Dampak Penutupan Sembilan Pabrik Gula

0
52

Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan PT Perkebunan Nusantara (PTPN)  siap menutup sembilan pabrik gula (PG) di Jawa Timur secara bertahap dalam rentang tiga hingga empat tahun ke depan.

Kebijakan penutupan itu dilakukan  karena sembilan PG tersebut sudah berusia tua, sehingga proses revitalisasi pabrik menyedot anggaran negara yang tidak sedikit.

PTPN berencana menutup PG Rejosari, Kanigoro, dan Purwodadi di Madiun, kemudian PG Toelangan dan PG Watoetoelis di Sidoarjo, lalu PG Meritjan di Kediri, serta PG Pandji, PG Olean, dan PG Wringinanom di Situbondo secara bertahap.

Jika dilihat secara ekonomi, penutupan PG tersebut memang diperlukan. Dengan usia mesin yang sudah tua, produktivitas pabrik tersebut tentunya sudah menurun sehingga kinerjanya bisa merugikan petani tebu dan negara.

Akibat kemampuan produksi yang lemah dikarenakan mesin-mesin ssudah ketinggalan jaman, produksi gula yang dihasilkan pabrik gula-pabrik gula yang usianya sudah puluhan tahun, bahkan ada yang sudah hampir seabad, tidak akan maksimal.

Sejumlah data menyebutkan kalau rendemen yang dihasilkan pabrik gula-pabrik gula yang sudah tua usianya itu hanya berkisar antara 5 % hingga 7 % saja, artinya, dari 100 kilogram tebu yang digiling di PG-PG itu hanya mampu menghasilkan 5 kilogram hingga 7 kilogram gula putih.

Akibat minimnya gula yang dihasilkan dari tebu itu, akhirnya berdampak pula pada biaya produksi yang harus dikeluarkan petani tebu. Kondisi ini akhirnya membebani pemerintah, yang hampir setiap tahun harus menaikkan HPP gula.

Kebijakan pemerintah menaikkan HPP gula jelas menguntungkan pabrik gula-pabrik gula yang sudah memiliki mesin-mesin modern, yang kebanyakan dikelola oleh swasta. Dengan mesin yang modern, pabrik gula itu bisa menghasilkan rendemen di atas 8 %. Mereka setiap tahn menikmati kenaikan harga yang ditetapkan pemerintah melalui penetapan HPP gula.

Sedangkan masyarakat selaku konsumen, jelas dirugikan karena akibat ketidakefisienan pabrik gula, mereka harus menanggung kenaikan harga gula yang terjadi hampir setiap tahun.

Karena itu, langkah Kementerian BUMN dan PTPN untuk menutup sembilan PG yang ada di Provinsi Jawa Timur, layak mendapat dukungan penuh dari semua pihak.

Namun, penutupan PG tersebut harus bisa meningkatkan kesejahteraan para petani. Jangan sampai, penutupan tersebut malah merugikan para petani. Pabrik baru, baik yang dibangun oleh swasta maupun oleh pemerintah, maupun usaha yang ada di daerah sana nantinya harus dapat membuat para petani lebih sejahtera.

Selain itu, ada baiknya para petani tebu yang sebelumnya bergantung dari pabrik gula tersebut, juga diberi pembekalan ilmu bertani budidaya lain sesuai dengan pabrik yang didirikan.

Jika semua itu bisa diterapkan, maka penutupan pabrik gula yang sudah tua tidak akan menimbulkan gejolak sosial dan ekonomi yang selama ini dikhawatirkan masyarakat, tidak akan terjadi.