Pemanfaatan Bambu Bisa Jadi Solusi Perubahan Iklim

0
45
Pembicara dan beberapa peserta berfoto bersama usai diskusi panel tentang pemanfaatan bambu di Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke 23 yang berlangsung di Bonn, Jerman

Pemanfaatan tanaman bambu di Indonesia bisa menjadi salah satu solusi dari pengendalian perubahan iklim. Pasalnya, tanaman bambu sangat efektif untuk merehabilitasi lahan terdegradasi, mampu menyerap dan menyimpan karbon, dan bisa diolah menjadi berbagai jenis produk berkualitas. Pemanfaatan bambu juga bisa memberi kesempatan bagi masyarakat untuk meningkatkan kesejahteraannya.

Demikian terungkap pada salah satu sesi diskusi panel di hari kedua penyelenggaraan Paviliun Indonesia pada Konferensi Perubahan Iklim (COP UNFCCC) ke-23 di Bonn, Jerman, Selasa (7/11/2017). Diskusi dipimpin oleh Penasihat Senior Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wahjudi Wardojo.

Pendiri Yayasan Bambu Lestari, Arief Rabik menyatakan, tanaman bambu bisa ditanam di berbagai kondisi lahan. Ini menjadikannya unggul jika dimanfaatkan untuk merehabilitasi hutan dan lahan. “Bambu adalah tanaman juara untuk memperbaiki kondisi lahan,” kata Arief.

Menurut Arief, satu rumpun tanaman bambu bisa menyimpan hingga 5.000 liter air, yang menjadikannya sangat baik sebagai tanaman pengatur tata air. Sementara 1 hektare tanaman bambu bisa menyerap 50 ton gas rumah kaca setara karbondioksida setiap tahunnya.

Produktivitas spesies bambu Indonesia juga lebih tinggi hingga 4 kali lipat jika dibandingkan dengan spesies  bambu dari Negara beriklim Subtropis tempered “Produktivitas bambu juga sangat tinggi mencapai 50 ton per hektare per tahun,” katanya.

Budidaya bambu pun tidak sulit dan bisa dilakukan oleh masyarakat. Sayangnya, nilai keekonomian bambu saat ini masih rendah. Padahal, kebutuhan industri akan bambu terus berkembang. Berbagai jenis produk berkualitas bisa dihasilkan dari tanaman bambu mulai dari serat tekstil hingga panel untuk keperluan konstruksi. “Jarak nilai keekonomian di masyarakat dan industri ini yang perlu dipangkas,” kata Arief.

Dia mengungkapkan, saat ini pihaknya sedang menggenjot pengembangan 1.000 Desa Bambu di seluruh Indonesia yang juga didukung Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) .  Nantinya, setiap desa akan menanam sedikitnya 70.000 bibit bambu seluas 2.000 hektare atau setara 35 rumpun/hektare.

Menurut Arief, pihaknya akan melakukan pembinaan bagi masyarakat untuk melakukan budidaya tanaman bambu dan pengolahan bambu hingga setengah jadi.  Ini bisa meningkatkan pendapatan masyarakat dari 40 dolar AS/ton menjadi 200 dolar AS/ton.  “Masyarakat lebih mudah mengolah bambu ketimbang kayu yang ukurannya besar-besar,” katanya.

Untuk mendukung pengembangan budidaya bambu, peneliti Badan Litbang dan Inovasi KLHK Desi Ekawati menyatakan saat ini pihaknya bersama Organisasi Kayu Tropis Internasional (ITTO) sedang mengembangkan teknik pembibitan bambu. Berdasarkan teknik yang dikembangkan, bibit bambu ditanam setelah terbentuk rumpun yang terdiri dari beberapa tunas bambu.

“Dengan Spartan seedling, rumpun bambu sudah mulai bisa dipanen secara selektif setelah 2-3 tahun. Padahal kalau penanaman konvensional yang hanya satu bibit, butuh 8-9 tahun,” katanya.

Potensi besar pemanfaatan bambu juga ditegaskan Arjan Van Der Vegte, Manajer Riset dan Pengembangan  MOSO, sebuah perusahaan pengolah bambu terintegrasi asal Belanda. Menurut Arjan, pihaknya sudah memproses bambu menjadi produk flooring dan berbagai produk konstruksi.

Dia menyatakan siap mendukung pengembangan 1.000 desa bambu dan berharap tanaman bambu bisa menjadi bagian dari strategi pembangunan nasional Indonesia. SUGIHARTO