Bulog Masih Menunggu

0
86

Perum Bulog siap melaksanakan tugasnya sebagai penyangga jagung nasional sesuai dengan Perpres Nomor 48 Tahun 2016 dengan membeli komoditas tersebut sesuai persyaratan yang ditetapkan.

“Kami siap untuk melakukan penyerapan komoditas jagung di dalam negeri sesuai dengan tugas yang diberikan pemerintah kepada Perum Bulog,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti kepada Agro Indonesia di Jakarta, akhir pekan lalu.

Menurutnya, Perum Bulog akan membeli jagung milik petani jika harga komoditas serelia itu harganya jatuh di bawah floor price yang ditetapkan pemerintah.

“Kalau harga jagung berada di bawah, kami akan bergerak membelinya. Sedangkan jika harga jagung berada di atas floor price Perum Bulog tidak punya kewajiban membeli. Biarlah petani meraih untung,” katanya.

Pemerintah telah menugaskan Perum Bulog untuk menjaga ketersediaan pangan dan stabilisasi harga pangan pada tingkat konsumen dan produsen untuk jenis pangan pokok beras, jagung, dan kedelai dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan nasional.

Penugasan  itu tertuang dalam Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 48 Tahun 2016 tentang Penugasan Kepada Perum Bulog Dalam Rangka Ketahanan Pangan Nasional yang ditandatangani Joko Widodo pada tanggal 25 Mei 2016.

Stabilisasi harga pangan pada tingkat produsen dilaksanakan dengan pembelian pangan oleh Bulog dengan HPP di gudang Perum Bulog, dalam hal rata-rata harga pasar setempat di tingkat produsen di bawah harga Acuan atau HPP.

Sementara jika rata-rata harga pasar setempat di tingkat produsen di atas harga acuan atau HPP, Bulog diberikan fleksibilitas harga pembelian pangan. Besaran fleksibilitas pembelian dan jangka waktu pemberian fleksibilitas pembelian harga pangan ditetapkan dengan keputusan rapat koordinasi.

Sedangkan stabilisasi harga pada tingkat konsumen dilaksanakan melalui pelaksanaan operasi pasar oleh Bulog dengan harga paling tinggi sama dengan harga eceran tertinggi (HET).

Dalam Perpres tersebut, Perum Bulog ditugaskan melakukan pengendalian ketersediaan dan distribusi pangan, yang meliputi kegiatan pengadaan, pengolahan, pemerataan stok antarwilayah sesuai kebutuhan, dan distribusi.

Pengadaan pangan oleh Perum Bulog diutamakan melalui pengadaan pangan dari dalam negeri dan jika hal pengadaan pangan dari dalam negeri tidak mencukupi untuk pemenuhan stok, menjaga stabilitas harga dalam negeri, dan atau memenuhi kebutuhan penugasan pemerintah, dapat dilakukan pengadaan pangan dari stok operasional Bulog maupun dari luar negeri dengan tetap menjaga kepentingan produsen dan konsumen dalam negeri.

Perpres 48/2016 juga menyebutkan, jumlah dan waktu pelaksanaan pengadaan pangan dari luar negeri  ditetapkan oleh Menteri berdasarkan keputusan Rapat Koordinasi. Ketentuan mengenai pelaksanaan pengadaan pangan dan tataniaga pangan dari luar negeri diatur dengan Peraturan Menteri.

Perpres itu kemudian diikuti oleh keluarnya Permendag Nomor 63/M-DAG/PER/9/2016  di bulan September yang menetapkan harga acuan pembelian di tingkat petani dan harga acuan penjualan di tingkat konsumen untuk tujuh komoditas, meliputi beras, jagung, kedelai, gula, bawang merah, cabe, dan daging sapi. Harga acuan baru untuk ketujuh komoditas ini berlaku selama empat bulan setelah ditetapkannya Permendag 63/2016.

Dalam Permendag itu, harga acuan pembelian di tingkat petani untuk jagung dengan kadar air 15% adalah Rp3.150/kg, kadar air 20% (Rp3.050/kg), kadar air 25% (Rp2.850/kg), kadar air 30% (Rp2.750/kg), dan jagung kadar air 35% sebesar Rp2.500/kg.

Sementara harga acuan penjualan di tingkat konsumen untuk jagung kadar air 15% adalah Rp3.650 sampai Rp3.750/kg.

Belum ada alokasi

Walaupun siap menjalankan tugasnya, namun Djarot Kusumayakti mengakui hingga kini Perum Bulog masih menunggu penetapan alokasi atau volume jagung yang harus diserap Perum Bulog sebagai penyangga jagung di dalam negeri.

“Sampai sekarang kami belum mendapatkan pemberitahuan mengenai volume jagung yang harus kami siapkan stoknya,” papar Djarot.

Terkait hal itu, dia mengharapkan besaran volume jagung yang harus diserap Perum Bulog itu dapat ditentukan dalam rapat koordinasi dalam waktu dekat ini, sehinga Perum Bulog bisa melakukan perhitungan secara matang. “Kita minta pemerintah segera menentukan alokasi volume stok yang harus kami sediakan,” pintanya.

“Jika volume sudah ditentukan, kami dapat melakukan perhitungan secara matang mengenai ongkos dan biaya yang harus disediakan untuk menyerap jagung itu,” ujarnya.

Penentuan volume jagung juga sangat diperlukan Perum Bulog mengingat ini berkaitan dengan dana yang harus disediakan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut untuk menjadi penyangga jagung.

Dijelaskan Djarot, untuk menyerap jagung, pihaknya mengunakan dana perbankan karena pemerintah pusat tidak memberikan subsidi, sehingga Perum Bulog juga harus membayar bunga dari besarnya pinjaman dana itu. “Jika dana yang dipinjam sedikit, tentunya bunga yang harus dibayar juga tidak besar,” paparnya.

Penyediaan jagung untuk kebutuhan di dalam negeri memang sangat diperlukan mengingat komoditas tersebut  merupakan bahan  utama pakan untuk hewan ternak.

Selama ini, Indonesia belum mampu memenuhi kebutuhan jagung nasioal dari produksi di dalam negeri. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat impor jagung sepanjang tahun 2016 mencapai 900.000 ton. Namun, jika ditambah impor jagung Perum Bulog sebesar 200.000 ton, maka total impor jagung mencapai 1,2 juta ton sepanjang 2016 lalu. B Wibowo

Jagung Impor Untuk UMKM

Di penghujung tahun 2016 lalu, Perum Bulog akhirnya menyelesaikan realisasi jagung impor dari Brasil sebanyak 200.000 ton. Jagung impor tersebut akan digunakan untuk keperluan peternak kelas UMKM di seluruh Indonesia.

“Harga jagung saat ini sudah melambung tinggi di atas batas harga yang ditentukan pemerintah, yakni Rp3.750/kg. Di pasaran, harga jagung pipilan dengan kadar air 15% sudah mencapai Rp4.500/kg,” kata Direktur Utama Perum Bulog, Djarot Kusumayakti.

Dia mengatakan, jagung impor tersebut sudah masuk di sejumlah pelabuhan Indonesia, seperti di Surabaya dan Jakarta. Jagung ini akan dikirim dengan kapal pengangkut ke sejumlah pelabuhan lainnya di Indonesia untuk memenuhi kebutuhan jagung UMKM.

Djarot mengatakan, pihak Bulog akan menjual jagung eks impor ini dengan dua harga. Pertama, untuk jagung curah, Bulog membandrol Rp3.650/kg. Sementara jagung yang dijual dalam kemasan karung akan dijual Rp3.750/kg. Djarot mengklaim jagung impor asal Amerika Latin ini lebih kering dengan kadar air 14%.

“Kami memang memprioritaskan untuk dijual kepada peternak kecil kelas UMKM. Mereka ini sebagian besar tidak memiliki gudang jagung,” imbuhnya. Menurut Djarot, Bulog tidak akan menjual jagung ini kepada industri kelas menengah dan atas sampai Februari 2017.

Namun, bila sampai bulan tersebut jagung impor ini masih tersisa, barulah Bulog bisa menjualnya kepada peternak kelas menengah dan atas, tapi itupun yang punya kaitan dengan UMKM.

Antisipasi penyalahgunaan

Sementara itu, Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Witono menambahkan, pihaknya mendapat kuota jagung 82.000 ton. Hingga saat ini yang sudah dibongkar di Teluk Lamong sekitar 57.000 ton dan sisanya menunggu giliran. Untuk distribusi penjualannya, Bulog Jatim memprioritaskan peternak kecil yang mendapat rekomendasi dari dinas atau asosiasi sebagai bentuk antisipasi penyalahgunaan.

Untuk operasi pasar jagung di Jatim, pihaknya lebih banyak menyalurkan pada peternak Blitar, Sidoarjo, Mojokerto, dan Jombang agar harga telur stabil. Komoditas ini dijual Rp3.750/kg, lebih murah dari harga pasaran yang mencapai Rp5.500-Rp6.000/kg.

Perum Bulog Divre Jawa Timur juga menyiapkan 200 ton jagung untuk tahap pertama dalam operasi pasar jagung sebagai upaya menjaga stabilitas harga jagung, pakan ternak, daging ayam hingga telur. Wakil Kepala Perum Bulog Divre Jatim, Dedi Supriady mengatakan, kegiatan operasi pasar tersebut dilakukan secara serentak di empat daerah, yakni Jatim, DKI Jakarta, Jawa Barat dan Jawa Tengah.

Rencanannya, hingga Maret 2017 akan disiapkan jagung impor dari Brasil sebanyak total 600.000 ton untuk nasional, sedangkan tahap pertama yang disiapkan 1.200 ton jagung. “Tahap pertama ini di Jatim akan mendistribusikan jagung 200 ton, tepatnya di Malang, Surabaya, Blitar dan Pasuruan,” katanya.

Dedi menambahkan, dalam pendistribusian jagung tersebut, Bulog Jatim menggandeng Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) dan industri kecil menengah di sektor pakan ternak, serta Dinas Peternakan Jatim.

Hal tersebut dilakukan lantaran selama ini jagung sangat dibutuhkan oleh para industri pakan ternak dan peternak ayam agar harga daging ayam maupun telurnya ikut stabil.

Dia memaparkan, melalui operasi pasar Bulog tersebut diharapkan harga jagung di pasaran bisa ikut turun. Diketahui, harga jagung di pasar saat ini sudah mencapai Rp5.000-Rp6.000/kg. “Dalam operasi pasar ini, jagung dijual dengan harga Rp3.600/kg,” imbuh Dedi.

Dia mengungkapkan, operasi pasar jagung ini merupakan yang pertama kali dilakukan Bulog. Sementara hingga saat ini belum ada petani jagung yang mau menjual hasil panen jagungnya kepada Bulog. “Penyerapan jagung dari petani lokal memang belum ada, tetapi kami sudah ada penugasan untuk mencari dan menyerap jagung lokal. Ini sedang dikoordinasikan dengan dinas pertanian,” imbuhnya. Elsa Fifajanti