Perum Bulog Ajak BUMN dan Swasta Bersinergi Bangun RPK

0
72

Perum Bulog mengajak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan kalangan pengusaha swasta untuk bersinergi dalam mengembangkan bisnis Rumah Pangan Kita (RPK) demi terciptanya stabilisasi harga dan pasokan bahan pangan di dalam negeri.

“Kami mengajak BUMN dan swasta  untuk bersinergi dengan menjual produk mereka melalui RPK,” kata Dirut Perum Bulog, Djarot Kusumayakti, di acara BUMN Marketeers Club (BMC) yang digelar di kantor Perum Bulog  Pusat di Jakarta, Senin (08/05/2017).

Menurut Djarot, dengan adanya sinergi dengan BUMN dan swasta, maka upaya stabilisasi pasokan dan harga bahan pangan di dalam negeri akan mudah dilakukan. Selain itu, BUMN dan  swasta juga dapat mejual produknya dengan jangkauan pasar yang lebih luas lagi.

RPK adalah outlet  penjualan bahan pangan pokok milik masyarakat yang dibina Perum Bulog dengan tujuan untuk menumbuhkan jiwa entrepreneurship dan pemberdayaan ekonomi masyarakat, khususnya masyarakat pinggiran atau pedesaan.

“Melalui RPK, kita ingin masyarakat bukan lagi sebagai penonton tetapi menjadi pemain dalam kegiatan ekonomi. Mereka bukan lagi sebagai objek melainkan sebagai subyek perekonomian nasional,” ujarnya.

Selain itu, Perum Bulog juga ingin menjadikan RPK sebagai pertolongan pertama terhadap pemenuhan kebutuhan bahan pangan pokok  masyarakat.

Menurutnya, hal itu dapat dilakukan karena RPK merupakan jaringan distribusi pangan Bulog yang sekaligus  ditujukan untuk kegiatan stabilisasi harga dan pelayanan program-program pemerintah sesuai dengan penugasan pada Perum Bulog yang tertuang dalam Perpres Nomor 48 tahun 2016 yang antara lain salah satunya  adalah pengamanan harga pangan di tingkat produsen dan konsumen.

Saat ini,komoditas yang dijual RPK adalah beras, daging, minyak goreng, pakan ternak, jagung, pakan ternak, kedelai, cabe dan bawang merah. komoditas itu dijual dengan branding seperti minyak kita, gula kita, cabe kita, beras kita, bawang kita.

100.000 Sahabat RPK

Sementara itu Direktur Pengembangan Bisnis dan Industri Perum Bulog, Imam Subowo mengatakan, sejak dibentuk pertengahan 2016 hingga saat ini jumlah sahabat RPK (pemilik RPK) sudah mencapai 18.000 orang. ditargetkan hingga akhir tahun 2017 ini jumlahnya menjadi 30.000 sahabat RPK.

Dia mengakui kalau jumlah tersebut masih belum memadai untuk menstabilkan pasokan dan harga bahan pokok. Untuk itu, Imam mentargetkan dalam dua tahun kedepan jumlah RPK mencapai 100.000 RPK. Dengan jumlah itu, program stabilisasi harga dan pasokan bahan pangan dapat dengan mudah dilakukan.

Imam juga yakin target tersebut dapat dicapai. Apalagi jika BUMN dan swasta mau bersinergi.  “Jika BUMN bisa bersinergi, kita bisa menggunakan agen bank atau kantor pos sebagai jaringan RPK kita,” paparnya.

Buyung