Meningkatkan Pendapatan Warga Dengan Belimbing

0
116
Pionir Agrowisata Belimbing, M Syafi'i

Bojonegoro merupakan salah satu Kota di Jawa Timur dengan beberapa destinasi wisata menarik yang patut anda kunjungi.Salah satunya Agrowisata Kebun Belimbing yang lokasinya berada di Jl. Letjen Soedirman No. 57, Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu. Apabila mengunjungi Kota Bojonegoro, tidaklah puas sebelum mampir ke tempat wisata yang satu ini untuk refreshing  sambil menikmati belimbing, salah satu buah unggulan Bojonegoro.

Nah, seperti apa perjalanan untuk menciptakan wisata kebun Belimbing di bantaran sungai Bengawan Solo? Berikut perbincangan Agro Indonesia dengan Kepala Desa Ngringinrejo, Kecamatan Kalitidu Kabupaten Bojonegoro sekaligus pioner agrowisata belimbing, M. Syafi’i.

Berapa luas kebun belimbing ini dan apa daya tariknya ?

Luas lahan agrowisata kebun belimbing yang menjadi salah satu wisata andalan Bojonegoro ini mencapai 20,4 hektare,  ada sekitar 104 orang petani yang mengelola kebun belimbing dengan hasil produksi yang dijual langsung ke wisatawan.

Saat memasuki agrowisata kebun belimbing, anda akan disambut oleh monumen buah belimbing yang menjadi icon di Desa Ngringinrejo. Saat ini sekitar 10.200 pohon belimbing telah dibudidayakan di tempat ini, masa panen bisa 3-4 kali dalam satu tahun, luar biasanya lagi dalam satu kali panen, buah yang dihasilkan dapat mencapai 60 ton buah belimbing atau rata-rata 60 kg per pohonnya.

Untuk wisatawan dari luar kota apakah lokasi ini mudah dijangkau?

Rute menuju lokasi agrowisata kebun belimbing Bojonegoro cukup mudah , dari pusat kota Bojonegoro jaraknya kurang lebih 15 km ke arah barat (Cepu)  setelah melewati Gapura “Selamat Jalan” dari kota Bojonegoro lurus saja sekitar 8 km dengan melewati 2 jembatan, lalu lihat sebelah kanan jalan ada sebuah gapura yang di atasnya ada patung belimbingnya, masuk gapura tersebut dan terus saja ikuti jalannjnya hingga sampai di perempatan, belok kiri nanti akan sampai di lokasi agrowisata kebun belimbing Ngringinrejo Bojonegoro.

Fasilitas apa saja yang sudah Anda siapkan?

Beberapa fasilitas sudah tersedia di kebun belimbing Ngringinrejo Bojonegoro, diantaranya gasebo untuk wisatawan beristirahat sambil menikmati manisnya belimbing madu dan untuk kedepannya akan terus ditingkatkan guna kenyamanan wisatawan yang mengunjungi tempat wisata ini. Luas area parkir yang disediakan untuk pengunjung mencapai 500 m2. Biaya parkir hanya sebesar Rp 2000 untuk kendaraan R2 dan Rp5000 untuk kendaraan R4. Lalu untuk tiket masuk kawasan agrowisata kebun blimbing hanya sebesar Rp1000 saja.Selain menikmati memetik belimbing sendiri dari kebun, dalam waktu dekat wisata ini akan dilengkapi kids outbond dan flying fox juga wisata perahu menyusuri sungai Bengawan Solo.

Bagaimana awalnya keberadaan kebun belimbing ini?

Sejarah keberadaan agrowisata kebun Belimbing Bojonegoro tidak lepas dari perjuangan tokoh masyarakat Desa Ngringinrejo dan penyuluh pertanian sekitar tahun 1984 lalu. Pada awalnya, masyarakat Desa Ngringinrejo menjadikan komoditas palawija sebagai tanaman yang mereka budidayakan di bantaran sungai Bengawan Solo, namun kala itu petani terus mengalami kegagalan karena Bojonegoro selalu mengalami banjir Bengawan Solo, dari latar belakang ini lah timbul inisiatif tokoh masyarakat setempat dan penyuluh pertanian untuk memusyawarahkan solusi pertanian di Desa Ngringinrejo. Alhasil disepakati Komuditas Belimbing yang menjadi pilihan untuk dibudidayakan setelah mendengar informasi keberhasilan Budidaya Belimbing di Desa Siwalan Tuban yang juga terdampak banjir Bengawan Solo.

Kendala apa saja yang ditemui dalam pengembangan budidaya belimbing?

Berbagai kendala perspektif negatif yang menghadang tidak membuat petani belimbing di Desa Ngringinrejo menurun, mereka terus berusaha, hingga setelah berjuang selama 3-4 tahun, baik dari sisi budidaya maupun dalam memberantas hama dan penyakit terutama lalat buah,  usaha yang mereka lakukan mulai membuahkan hasil, hasil buah belimbing jauh lebih besar dari pada saat membudidayakan palawija. Dari sini Kelompok Tani Mekar Sari juga ikut tertarik untuk membudidayakan buah belimbing. Hingga saat ini Budidaya Belimbing terus berkembang dan menjadi buah unggulan Kota Bojonegoro serta Agrowisata Kebun Belimbing.

Buah Belimbing berbentuk seperti bintang, berserat banyak, serta memiliki cita rasa manis sedikit asam, merupakan ciri dari buah belimbing.Di kenal sebagai belimbing madu karena warnanya yang kuning-orange keemasan. Ditambah lagi, rasanya yang sangat manis. Bahkan, belimbing dengan nama ilmiah averrhoacarambola ini, dinobatkan sebagai icon kota Bojonegoro.

Apakah keberadaan kebun belimbing ini berdampak pada penghasilan warga?

Iya, secara langsung keberadaan kebun belimbing di desa ini  berdampak pada penghasilan warga, bukan hanya petani. Setiap hari, minimal ada 100 pengunjung.Bahkan, pada akhir pekan atau hari libur, bisa lebih dari 1.000 pengunjung.Di kawasan ini, ada 36 pedagang kaki lima yang turut kecipratan berkah adanya kebun belimbing. ”Bahkan, pada tahun baru lalu, omzet sehari mencapai Rp72 juta,” kata Syafii. Selama dua tahun terakhir, pengunjung yang masuk ke kawasan agrowisata belimbing dikenai retribusi Rp1.000 per orang. Retribusi itu digunakan untuk pemeliharaan, kebersihan, dan kas desa. Apalagi, kebun belimbing bisa dikatakan tidak pernah sepi.

Selain dijual buah, apakah warga juga mengolah hasil pertanian ini pasca panen?

Tentu saja, dalam setahun, satu pohon belimbing bisa dipanen raya 3-5 kali. Satu pohon total bisa menghasilkan belimbing hingga 1 kuintal. Buahnya dijual langsung saja mencapai Rp 10.000 per kg berisi 3-5 buah.Selain dijual dalam bentuk buah segar,  sudah ada warga  yang merintis membuat sari buah, sirup, dodol, atau keripik melalui Kelompok Usaha Bersama. Namun, keuntungannya tidak sebanding dengan tenaga dan biaya yang dikeluarkan sehingga sebagian besar petani memilih menjual dalam bentuk buah segar.

Untuk menggairahkan semangat petani membudidayakan belimbing, apa saja yang sudah Anda lakukan ?

Untuk menggairahkan semangat petani, sejak tahun lalu digelar kontes belimbing dengan kriteria ukuran, warna, tekstur, dan rasa.Pada tahun ini, belimbing terberat mencapai 8 ons milik Supangat. Menurut Supangat (55), petani belimbing yang memenangi kontes, bertani belimbing cukup menguntungkannya.Saya sendiri memiliki kebun 1 ha yang ditanami 100 batang pohon dan bisa panen sebanyak 5 kali dengan harga jual Rp10.000/kg.

Bagaimana petani menjaga agar pohon belimbing produktivitasnya tinggi?

Petani di Ngringinrejo sangat menjaga kualitas kesegaran belimbingnya.Bahkan, beberapa petani meracik ramuan yang disemprotkan pada tanaman belimbingnya.Ramuan itu terbuat dari limbah buah belimbing atau buah belimbing yang kualitasnya kurang bagus. Setelah dicampur susu dan bahan lainnya, lalu difermentasi. Hasilnya bagus, buahnya tidak mudah busuk.Petani  juga merasa menanam belimbing cukup menjanjikan

Apa Anda melakukan acara tahunan untuk menarik wisatawan?

Tentu saja, Festival Belimbing merupakan salah satu upaya meningkatkan penghasilan warga dan menarik wisatawan berkunjung ke desa Ngringinrejo. Festival itu dimeriahkan tarian jaranan, reog, kirab, dan arak-arakan gunungan belimbing dan tumpeng hingga berebut belimbing.Selain itu, ada ritual pembagian janur (daun kelapa muda) oleh Zainuri (80), sesepuh dan perintis petani belimbing di Ngringinrejo kepada para petani.Pemberian janur sebagai simbol memohon keselamatan dan memohon kepada Tuhan agar belimbing petani bagus hasilnya.

Bagaimana peran Pemerintah?

Pemerintah Kabupaten Bojonegoro pun mendorong perkembangan agrowisata belimbing.Bupati Bojonegoro Suyoto sering mengajak tamu pemerintah daerah, seperti anggota DPR, menteri, investor, atau mitranya, ke Ngringinrejo agar potensi itu lebih dikenal luas. Dinas pengairan menyiapkan sarana untuk memenuhi kebutuhan air, dinas pekerjaan umum membuatkan gasebo-gasebo. Dinas pariwisata dan budaya membangun ruang pertemuan dan paving akses jalan masuk agar pengunjung nyaman. Para perangkat desa dan warga juga swadaya menyiapkan perahu untuk paket wisata menyusuri Sungai Bengawan Solo

Shanty