperti diketahui, awal Oktober lalu Kementan telah memberikan rekomendasi impor jagung sebanyak 200.000 ton kepada Perum Bulog. Rekomednasi itu kemudian ditindaklanjuti oleh Kementerian Perdagangan (Kemendag) dengan mengeluarkan Surat Persetujuan Impor (SPI) kepada Perum Bulog untuk mengimpor jagung.

Dirjen Perdagangan Luar Negeri Kementerian Perdagangan, Dody Edward menyatakan, SPI itu telah dikeluarkan Kemendag tidak lama setelah rekomendasi impor jagung diterbitkan Kementan. “SPI untuk Perum Bulog telah dikeluarkan tidak lama setelah rekomendasi impor jagung dikeluarkan Kementan,” kata Dody kepada Agro Indonesia, Jumat (21/10/2016).

Menurut Dody, SPI yang dikeluarkan Kemendag itu memiliki masa berlaku hingga akhir tahun 2016 ini. Sedangkan mengenai negara asal impor, dia menjelaskan sejumlah negara, seperti Amerika Serikat, Brasil, Meksiko. “Jagung impor itu nantinya akan ditujukan sebagai cadangan dan untuk industri pakan ternak,” ujarnya.

Sementara itu Direktur Komersial Perum Bulog, Wawan Karyawan Gunarso menjelaskan, pihaknya memang telah menerima rekomendasi dan SPI untuk kegiatan impor jagung sebanyak 200.000 ton itu. “Sesuai rakortas, kita memang diperintahkan untuk mengimpor jagung yang nantinya bisa dipergunakan sebagai cadangan atau untuk industri pakan ternak,” ujarnya.

Selain impor, ungkapnya, Perum Bulog juga telah melakukan penyerapan jagung di dalam negeri. “Kami juga melakukan pembelian terhadap jagung hasil panen petani di dalam negeri,” paparnya.

Adapun harga pembelian jagung yang dilakukan Perum Bulog untuk jagung-jagung petani adalah Rp3.100/kg, sesuai dengan harga eceran tertinggi (HET) yang diterapkan pemerintah terhadap komoditas tersebut.

Namun, Wawan belum bisa mengungkapkan berapa besar volume jagung yang telah diserap Perum Bulog saat ini dari sentra jagung di dalam negeri karena angkanya terus berkembang. “Yang pasti, kami masih terus melakukan penyerapan jagung sesuai dengan kriteria yang ditentukan,” ucapnya.

Data impor

Jika Perum Bulog mampu merealisasikan impor jagung sebanyak 200.000 ton, itu maka, pada tahun 2016 ini Indonesia mengimpor jagung sebanyak 1.074.930 ton.  Pasalnya, selama  periode Januari-September 2016, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, impor jagung adalah 874.930 ton atau setara 174,1 juta dolar AS.

Angka itu jauh lebih kecil jika dibandingkan dengan impor jagung pada periode yang sama di tahun sebelumnya yang mencapai 2,5 juta ton atau setara 565 juta dolar AS.
Adapun negara asal impor jagung terbesar Indonesia pada periode Januari-September 2016 adalah Brasil 465.246 ton, Argentina 307.635 ton, Amerika Serikat 93.885 ton, Thailand 6.605 ton, India 515 ton.

Volume impor yang dilakukan Indonesia pada tahun 2016 ini juga dipastikan akan jauh lebih rendah dari volume impor jagung yang direncanakan pemerintah pada tahun 2016 ini.

Sebelumnya, akhir tahun lalu, pemerintah memutuskan untuk mengimpor jagung sebanyak 2,4 juta ton untuk kebutuhan pakan ternak pada 2016. Impor itu akan direalisasikan secara bertahap sebanyak 200.000 ton setiap bulan. B Wibowo