Industri Makanan dan Minuman Perluas Pasar ke Eropa

0
72

Industri makanan dan minuman  (Mamin) didorong untuk meningkatkan pangsa pasarnya ke kawasan Eropa. Hal ini dilakukan Kementerian Perindustrian (Kemenperin)  dengan menjembatani pelaku usaha dalam negeri untuk ikut serta dalam pameran tingkat internasional di Jerman.

“Kemenperin akan mendorong perluasan pasar baru bagi produk-produk industri makanan dan minuman nasional di pangsa Eropa. Upaya ini melalui fasilitasi promosi pada pameran Anuga di Koelnmesse, Cologne, Jerman yang akan diselenggarakan tanggal 7-11 Oktober 2017,” ujar Sekretaris Direktorat Jenderal Industri Agro Kemenperin Enny Ratnaningtyas di Jakarta, Selasa (22/08/2017)  .

Melalui partisipasi di pameran ANUGA ini, ungkapnya, diharapkan produk makanan dan minuman Indonesia dapat lebih dikenal di dunia internasional dan dapat mengisi pasar ekspor khususnya ke Eropa.

ANUGA merupakan salah satu pameran makanan dan minuman terbesar di dunia yang mulai dilaksanakan sejak tahun 1919 di Stuttgart, Jerman dan rutin digelar setiap dua tahun sekali.

Menurut Enny, Kemenperin melalui Ditjen Industri Agro pertama kali memfasilitasi untuk pameran Anuga pada tahun 2015, dengan membangun Paviliun Indonesia seluas 114,50 m². Saat itu, 15 perusahaan makanan dan minuman lokal mempromosikan berbagai produk seperti olahan ikan, makanan ringan, teh, kopi, minuman ringan, produk coklat olahan, tepung premix dan bahan makanan organik.

“Pada ANUGA 2015, Paviliun Indonesia dapat membukukan potensial transaksi sebesar USD2.444.700 dan transaksi on the spot sebesar USD11.642.000,” ungkapnya. Di Anuga 2017, Paviliun Indonesia akan menempati hall 1 seluas 152 m² dengan kategori Fine Food, yang diikuti sebanyak 17 perusahaan makanan dan minuman.

“Melihat besarnya peluang tahun lalu, target potential buyer tahun ini diharapkan dapat lebih dari 3 juta dolar AS dan transaksi on the spot mencapai 12 juta dolar AS,” tuturnya.

Pada Anuga 2017, juga akan dipajang produk-produk industri kecil dan menengah (IKM) binaan Pemerintah Daerah Provinsi Sumatera Barat. “Misalnya ditampilkan rendang kaleng dan brown sugar,” imbuh Enny.

Enny meyakini, dengan berkembang pesatnya pasar produk halal di Eropa, produk halal Indonesia mampu mendapat pasar tersendiri dan sanggup bersaing dengan produk dari Benua Biru. ”Untuk itu, pameran ini menjadi ajang membuka wawasan bahwa industri makanan di Indonesia telah memenuhi syarat terhadap mutu, keamanan pangan ataupun sertifikat yang harus dipenuhi di pasar internasional,” paparnya.

Sebagai pameran makanan dan minuman tingkat internasional yang akan dikunjungi sebanyak 160 ribu orang dari 190 negara berbagai penjuru dunia, diharapkan Anuga bisa membuka peluang pasar ekspor non tradisional seperti di negara-negara kawasan Amerika Utara, Tengah dan Selatan, Eropa Utara, Tengah dan Timur, Afika, serta Timur Tengah.

Sebelumnya, Menteri Perindustrian Airlangga Hartarto mengatakan, industri makanan dan minuman nasional perlu lebih memperluas pangsa ekspor baik pasar tradisional maupun pasar baru dalam upaya mendongkrak kinerjanya. Selain itu, melakukan terobosan inovasi produk yang dihasilkan sehingga dapat diminati oleh konsumen dalam negeri dan mancanegara.

“Market domestik dan ekspor masih besar. Yang terpenting untuk industri ini juga adalah ketersediaan bahan baku sehingga mendorong investasi terus tumbuh. Pemerintah telah memberikan kemudahan perizinan usaha bagi pelaku industri termasuk sektor IKM,” jelasnya.

Kemenperin mencatat, industri makanan dan minuman nasional mencatatkan pertumbuhan sebesar 7,19 % pada triwulan II tahun 2017. Capaian tersebut turut beperan dalam kontribusi manufaktur andalan ini terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) industri non-migas yang mencapai 34,42 % atau tertinggi dibandingkan sektor lainnya.

Sementara itu, nilai ekspor produk makanan dan minuman termasuk minyak kelapa sawit pada Januari-Juni 2017 mencapai 15,4 miliar dolar AS. Kinerja ini mengalami neraca perdagangan yang positif bila dibandingkan dengan impor produk makanan dan minuman pada periode yang sama sebesar 4,8 miliar dolar AS. Buyung