Emisi GRK Diturunkan, Produktivitas Industri Tetap Tinggi

0
889

Sektor energi dan industri diharapkan menjadi salah satu penyumbang utama penurunan emisi gas rumah kaca (GRK) Indonesia. Ini adalah tantangan nyata mengingat pada saat yang sama tetap ada tuntutan untuk peningkatan produktivitas dan kinerja industri.

Demikian terungkap pada sesi beberapa diskusi panel yang digelar Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke 23 Fiji yang berlangsung di Bonn, Jerman, Jumat (17/11/2017).

Direktur Konservasi Energi Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) Ida Nuryatin Finahari menyatakan banyak potensi penurunan emisi di sektor industri, transportasi, maupun rumah tangga di Indonesia. Peluang penurunan konsumsi energi juga berarti pengurangan emisi ini bahkan sampai mencapai 30% dari penggunaan energi seluruh sektor. “Ini membutuhkan peran serta seluruh pihak, termasuk dan terutama sektor swasta,” katanya.

Untuk itu, industri diharapkan mengikuti standard Green Industry seperti sudah diatur pada UU No 3 tahun 2014.  Pengembangan dan perbaikan sistem melalui sistem Green Industry mutlak harus dilakukan di Indonesia.  Melalui sistem ini Indonesia bisa melakukan perbaikan industri dan penurunan emisi yang berkesinambungan.

Direktur Industri Logam dan Bahan Galian Non Logam, Kementerian Perindustrian Lintong Hutahean menambahkan bahwa Green Industry pada dasarnya adalah implementasi dari praktik unggul yang harus dilakukan secara berkelanjutan. Dia menyatakan, pemerintah memang selayaknya memberi ruang bagi industri swasta untuk melakukan inovasi dalam efisiensi dan pengurangan emisi, sedangkan tugas pemerintah lebih ke arah pembinaan dan pembuatan kebijakan.

Sementara itu, Asisten Deputi Pembiayaan dan Kerjasama Ekonomi Multilateral Kementerian Koordinator Perekonomian Edwin Manansang menjelaskan, untuk pembiayaan bagi industri yang ingin melakukan pemangkasan emisi GRK dan melakukan implementasi Green Industry, Indonesia telah mengembangkan skema pembiayaan alternatif yang bekerja sama Jepang, yaitu JCM (Joint Crediting Mechanism).  Implementasi JCM di Indonesia terbukti diminati swasta, dan saat ini total nilai investasi dari 29 proyek JCM yang sedang berjalan adalah lebih kurang 150 juta dolar Amerika.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Utama Semen Gresik PT. Semen Indonesia (Persero) Gatot Kustyadji meyatakan bahwa kesadaran industri untuk melakukan efisiensi energi dan pengurangan emisi adalah cukup tinggi.  Kendala utama dari implementasi pihak swasta adalah kurangnya kapasitas pengetahuan dan lemahnya pembiayaan.  Pihak swasta sangat membutuhkan model pembiayaan alternatif yang mampu untuk membantu mereka dalam melakukan implementasi pembangunan rendah karbon.

Meski begitu, Semen Indonesia telah berhasil melakukan beberapa upaya pengurangan emisi, antara lain adalah penggunaan bahan bakar biomassa dan pemanfaatan panas buang.  Dua lokasi pabrik yang berlokasi di Padang dan Tuban masing-masing berhasil melakukan pembangunan pembangkit listrik tenaga panas buang dengan masing-masing sebesar 8 MW dan 28,5 MW.  Dua pembangkit tersebut masing-masing menggunakan mekanisme berbasis pasar, yaitu Clean Development Mechanism (CDM) untuk Padang dan JCM untuk Tuban.

Berdasarkan pengalaman dari Semen Indonesia, bantuan subsidi dari JCM yang berjumlah lebih kurang 11 juta dolar Amerika, sangat berpengaruh di dalam kelayakan investasi proyek.  JCM diharapkan akan mampu untuk ditumbuhkembangkan sebagai pembiayaan alternatif di Indonesia.

Hal senada dinyatakan Direktur Produksi dan Enjinering PT. Toyota Motor Manifacturing Indonesia (TMMI) Nandi Julyanto.  Pembangunan sistem kogenerasi sebesar 8 MW kemudian mampu untuk meningkatkan efisiensi energi dari industri.  Sistem kogenerasi ini dapat menjadi contoh implementasi teknologi tinggi dengan mempergunakan mekanisme berbasis pasar, yaitu JCM. SUGIHARTO