Karhutla Mampu Dikendalikan

0
49

Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tahun 2017 menurun tajam. Singapura dan negara lain pun memberi apresiasi. Prestasi ini diharapkan mampu terus dijaga, terutama menjelang dan saat perhelatan Asian Games 2018.

“Keroyokan massal” yang digerakkan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan akhirnya berbuah. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) besar yang membuat malu negeri ini tahun 2015, mampu dijinakkan dalam dua tahun terakhir. Setidaknya, kabut asap dari aktivitas land clearing dengan cara membakar serta kebakaran hutan — terutama lahan gambut — yang jadi langganan tiap tahun, tidak menjadi berita heboh tahun ini.

Keberhasilan pengendalian itu tergambar dari rekaman hotspot atau titik panas pantauan satelit. Contohnya pantauan satelit  NOAA. Pada periode 1 Januari-10 Oktober 2017, terdeteksi 2.359 hotspot di seluruh Indonesia. Titik-titik panas ini menurun dibandingkan periode yang sama tahun 2016 atau menurun 32,75%. Sementara pantauan satelit TERRA-AQUA (NASA), yang punya tingkat kepercayaan 80%, jumlah titik panas di seluruh Indonesia pada periode yang sama mencapai 1.719 titik atau turun nyaris separuhnya (48,17%) dibanding hotspot tahun lalu sebanyak 3,568 titik.

Direktur Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Kementerian LHK, Raffles B. Panjaitan mengungkapkan, pengendalian karhutla memang dilakukan dengan segala cara. “Salah satunya adalah pembentukan posko patroli terpadu di tingkat tapak, yaitu di desa-desa rawan karhutla,” kata Raffles, Selasa (10/10/2017).

Selain mengerahkan Manggala Agni, Kementerian LHK juga membentuk tim patroli terpadu yang menyertakan unsur TNI, Polri, LSM, BPBD, Masyarakat Peduli Api (MPA) dan pejabat pemerintahan sipil setempat. Tim patroli terpadu bergerak cepat untuk melakukan pengecekan lapangan jika ada indikasi karhutla. Tim juga melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat tentang bahaya dan pentingnya pengendalian karhutla.

Tak hanya operasi dari darat, pengendalian juga digempur melalui operasi udara oleh Satuan Tugas (Satgas) Udara. Satgas ini terdiri dari Kementerian LHK, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), TNI Angkatan Udara, dan Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT). Selama 2017, dukungan operasi udara melibatkan 26 unit pesawat untuk water bombing dan teknologi modifikasi cuaca (TMC). Pesawat yang digunakan Satgas Udara, yakni jenis Kamov kapasitas 5.000 liter, Sikorsky 61 dan MI kapasitas 4.000 liter, Bell kapasitas 3.000 liter dan Bolcow kapasitas 0,6 ton.

“Sejauh ini, Singapura, dan negara-negara ASEAN lain sangat mengapresiasi Indonesia,” kata Raffles, mengungkap hasil pertemuan negara-negara anggota (COP) AATHP ke-13 di Brunei Darusalam 12 September 2017. Apresiasi itu juga diberikan wakil rakyat di DPR. Ketua Komisi IV DPR, Edhy Prabowo meminta keberhasilan pengendalian karhutla harus dipertahankan. Apalagi, tahun depan Indonesia akan menyelenggarakan perhelatan besar Asian Games yang dilaksanakan saat musim kemarau. “Jangan sampai acara tersebut terganggu gara-gara kabut asap,” katanya. AI