Ekowisata Berkelanjutan Solusi Pengelolaan Keanekaragaman Hayati

0
63

Ekowisata yang melibatkan masyarakat setempat diyakini sebagai kegiatan ideal untuk memanfaatkan potensi keanekaragaman hayati yang dimiliki Indonesia. Dengan ekowisata, masyarakat bisa menerima manfaat langsung dari kekayaan flora dan fauna dan pada akhirnya menjaganya.

Demikian terungkap dalam diskusi mingguan Pojok Iklim yang diselenggarakan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) di Jakarta, Rabu (31/5/2017). Diskusi dipimpin Staf Ahli Menteri Bidang Ekonomi Sumber Daya Alam KLHK Agus Justianto dan turut dihadiri Ketua Dewan Pertimbangan Pengendalian Perubahan Iklim Kementerian LHK Sarwono Kusumaatmadja.

Menurut Direktur Eksekutif Yayasan Keanekaragaman hayati Indonesia (Kehati) MS Sembiring keberadaan biodiversitas Indonesia harus dipelihara dan dimanfaatkan dengan memperhatikan aspek kelestariannya. Salah satu upaya yang bisa ditempuh adalah melalui pengembangan ekowisata berkelanjutan.

“Kita sangat kaya akan sumber daya biodiversitas. Dan ekowisata adalah salah satu bentuk implementasi ideal untuk menjaga sekaligus memanfaatkannya secara lestari. Dengan cara itu, masyarakat lokal menjadi pelaku utama sekaligus menerima manfaatnya secara langsung tanpa harus merusak,” kata Sembiring.

Dia menuturkan, Indonesia adalah salah satu negara dengan keanekaragaman hayati terbesar di dunia. Ada sekitar 90 tipe ekosistem yang tersebar mulai dari pegunungan, dataran rendah, pesisir dan laut, hingga savana. Keanekaragaman hayati Indonesia diantaranya berupa 35 spesies primata, 515 spesies mamalia, 515 spesies reptilia, 531 spesies burung, 270 spesies amfibi, serta lebih dari 38.000 jenis tumbuhan.

Sembiring menyatakan, pemanfaatan keanekaragaman hayati untuk sektor pariwisata berkelanjutan sejalan dengan tujuan pembangunan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Dia menyatakan, sebagai lembaga grant making di sektor keanekaragaman hayati, Yayasan Kehati terus berupaya menggalang sumber daya untuk mendorong pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan kekayaan alam Indonesia melalui pengembangan ekowisata.

Salah satu program pengembangan ekowisata yang kini dijalankan Kehati adalah Maratua Ecotourism for Sustainable Small Islands (MESSI).

Program ini dilaksanakan di pulau Maratua, salah satu pulau terluar di Indonesia yang terletak di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur.
“Melalui MESSI kami mencoba memberdayakan masyarakat setempat dalam upaya menjaga ekosistem laut, terutama mangrove, alga dan terumbu karang, serta turut membantu mengembangkan model ekonomi wisata bagi warga setempat,” kata Sembiring.

Untuk memperkuat daya tarik wisata, setiap tahun digelar festival jazz di Maratua yang melibatkan mitra-mitra KEHATI, swasta dan para musisi jazz. Tahun ini Maratua Dive and Jazz Fiesta akan diselenggarakan pada Oktober mendatang.
Musisi jazz senior Idang Rasjidi menyatakan promosi wisata melalui musik sangat efektif. “Dengan adanya musisi yang datang dari berbagai negara ke Maratua, maka informasi akan keindahan Maratua akan tersebar ke seluruh dunia,” katanya.

Sementara itu Agus Justianto menyatakan Kementerian LHK mengapresiai upaya yang dilakukan Kehati dalam pengembangan ekowisata di Maratua. Dia berharap, pola tersebut dapat direplikasi di tempat lain.

Dia menyatakan, ekowisata dapat dijadikan jalan tengah antara kebutuhan untuk pengelolaan keanekaragaman hayati secara lestari dan pemanfaatannya.

Ada tiga keuntungan ekowisata, yaitu lingkungan dan biodiversitas terjaga sehingga membantu upaya mitigasi perubahan iklim, terciptanya iklim bisnis yang berkelanjutan seiring dengan terpeliharanya bidodiversitas dan lingkungan, serta kesejahteraan masyarakat yang berkelanjutan.

“Oleh karena itu pemerintah sangat mendukung ekowisata. Kami juga mengajak dan mendorong mitra-mitra untuk turut terlibat mengembangkan ekowisata,” kata Agus.

Sugiharto