Produktivitas IKM Perkakas Pertanian Dipacu

0
91

Kementerian Perindustrian (Kemenperin) optimis kebutuhan nasional terhadap perkakas pertanian non mekanik berupa cangkul yang mencapai tiga juta unit per tahun dapat terpenuhi oleh industri di dalam negeri.

“Kementerian Perindustrian bertekad memacu produktivitas industri kecil dan menengah (IKM) sektor perkakas pertanian non-mekanik agar mampu memenuhi kebutuhan pasar dalam negeri yang mencapai tiga juta unit per tahun,” ujar Dirjen IKM Kemenperin Gati Wibawaningsih di Jakarta, Selasa (21/3).
Dia optimis kebutuhan cangkul nasional dapat dipenuhi oleh IKM di dalam negeri. Salah satu alasannya, realisasi Nota Kesepahaman mengenai Pemenuhan Kebutuhan Bahan Baku Untuk Pembuatan Alat Perkakas Pertanian Non Mekanik antara Direktorat Jenderal IKM Kementerian Perindustrian dengan PT. Krakatau Steel, PT. Boma Bisma Indra (BBI), PT. Sarinah, dan PT. Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI) pada 5 Januari 2017, masih berjalan baik sesuai rencana

“Setelah kami melakukan rapat evaluasi, skemanya masih berjalan baik sesuai rencana,” tegas Gati.

Dalam skema bisnis tersebut, PT Krakatau Steel bertindak sebagai penyedia bahan baku cangkul, kemudian BBI yang akan melakukan pembuatan cangkul menjadi 75 persen produk jadi. “Produk ini belum dicat, belum ditajamkan, dan belum ditambah gagang kayu. Untuk proses 25 persennya akan dikerjakan oleh IKM,” jelasnya.

Menurutnya, PPI dan Sarinah akan melakukan sosialisasi produk dari BBI kepada IKM sesuai standar yang telah ditentukan. “Misalnya, ketebalan cangkul sekitar 2,1 milimeter,” ujarnya. Setelah itu, produk yang dihasilkan IKM bisa langsung dikirim ke agen penjual atau dikirim ke PPI dan Sarinah sebagai distributor untuk dipasarkan ke agen penjual.

“Sesuai konsep bisnis yang telah disepakati bersama, cangkul 75 persen tersebut akan didistribusikan kepada sentra-sentra IKM alat pekakas pertanian dan industri besar yang membutuhkan bahan baku cangkul yang tersebar di 12.609 unit usaha dari Sabang hingga Merauke,” paparnya.

Gati pun optimistis, IKM mampu memenuhi pasar dalam negeri karena Krakatau Steel telah memproduksi medium carbon steel lembaran SS400 sebagai bahan baku cangkul sebanyak 110 ton dan 43 ton untuk bahan karah cangkul yang sudah dikirimkan ke pabrik BBI di Pasuruan, Jawa Timur. “Saat ini, BBI mampu memproduksi 100 ribu unit cangkul per bulan, dan siap menambah kapasitas produksi untuk mengejar target tiga juta unit cangkul per tahun,” tuturnya.
Guna memenuhi kebutuhan cangkul di sektir pertanian, Gati juga menyatakan pihaknya telah berkordinasi dengan Kementerian Pertanian (Kementan), selaku instansi yang memiliki program penyediaan cangkul untuk petani.
“Kami telah meminta Kementan untuk memberikan data mengenai jumlah kebutuhan cangkul di sektor pertanian agar bisa kami penuhi,” paparnya.
Untuk meningkatkan kualitas produk,ungkap Gati, Ditjen IKM juga mendorong diberlakukannya Standar Nasional Indonesia (SNI), di mana pada tahun 2017 ini akan dilakukan amandemen SNI cangkul dan penyusunan SNI egrek.
“Direktorat Jenderal IKM akan mempersiapkan sosialisasi material center guna pemenuhan baku alat perkakas pertanian dan program pembinaan peningkatan keahlian SDM IKM pelaku industri alat perkakas pertanian,” jelasnya.

Menurut Gati, maju dan berkembangnya industri alat perkakas pertanian dalam negeri tidak terlepas dari peran dan kerjasama semua pihak. Untuk itu, diperlukan langkah bersama untuk mendukung dan menyukseskan keberadaan industri alat perkakas pertanian dalam negeri dengan mencintai, membeli dan memakai produk alat perkakas pertanian dalam negeri.

Siap Distribusi
Sementara itu Direktur Utama PPI Agus Andiyani menyampaikan, pihaknya bersama Sarinah siap mendistribusikan produk yang telah dipabrikasi oleh BBI ke seluruh wilayah di Indonesia sesuai cakupannya. “Kami juga akan memperhatikan, harga cangkul ini tidak boleh mahal dan dapat menumbuhkan IKM,” ucapnya.

Agus juga mengungkapkan, dalam proses pendistribusian dan penjualan tidak begitu terkendala signifikan dengan adanya biaya logisitik karena bisa dikolaborasikan dengan barang-barang lain yang dimiliki oleh PPI. “Rencananya kami membuat stock point di beberapa daerah seperti di Jawa Timur dan Jawa Tengah untuk memenuhi kebutuhan,” jelasnya.

Direktur Utama Sarinah, GNP Sugiarta Yasa menambahkan, selain melalui gudang penyimpanan, pendistribusian juga akan disinergikan dengan PT Pos Indonesia yang mempunyai jaringan luas di Indonesia. “Tujuannya agar petani kita dapat menjangkau dengan mudah mendapatkan produk cangkul tersebut,” lanjutnya.

Sementara itu, Direktur Utama BBI Rahman Sadikin mengaku bahwa perusahaannya sudah mampu memproduksi 40 ribu unit cangkul yang siap disalurkan ke PPI dan Sarinah. “Kami siap mendukung IKM-IKM di dalam negeri untuk terus tumbuh dan menolak importasi alat pertanian sederhana,” ujarnya.

Menanggapi kesiapan PPI dan Sarinah, Gati memastikan, tidak perlu ada kekhawatirkan kurangnya cangkul di pasar dalam negeri karena sudah bisa dipasok oleh para IKM lokal. “Karena PPI dan Sarinah mampu menjadi material center bagi IKM,” tegasnya.

Gati melanjutkan, untuk menjawab kesiapan BUMN, pihaknya melakukan pembinaan bagi IKM alat perkakas pertanian melalui fasilitasi penguatan SDM dengan program bimbingan teknis, pendampingan dan sertifikasi. Selain itu, pemberian bantuan mesin dan peralatan, peningkatan kualitas produk dan pengembangan pasar, penguatan sentra, peningkatan kemampuan Unit Pelayanan Teknis (UPT), serta penumbuhan wirausaha baru IKM. Buyung N