Bertekad Jadikan Meranti Kota Perdagangan

0
369
Yulian Norwis SE, MM, Sekretaris Daerah Kabupaten Kepulauan Meranti

Mungkin tidak terlalu banyak masyarakat yang tahu dengan Kabupaten Kepulauan Meranti, Provinsi Riau. Selain letak wilayahnya kepulauan, kabupaten ini memang baru delapan tahun memisahkan diri (pemekaran) dari Kabupaten Bengkalis.

Luas Kabupaten Kepulauan Meranti 3.708 Km2 dengan jumlah penduduk sekitar 202.400 (2014) dengan ibu kota Selatpanjang. Dulu Selatpanjang merupakan salah satu bandar (kota) yang paling sibuk dan terkenal perniagaan di dalam Kesultanan Siak.

Di kota ini, sejak dahulu telah terbentuk masyarakat heterogen, terutama suku Melayu dan Tionghoa, karena peran mereka-lah terbentuk erat keharmonisan dalam kegiatan kultural maupun perdagangan.

Semua ini tidak terlepas ketoleransian antar persaudaraan. Faktor inilah yang kemudian menyuburkan perdagangan dan lalu lintas barang maupun manusia dari China ke nusantara dan sebaliknya.

Membaca sejarah perjalanan Selatpanjang, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Kepulauan Meranti, Yulian Norwis SE, MM, membuat visi menjadikan Kepulauan Meranti sebagai kawasan niaga yang maju dan unggul dalam tatanan masyarakat madani.

Pria kelahiran Selatpanjang 29 November 1961 ini, nampaknya paham betul dengan potensi yang ada di daerahnya. Kepulauan Meranti termasuk  strategis untuk dikembangkan menjadi pusat perdagangan (kawasan niaga) karena berdekatan dengan Malaysia dan Singapura.

“Banyak barang-barang yang masuk dari luar (Malaysia-Singapura-red) melalui Selatpanjang. Kita secara bertahap menata Meranti menjadi pusat bisnis, terutama bagi masyarakatnya,” kata Pak Icut, panggilan akrabnya.

Suami dr Iriani MSc, ini sudah cukup berpengalaman di birokrasi. Setelah menyelesaikan SMA di Dumai, Icut merantau selama enam tahun di Pontianak, Kalimanan Barat. Disini Icut bekerja sebagai staf Dinas Perkebunan di Kalimantan Barat.

Kemudian tahun 1996 bapak dari dua anak ini, hijrah ke Jakarta, sebagai staf di Ditjen Perkebunan, Kementerian Pertanian dan pernah menjadi Kepala Bagian Umum pada Ditjen Perkebunan.

Setelah Meranti resmi lepas Kabupaten Bengkalis, tepatnya tahun 2012 bapak yang ramah dengan senyum ini, pulang kampung untuk  membangun pertanian di kota kelahirannya.

Maklum, saat pulang kampung, Icut di percaya menjadi Kepala Dinas Pertanian, Peternakan dan Ketahanan Pangan, Kabupaten Kepulauan Meranti dan akhirnya diberi amanah sebagai Sekda.

“Iya!  Amanah ini harus dijalankan dengan baik. Saya bersama masyarakat harus sama-sama membangun Meranti, hingga menjadi kota niaga atau pusat bisnis,” kata Yuliaan Norwis, kepada Agro Indonesia, pekan lalu. Berikut petikan wawancaranya.

Apa yang Anda lakukan untuk menjadikan Meranti sebagai kota niaga?

Kami telah membangun pelabuhan yang sangat representatif. Ini bentuk pelayanan pemerintah kepada masyarakat pengguna transportasi laut. Dengan adanya pelabuhan ini masyarakat akan lebih gampang melakukan bongkar muat barang yang berasal dari dalam maupun luar negeri (Malaysia-Singapura).

Kenapa pelabuhan yang Anda bangun?

Ini daerah kepulauan. Transportasinya dominan melalui sungai. Jadi sarana pelabuhan itu sangat penting. Kalau kita melihat sejarah,  sejak ratusan tahun yang lalu daerah ini terkenal sebagai bandar niaga tempat persinggahan para pedagang.

Program lain, apa lagi?

Kegiatan yang tak kalah penting adalah membangun jembatan sebagai penghubung antar pulau. Program merangkai pulau tak kalah strategis dengan pelabuhan.

Merangkai pulau dimaksudkan agar antara desa yang satu ke desa yang lain, kecamatan yang satu ke kecamatan lain dan dari kecamatan ke kabupaten dapat terhubung. Salah satu jembatan yang sedang bangun adalah Jembatan Selat Rengit di Kecamatan Merbau Desa Semukut.

Selain itu kami membangun pembangkit listrik di tiap kecamtan untuk meningkatkan elektrifikasi, yang dulunya masyarakat hanya bisa menikmati listrik 12 jam kini sebagian besar desa sudah dapat menikmati listrik selama 24 jam.

Fasilitas pengolahan air bersih juga dibangun, sehingga masyarakat yang berada di desa sudah dapat menikmati air bersih sesuai standard kesehatan.

Soal budaya bagaimana?

Budaya masyarakat Melayu yang terkenal dengan kesantunan adat bersandi sarak sarak bersandi kitabullah merupakan kearifan lokal yang tetap dipertahankan.

Namun demikian keberagaman budaya lain tetap diperhatikan dan dihargai,  seperti budaya Tionghoa dimana klenteng dan kegiatan budaya Tionghoa bebas dilaksanakan bahkan pemerintah juga turut melestarikan untuk mendukung potensi pariwisata seperti Cian Cui(Perang Air) yang sudah mendunia.

Apa yang Anda lakukan untuk menarik investor?   

Salah satu yang Pemda (Pemerintah Daerah) Meranti adalah memangkas semua prosedur yang berbelit-belit dan menyulitkan pengusaha untuk berinvestasi.

Hal ini penting kami lakukan, agar investor tertarik berinvestasi disini (Kabupaten Meranti-red). Jika pengusaha berivestasi, maka peluang lapangan kerja semakin terbuka dan dapat menekan kemiskinan dan pengangguran.

Apa peluang investasi yang menarik di Kabupaten Meranti?

Banyak sekali. Tapi yang menjanjikan adalah investasi dalam pengembangan tanaman sagu. Komoditas ini merupakan unggulan kami, namun pengembangan dan pengelolaan lebih lanjut, sehingga dapat dijadikan Pendapatan Asli Daerah (PAD).

Apa sudah ada yang menimat untuk investasi?

Yang berminat tetap banyak. Kita harapkan para investor dapat merealiasikan niat baik untuk bersama membangun Kabupaten Meranti. Tanpa kerja sama dan partisipasi masyarakat. Kami tidak bisa berbuat banyak.

Jamalzen