Kebijakan Proteksionisme Pemerintah AS

0
757

Pemilihan presiden yang digelar di Amerika Serikat pekan lalu telah memberikan kejutan. Kandidat dari Partai Republik, Donald Trump berhasil mengalahkan saingannya  Hillary Clinton.

Terpilihnya Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang baru langsung memberikan dampak terhadap perdagangan saham dan nilai tukar mata uang dolar di sejumlah negara, termasuk di Indonesia.

Pada perdagangan di pasar uang akhir pekan lalu, nilai tukar rupiah sempat melemah ke posisi 13.800 sebelum akhirnya Bank Indonesia melakukan intervensi di pasar uang untuk menjaga nilai tukar rupiah tidak terperosok lebih dalam lagi.

Menurut sejumlah kalangan, faktor eksternal, terutama terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden AS, ikut mempengaruhi pergerakan nilai tukar rupiah terhadap mata uang dari negeri Paman Sam itu.

Memang, terpilihnya Trump telah menimbulkan pernyataan banyak pihak mengenai masa depan ekonomi global dan hubungan ekonomi AS dengan negara-negara di dunia, termasuk dengan Indonesia.

Ada kekhwatiran kalau terpilihnya Trump akan membuat investasi dari AS ke negara-negara di dunia menjadi stagnan atau bahkan menurun. Hal ini tidak terlepas dari   kebijakan Trump yang dilontarkan dalam kampanyenya. Dia akan mendorong investor AS untuk mengutamakan investasi di dalam negeri ketimbang di luar negeri.  Dengan banyaknya investasi di negeri sendiri, Trump berkeyakinan tingkat pengangguran di AS akan menurun dan pertumbuhan ekonomi negeri adidaya itu akan terdongkrak lagi.

Kebijakan itu tentu saja membuat banyak negara menjadi was-was mengingat selama ini banyak negara yang masih mengandalkan masuknya investor-investor asal AS ke negeri mereka.

Kebijakan Trump lainnya di bidang ekonomi yang perlu diwaspadai adalah sikapnya yang lebih mengarah kepada proteksionisme. Dia ingin melindungi pasar dalam negeri dari serbuan produk asing. Untuk itu, Trump terlihat mengabaikan pelaksanaan perjanjian dagang trans pasifik (TPP).

Kebijakan yang akan diterapkan pemerintah AS dibawah pimpinan Donald Trump tentunya harus diantisipasi dengan baik oleh Indonesia. Hal ini perlu dilakukan mengingat AS merupakan salah satu investor utama di dalam negeri dan AS juga merupakan salah satu tujuan ekspor utama produk-produk Indonesia.

Kebijakan proteksionisme memang bukanlah hal baru dalam dunia perdagangan. Banyak negara yang saat ini menerapkan kebijakan tersebut untuk melindungi pasar dalam negerinya. Yang terpenting adalah bagaimana kebijakan itu tidak melanggar ketentuan yang telah ditetapkan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).

Terkait dengan kebijakan proteksionisme dan pembatasan investasi di luar negeri yang akan diterapkan AS, Pemerintah Indonesia perlu melakukan pendekatan kepada pemerintah AS mengenai pentingnya menjaga hubungan ekonomi antara kedua negara yang sudah terjalin baik selama ini.

Dengan jumlah penduduk yang cukup besar, kita memiliki daya tawar yang cukup tinggi dalam melakukan perundingan dengan AS.   Indonesia bisa menjadi pasar yang menarik bagi produk AS.

Selain itu, Indonesia juga perlu mendorong munculnya produk-produk berdaya saing tinggi agar bisa masuk ke pasar Amerika Serikat. Tentunya diperlukan juga berbagai kemudahan dan insentif dari pemerintah kepada pelaku usaha.