Industri Pulp dan Kertas Terus Direcoki Kampanye Negatif

0
71
pabrik kertas

Pengamat industri bubur kertas dan kertas Rusli Tan mengungkapkan, ada tren bagus berupa peningkatan ekspor kertas ke pasar global. Ini seiring naiknya biaya konversi dari bubur kertas ke kertas yang mencapai 250 dolar AS per ton. Situasi ini menguntungkan Indonesia yang memiliki sejumlah industri bubur kertas dan kertas yang terintegrasi.

Sayangnya, lanjut dia, banyak pihak yang masih merecoki dengan kampanye negatif. “Saat perekonomian sedang lesu dan ada peluang untuk memberikan sumbangan devisa yang besar, seharusnya Merah Putih dikedepankan,” katanya ketika dihubungi, Sabtu (13/7/2017).

Dia melanjutkan, bukan tak mudah mengelola industri terintegrasi mulai dari pengelolaan hutan tanaman industri (HTI) hingga pabrik bubur kertas dan kertas. Tak heran jika perusahaan yang dikelola pemerintah pun tak bisa bertahan. Dengan kesulitan tersebut, lanjut Rusli, sudah selayaknya jika industri yang ada saat ini diberi kesempatan berkembang.

Rusli mengingatkan, jika industri bubur kertas dan kertas di tanah air sampai tutup, maka yang rugi adalah masyarakat yang kehilangan lapangan kerja dan Negara yang kehilangan devisa. “Kalau terus direcoki, investor industri kertas bisa memindahkan pabrik ke Vietnam, Myanmar, China, atau negara lain. Mereka tidak rugi. Ini sudah terjadi pada industri tekstil dan sepatu,” katanya.

Apalagi, tambah Rusli, pengelolaan HTI, termasuk yang berada di lahan gambut sebagai sumber bahan baku industri bubur kertas dan kertas kini semakin membaik. Terbukti, dengan bebasnya areal pengelolaan HTI dari kejadian kebakaran besar pada tahun 2016 hingga saat ini. “Pengelola HTI sudah berinvestasi besar untuk mencegah kebakaran lahan. Ini harus diapresiasi,” kata dia.

Sementara itu  pakar ilmu tanah dan sumber daya lahan Institut Pertanian Bogor (IPB) Dr Basuki Sumawinata menegaskan perusahaan HTI sejatinya mengelola  lahan gambutnya dengan baik. Saat ini pengelolaannya semain baik terlihat dari minimnya kasus kebakaran yang terjadi.

Salah satu penyebabnya adalah penguatan aspek sosial dalam pengelolaan lahan misalnya dengan pengembangan kerja sama dengan masyarakat tempatan terkait pencegahan kebakaran lahan. Hal ini terbukti efektif bisa menekan kebakaran hutan dan lahan gambut. “Kebakaran terjadi karena api merembet dari luar konsesi. Tidak ada perusahaan yang mau membakar konsesinya. Tidak masuk akal,” katanya.

Basuki menyayangkan, kampanye negatif dari kalangan LSM terus terjadi meski pengelolaan gambut semakin membaik. Dia mengingatkan, jika perusahaan akhirnya tutup akibat terus menerus diserang dengan kampanye negatif maka yang merugi adalah masyarakat. Sugiharto