Industri Susu Diminta Bermitra Dengan Peternak

0
41
ilustrasi susu (pixabay.com)

Industri pengolahan susu di dalam negeri diminta menjalin kemitraan sekurang-kurangnya dengan tiga koperasi atau peternak sapi lokal. Hal itu dilakukan guna mencapai target penyerapan susu dari peternakan rakyat oleh industri pengolahan susu yang mencapai 41% di tahun 2021 nanti.

“Tujuan kemitraan itu salah satunya menggenjot produksi dalam negeri, agar diserap industri yang ada. Memang harus ada revitalisasi peternakan rakyat, karena seorang peternak baru bisa untung jika sekurangnya punya 10 ekor sapi,” ujar Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto saat meresmikan pabrik baru PT Greenfields Indonesia, di Desa Palaan, Kabupaten Malang, Kamis (4/5/2017).

Sebagai bukti keseriusan pemerintah terhadap pemberdayaan peternak sapi, Airlangga menjelaskan kalau  pemerintah akan mengeluarkan paket kebijakan khusus pemberdayaan peternakan, “Route map-nya sedang akan dibahas dengan Pak Presiden. Diharapkan tahun ini bisa diterapkan karena prosesnya sangat cepat, rentang waktunya hanya empat tahun,” ungkap Airlangga.

Menperin mengungkapkan, kontribusi peternakan lokal terhadap kebutuhan susu di dalam negeri masih minim. Di tahun 2016 kebutuhan bahan baku susu segar dalam negeri untuk industri pengolahan susu adalah sekitar 3.700.000 ton. Sebanyak 854.000 ton atau setara 23 % dipenuhi produksi dalam negeri. Sisanya, sekitar 2.800.000 ton atau 77 % masih impor.

Padahal, di Indonesia ada 58 industri pengolahan susu. Sayangnya dari jumlah tersebut hanya delapan perusahaan yang bermitra dengan peternak, dan menyerap produksi susu dalam negeri.

Sedangkan dari sisi tingkat konsumsi susu nasional, Indonesia hanya 12,1 kg/kapita/tahun. Angka ini masih kalah dengan negara-negara lain di Asean. Seperti Malaysia yang mencapai 36,2 kg/kapita/tahun, Myanmar 26,7 kg/kapita/tahun, Thailand 22,2 kg/kapita/tahun, dan Philipina 17,8 kg/kapita/tahun.

Dengan ketergantungan terhadap susu impor yang masih tinggi, Airlangga berharap perusahaan susu semakin meningkatkan kemitraan dengan para peternak. Sehingga, susu segar dari para peternak sapi lokal dapat terserap pabrik. Di samping itu, kemitraan juga diyakini mampu meningkatkan kompetensi peternak dalam mengelola usahanya.

“Pada 2002 pasokan susu lokal sudah 41 persen untuk memenuhi kebutuhan nasional, tugas kita sekarang menyamakan kembali angka itu pada 2021,” ujarnya.

Menurutnya, wilayah Malang dan Blitar tengah didorong untuk menjadi sentra penghasil susu nasional.

Untuk mendorong peningkatan usaha peternakan rakyat, Airlangga juga akan berusaha meningkatkan harga jual susu peternak ke industri pengolahan susu. Dijelaskan, idealnya harga susu peternak adalah antara Rp5500 hingga Rp6.000 per liter. Dengan harga itu, jika peternak rakyat bisa memiliki 10 ekor sapi perah, maka pendapatannya akan mencapai di atas upah minimun provinsi (UMP).

Sementara itu Managing Director PT AustAsia Food perusahaan yang memayungi PT Greenfields Indonesia, Edgar Collins, optimistis perusahaannya mampu berkontribusi hingga 10 % pada produksi susu nasional di 2018. “Kami punya dua lahan peternakan di Malang dan Blitar dengan 10 ribu ekor sapi,” ucapnya.

Buyung