Paviliun Indonesia Paparkan Strategi Pengurangan Emisi Karbon

0
286
Menteri LHK Siti Nurbaya (kanan) menjadi pembicara pada salah satu sesi diskusi di Paviliun Indonesia pada konferensi perubahan iklim ke 22.

Paviliun Indonesia pada konferensi perubahan iklim ke 23 di Bonn, Jerman, 6-7 November 2017 akan memaparkan dokumen niat kontribusi nasional (Nationally Determined Contributions/NDC) pengurangan emisi gas rumah kaca (GRK) dan strategi pencapaiannya.

Penangung jawab Paviliun Indonesia yang juga Staf Ahli Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan bidang Ekonomi Sumber Daya Alam Agus Justianto menuturkan, melalui pemaparan tersebut, publik Internasional secara luas bisa mengetahui NDC Indonesia dan cara mencapainya. “Akan tampil sektor-sektor utama yang menopang pencapaian NDC Indonesia,” katanya saat peluncuran Paviliun Indonesia di Jakarta, Rabu (16/8/2016).

Sekadar mengingatkan, Indonesia telah meratifikasi Persetujuan Paris, sebuah kepakatan global untuk menahan kenaikan suhu bumi kurang dari 2 derajat celcius dibandingkan masa pra industri. Sebagai bagian dari kesepakatan tersebut, setiap negara yang telah meratifikasi mencanangkan dokumen NDC. Dalam NDC-nya, Indonesia mencanangkan untuk mengurangi emisi GRK sebesar 29% pada tahun 2030 dengan upaya sendiri, atau bisa mencapai 41% dengan dukungan internasional.

Empat sektor utama menopang pencapaian NDC Indonesia adalah lahan (kehutanan dan pertanian), energi, limbah dan sampah, serta proses industri (IPPU). Sementara kontribusi masing-masing sektor adalah sektor kehutanan 17,2%, energi 11%, limbah dan sampah 0,38%, pertanian 0,32%, dan IPPU 0,1%.

Agus menuturkan, pencapaian NDC tersebut didukung oleh para pihak di Indonesia, baik pemerintah, pelaku usaha, maupun masyarakat. Oleh sebab itu, sesi diskusi di paviliun Indonesia akan menampilkan beragam pembicara. “Kami juga akan undang pembicara internasional. Mudah-mudahan bisa kembali mengundang Al Gore, seperti pada konferensi ke sebelumnya,” kata dia.

Sementara itu penasihat senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahjudi Wardojo berharap diskusi yang digelar di Paviliun Indonesia bisa menarik kehadiran negosiator dari negara lain. Hal ini diharapkan bisa memberi pemahaman kepada mereka soal kepentingan Indonesia. “Sehingga pada saat negosiasi di area konferensi akan lebih mudah,” katanya.

Wahjudi juga menyarankan, agar paviliun mengambil lokasi strategis sehingga lebih banyak pengunjung yang tertarik hadir untuk menghadiri berbagai diskusi yang digelar. Paviliun, katanya juga harus menampilkan berbagai kekayaan keanekaragaman hayati dan budaya Indonesia. Sugiharto