Mengantisipasi Surplus Jagung

0
164

Kementerian Pertanian (Kementan) memperkirakan produksi jagung pada bulan Maret 2017 mencapai 10 juta ton. Sementara kebutuhan industri pakan ternak hanya mampu menampung sekitar 700.000 ton/bulan. Itu sebabnya, pemerintah melakukan antisipasi agar produksi jagung dapat diselamatkan, sehingga harga jagung di tingkat petani tidak anjlok.

Upaya yang dilakukan pemerintah adalah minta Bulog untuk menampung jagung petani. Menteri Pertanian (Mentan) Amran Sulaiman sendiri mengatakan, tahun 2016 sudah berhasil menekan impor jagung hingga 67%.

“Bersamaan dengan itu, produksi jagung juga meningkat. Hanya saja, produksi yang berlimpah ini tidak dapat diserap pabrik pakan karena kapasitas penyimpanan tidak cukup,” katanya usai rapat dengan GPMT, pekan lalu.

Mentan menyebutkan, ada sentra jagung mengalami lonjakan produksi antara 40%-50%. Produsen pakan ternak sudah berupaya mengantisipasi dengan  menambah kapasitas infrastruktur baik pergudangan maupun prasarana pasca panen seperti dryer (mesin pengering ) dan silo.

“Namun, tetap saja terjadi oversupply. Kita minta Bulog menyerap produksi jagung. Petani sudah termotivasi menanam jagung karena pabrik pakan ternak akan melakukan pendampingan di masing masing daerah. Ini yang harus dijaga,” katanya.

Amran mencatat sejumlah provinsi akan mengalami lompatan produksi jagung seperti Gorontalo, Sulawesi Utara, Dompu, Bima, Sumbawa, Sulawesi Barat, Jawa Timur. “Pabrik pakan ternak meminta pemerintah mengantisipasi agar tidak terjadi oversupply. Jika kelebihan produksi, maka harga acuan jagung di pabrik pakan sebesar Rp4.000/kg akan sulit dipenuhi,” tegas Amran.

Data ramalan II Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat, poduksi jagung nasional tahun 2016 mencapai  23,2 juta ton. BPS memprediksi produksi awal tahun ini bisa mencapai sebesar 21,5 juta ton.

Sementara ASEAN Food Security Information System (AFSIS) melansir produksi jagung Indonesia tahun 2016 lalu melampaui Filipina — yang diperkirakan hanya 8,04 juta ton, Vietnam 5,23 juta ton, Thailand 4,77 juta ton, Myanmar 1,86 juta ton, Laos 1,11 juta ton, dan Kamboja 0,56 juta ton. Sedangkan Brunei, Malaysia, dan Singapura tidak menghasilkan jagung.

Produksi jagung Indonesia pada 2015 mencapai 19,6 ton, Thailand 4,70 juta ton, Myanmar 1,72 juta ton, Laos 1,11 juta ton, dan Kamboja 0,55 juta ton.

AFSIS memperkirakan, produksi jagung negara-negara anggota ASEAN pada 2016 akan mencapai sekitar  41,84 juta ton atau naik 0,24 juta ton atau meningkat sekitar 1% dari 2015 sebesar 41,59 juta ton.

Luas panen di kawasan Asia Tenggara pada 2016 diperkirakan mencapai 9,75 juta ha, meningkat 1% dari tahun lalu seluas 9,65 juta ha.

Tutup impor

Melimpahnya hasil panen jagung petani ini makin memberanikan pemerintah melakukan penutupan impor jagung paling lambat 2018. Di sisi lain, besarnya produksi jagung menjadi amunisi pemerintah untuk menekan pabrik pakan agar tidak lagi beralasan kekurangan bahan baku.

Dirjen Tanaman Pangan Hasil Sembiring mengatakan, guna mencapai swasembada jagung ada dua strategi yang ditempuh. Pertama, perluasan areal tanam baru. Untuk itu, pemerintah memberikan fasilitasi berupa bantuan benih gratis bersertifikat di areal seluas 1,5 juta ha.

Petani juga memperoleh pengawalan untuk peningkatan produktivitas sekaligus meningkatkan usaha pasca panen. Pemerintah juga berkoordinasi dengan instansi terkait menyediakan lahan khusus seluas 725.000 ha.

Lahan khusus ini adalah lahan perkebunan milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN) PT Perhutani. Pengembangan lahan baru diintegrasikan antara tanaman jagung dengan sawit, jagung dengan karet — khusus di areal tanam belum menghasilkan (TBM). Hal yang sama diupayakan dengan memanfaatkan lahan PT Perkebunan (PTPN).

Cermati

Sementara itu, Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementan I Ketut Diarmita mengatakan, yang perlu dicermati di sektor perunggasan ke depan adalah target Kementan  tahun 2017 untuk  tidak impor jagung bahan pakan ternak.

Menurut dia, jagung untuk bahan pakan ternak merupakan komponen terbesar yang dibutuhkan oleh pabrik pakan skala besar, peternak ayam mandiri (self-mixing) dan pabrik pakan skala kecil/menengah (termasuk pabrik pakan milik koperasi susu).

Dia menyebutkan, dengan populasi unggas (broiler/ayam pedaging, layer/ayam petelur, ayam lokal dan itik) yang semakin meningkat, maka kebutuhan jagung juga meningkat.

Prediksi produksi pakan GPMT (Gabungan Perusahaan Makanan Ternak) tahun 2017 sebesar 18,5 juta ton, sehingga dibutuhkan jagung 9,25 juta ton, sedangkan kebutuhan jagung peternak self-mixing sekitar 3,6 juta ton atau rata-rata 300.000 ton/bulan. “Perkiraan kebutuhan jagung untuk pakan ternak tahun ini sekitar 12,85 juta ton atau rata-rata 1,1 juta ton/bulan,” katanya.

Pada bulan September 2016 lalu telah ditandatangani MoU antara Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dengan GPMT yang ditindaklanjuti dengan penandatanganan PKS (Perjanjian Kerjasama) antara Kepala Dinas Pertanian 33 Provinsi dengan manajemen pabrik pakan setempat untuk penyerapan hasil panen jagung petani.

Pola kerjasama ini dimaksudkan agar ada kepastian produksi jagung petani dapat diserap oleh pabrik pakan dengan harga acuan pembelian yang telah ditetapkan sesuai dengan Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) Nomor 21 Tahun 2016.

Dampak dari kebijakan pengendalian impor dan program pengembangan jagung di lahan khusus, serta upaya lainnya yang dilakukan Kementan menyebabkan impor jagung sebagai bahan pakan ternak menurun sangat signifikan.

Penurunan impor tahun 2016 mencapai 68%  atau 884.679 ton jika dibandingkan dengan 5 tahun terakhir. Tahun 2011, impor jagung tercatat sebesar 3.076.375 ton. Tahun 2012 impor jagung turun menjadi  1.537.512 ton.

Tahun 2013 impor naik lagi menjadi 2.955.840 ton dan volumenya kembali meningkat tahun 2014 menjadi 3.164.061 ton. Tahun 2015 impor tercatat sebesar 2.741.966 ton.

Sementara data impor jagung tahun 2016 — berdasarkan data pemberian rekomendasi impor jagung sebagai bahan pakan ternak yang dikeluarkan Kementan — sampai tanggal  31 Desember 2016 tercatat sebesar 884.679 ton. Dibandingkan data yang sama pada 31 Desember 2015 sebesar 2.741.966 ton memang menurun drastis. Jamalzen

Manfaatkan Gudang Milik BUMN

Pemerintah tidak bisa menggantungkan pada Bulog untuk menampung semua produksi jagung petani, yang bulan Maret 2017 diperkirakan mencapai 10 juta-12 juta ton. “Bulog tidak bisa menampung semua produksi jagung itu, karena kapasitas gudangnya juga terbatas. Apalagi, jika panen bersama dengan panen padi,” kata Ketua Dewan Jagung Indonesia, Maxdeyul Sola kepada Agro Indonesia  di Jakarta, Jumat (27/1/17).

Menurut dia, Dewan Jagung Indonesia ikut mencarikan solusi agar produksi bulan Maret mendatang dapat ditampung dengan baik, sehingga harga jual petani tidak anjlok.

“Kita sarankan kepada pemerintah memanfaatkan gudang milik BUMN yang ada dan tersebar di beberapa daerah,” katanya. Dia menambahkan gudang penampungan yang bisa dimanfaatkan antara lain milik PT Pertani dan PT Banda Ghara Reksa. Gudang milik BUMN ini daya tampungnya cukup besar.

Selain itu, lanjut Sola, pihaknya berkerjasama dengan Asia Pasific Comodity Exchange (APCEX). Perusahaan ini juga bersedia menampung jagung-jagung petani. “Melalui perusahaan ini, kita menjajaki untuk ekspor jagung ke beberapa negara,” katanya.

Menurut dia, hal ini dilakukan untuk mengantisipasi lonjakan produksi pada bulan Maret 2017 sebesar 10 juta-12 juta ton. “Dari sekarang kita harus antisipasi agar harga jagung tidak turun,” katanya.

Upaya yang dilakukan Dewan Jagung juga sudah disampaikan kepada Gabungan Pengusaha Makanan Ternak (GPMT) dan mendapat sambutan positif. “GPMT menyambut baik yang dilakukan Dewan Jagung, sehingga ketersediaan bahan baku pakan dapat dijamin,” katanya.

Sola menyebutkan, kebutuhan jagung untuk anggota GPMT sekitar 700.000 ton sampai 1 juta ton/bulan. Jika produksi Maret 2017 mencapai 10 juta ton-12 juta ton, maka kebutuhan jagung untuk industri pakan dapat dipenuhi.

Masalahnya, lanjut Sola, bagaimana cara menyelamatkan produksi itu agar dapat  digunakan industri pakan. “Salah satu caranya, kita cari tempat penyimpanan,” tegasnya.

Sekjen GPMT, Desianto Budi Utomo mengatakan, kebutuhan jagung untuk bahan baku pakan ternak sebanyak 700.000 ton/bulan. Artinya, selama tiga bulan ini produsen hanya mampu menyerap kebutuhan jagung petani sebanyak 2,1 juta ton. Padahal, berdasarkan prognosa Kementan, panen jagung Januari-Maret 2017 mencapai 12 juta ton.

“Ini berarti ada kelebihan kurang lebih 10 juta ton. Kami tidak mau disalahkan jika pada panen raya produksi tidak terserap. Jika pemerintah tidak mengantisipasi, harga jagung di tingkat petani berpotensi anjlok. Ini di luar wewenang pabrik pakan,” tegasnya.

Desianto mengatakan, tahun 2016 lalu GPMT menyerap jagung petani sebanyak 600.000-650.000 ton, tapi tahun ini kebutuhan jagung mengalami kenaikan jadi 700.000 ton.

Desianto berharap Bulog dapat berperan sebagai buffer stock guna menstabilisasi harga jagung petani. Pasalnya, kemampuan produsen pakan ternak menyimpan hanya dua bulan saja.

“Bulog mampu menyimpan jagung petani sebesar 2 juta ton. Dengan demikian, kebutuhan selama tiga bulan ke depan menjadi aman. Saya dengar, Bulog sedang menyiapkan infrastrukturnya,” ungkapnya.

Tahun ini, GPMT memproyeksikan kebutuhan jagung sepanjang 2017 sebagai bahan baku pakan ternak sebesar 8,4 juta ton. Sementara kebutuhan jagung untuk peternak unggas mandiri sebesar 300.000 ton atau setara 3,6 juta ton. Jamalzen